Lokasi
Pendiri & Penerus
Statistik Web
  • 23430Total visitors:
  • 46Visitors today:
  • 73Visitors yesterday:
  • 663Visitors last week:
  • 1437Visitors per month:
  • 88Visitors per day:
  • 0Visitors currently online:

Bersahabat dengan Hujan

Malam itu hujan, sementara jarak tanggerang – Jakarta masih teramat jauh. Sempat saya menunggu sejenak dan berharap hujan mau berlalu dan membiarkan saya pergi. Tapi ternyata hujan memilih bersahabat dan menemani perjalanan saya malam itu.Tidak nyaman memang, tapi mau bagaimana lagi. Karena pada akhirnya saya dan sepeda motor saya harus rela memberi tumpangan kepada hujan sampai ke jakarta. Selama dalam perjalanan hati saya bertanya, apakah hikmah yang saya bisa petik dari perjalanan ini?

entahlah,,, yang jelas udara Jakarta malam itu, lebih sejuk dari sebelum hujan itu datang.

Dan ketika saya berhenti di sebuah lampu merah. Saya mencoba sejenak memandangi wajah beberapa pengguna jalan(pengendara motor). Dan saya melihat, mata mereka tampak berair, wajah mereka terlihat basah, dan sesekali mereka terlihat seolah seperti orang yang tengah mengusap wajahnya dari kesedihan. Ya, mereka tampak seperti orang yang bersedih. Walaupun sebenarnya mereka tak benar-benar bersedih. Karena seperti juga mereka, terkadang saya juga melakukan hal yang sama, dan itu saya lakukan bukan karena saya bersedih, tapi karena terpaan hujan malam itu memang menggagu pandangan mata. Artinya, hujan yang datang malam itu tidak pernah benar-benar bermaksud mengundang susah dan sedih kami. Tapi justru menutupi kesusahan dan kesedihan kami.

Sehingga terkadang saya jadi berfikir, mungkinkah hujan yang turun malam itu adalah juga gambaran tentang hujan yang turun saat-saat ini. Dimana hujan hari ini seolah telah banyak membuat kita menjadi susah karena panjangnya. Dan membuat kita bersedih karena dampak  musibah yang katanya di sebabkan oleh ulahnya(hujan). Padahal sebenarnya, justru hujanlah yang akan dan hendak menutupi kesedihan kita yang sebenarnya(di akhirat nanti). Benarkah??

Saudaraku,

Entah berapa kalimat upatan yang telah kita lontarkan ketika kita tengah berbicara tentang hujan? Mungkin banyak, dan akan sangat teramat banyak ketika kita mencoba membahasnya disini. Tapi pernahkah kita tau, tentang kalimat apa yang Allah sampaikan ketika Dia berbicara tentang hujan? Kalau memang belum, maka marilah kita sama-sama mendengarkannya,

“Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran” (QS. Al-A’raf : 57)

Ternyata, Allah benar-benar memuliakan hujan, dan telah memberik kepercayaan penuh kepadanya untuk menyampaikan rahmat kepada seluruh makhluk-Nya. tapi Kenapa harus kepada hujan?, Karena Allah hendak memastikan, bahwa tak ada sejengkal tanah dan satupun makhluk yang luput dari Rahmat-Nya. Kalau saja Allah SWT menggiring air dari laut ke darat dengan mengalir di permukaan bumi, tentu tidak terjadi siraman yang meluas. Selain itu, pasti akan merusak banyak bagian bumi. Oleh karena itu, Allah SWT menaikkannya ke angkasa dengan kelembutan dan kekuasaan-Nya, lalu diturunkan-Nya lagi ke permukaan bumi dengan penuh hikmah. Dan adakah kita manusia bisa merekomendasikan cara yang terbaik kepada Allah selain pengiriman air ini melalui hujan??

bisakah kah kita menjawabnya? Dan kalaupun kita bisa menjawabnya, maka pasti kita akan menjawabnya dengan jawaban “tidak bisa”. Karena memang hujan adalah cara terbaiknya. Sehingga adalah wajar, jika dikatakan bahwa ia datang membawa rahmat dan persahabatan, sebenarnya. Walaupun terkadang kita masih enggan untuk mengakuinya, bahkan untuk sekedar mencoba bersikap ramah dan bersahabat ketika ia datang. Dan kalaupun ada, mungkin hanya anak-anak dan kodok saja yang bisa melakukan itu. Karena bagi mereka hujan adalah kebahagiaan, hujan adalah kehidupan.

Dan yang lebih parah lagi, ternyata kita tidak sekedar menolak persahabatan hujan. Tapi kita justru malah memakinya. Kita benci dia ketika kita tak bisa menepati janji karena kedatangannya, kita maki dia ketika pakaian kita tak kunjung kering. Kita cela dia ketika motor yang baru kita cuci harus kembali kotor karena kehadirannya. Di Jakarta, hujan yang hanya sekian jam, bisa membuat jutaan orang mengumpat, lantaran jalan-jalan protokol tiba-tiba banyak tergenang air dan menimbulkan macet yang luarbiasa. Apalagi jika hujan kemudian bermurah hati menumpahkan airnya selama beberapa jam, bisa-bisa Jakarta terenggut karena banjir akan datang. Dan itu tentu sangat merepotkan dan menyebalkan.

 Ya, kita tidak mau di salahkan atas semua keburukan yang terjadi. Bahkan untuk sebuah bencana banjir bandang di wasior, seseorang pemimpin lebih memilih mengkambing hitamkan cuaca yang buruk(hujan) ketimbang kelalaiannya dalam menjaga hutan dari penebangan hutan yang berlebihan.

Padahal apa salahnya hujan??bukankah ia turun memang sesuai dengan kadarnya??

“Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).”(QS. Az-Zukhruf : 11)

Tapi kenapa ia disalahkan sebegai penyebab matinya sebuah negeri yang hidup??kenapa??

Dan kalaupun memang yang terlihat hujan adalah penyebabnya. Maka tidaklah lantas pantas bagi kita menyalahkan hujan, karena Allah swt berfirman,

“Dan Kami hujani mereka dengan hujan (batu) maka amat jeleklah hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu. Sesunguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat bukti-bukti yang nyata. Dan adalah kebanyakan mereka tidak beriman.”( QS. Asy Syu’araa’ : 173)

Ya, karena hujan datang bukan sebagai penghancur. Tapi sebagai peringatan bagi kita yang mungkin lalai. Dan kalaupun ada yang pantas di salahkan maka itu adalah diri kita sendiri.

“Telah tampak kerusakan di darat dan dilaut disebabkan perbuatan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS Ar Rum : 41)

Saudaraku,

walaupun hujan hari ini memang tak seramah dulu. tapi tetap saja ia datang dengan menawarkan kita persahabatan dan berjuta kebaikan. seperti juga seorang sahabat yang mengingatkan kita dari kesalahan, maka seperti itu juga hujan. Ia telah mengingatkan kita dari kesalahan dengan segala pesan-pesanya.

Sadarkah kita, bahwa hujan punya pesan yang tidak pernah kita perhatikan? Hujan selalu berpesan, apakah kita sudah mencintai alam seperti kita mencintai diri kita sendiri? Saat banjir dan macet, seringkali kita manyalahkan hujan itu sendiri, padahal jujur saja, apa yang salah dengan hujan?  Kita yang membuat alam tidak seimbang lagi. Kita yang membuat alam “marah” dengan segala tetek bengek dalih pembangunan.

Sadarkah kita, alam sering menyentil kita dengan cara-cara yang sederhana. Tetesan air hujan, sebenarnya sapaan untuk kita tetap mencintai alam dengan wajar. Hujan bukanlah bencana yang membuat kita harus meradang dan mencaci. Karena Hujan hanya hendak mengajarkan kita untuk kembali mencintai alam.

Dan tidak hanya itu, ternyata hujan juga mengajarkan untuk mencintai Allah. mungkin tentang apa dan siapa yang lebih pantas kita ingat ketika kita tengah makan dan minum, atau tentang apa dan siapa yang lebih pantas kita ucapkan terimakasih dan syukur atasnya. Sehingga kitapun akhirnya tak bisa berkata apa-apa ketika Allah bertanya kepada kita,

”Maka, terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang

menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? Kalau Kami kehendaki

niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur?” (QS Al-Waqiah [56]: 68-70)

saudaraku,

kalau hari-hari ini hujan terlalu sering menyambangi kita. itu tak berarti hujan hendak merepotkan kita. tapi justru hendak membahagiakan kita. mungkin karena hujan tau, bahwa kita punya banyak keinginan yang belum kita capai, dan kita juga banyaknya dosa yang belum terampuni. Karena irama rintik-rintiknya adalah senandung amin yang bisa menghantarkan doa-doa kita bisa sampai ke langit. Karena berdoa ketika hadirnya, adalah juga berdoa di antara saat-saat ketika Allah mengijabah doa-doa hamba-Nya.

Dari Sahl bin a’ad Radhiyallahu ‘anhu bahawasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda.
” Dua doa yang tidak pernah ditolak ; doa ketika waktu adzan dan doa ketika waktu hujan”. (Mustadrak Hakim dan dishahihkan oleh Adz-Dzahabi 2/113-114. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ No. 3078).Imam An-Nawawi berkata bahawa penyebab doa pada waktu hujan tidak ditolak atau jarang ditolak ialah karena pada saat itu sedang turun rahmat khususnya curahan hujan pertama di awal musim. (Fathul Qadir 3/340).

Saudaraku

Begitulah hujan ini di hadirkan kepada kita dengan penuh kebaikan dan keberkahan. Agar disyukuri ketika datangnya dan dirindukan ketika tiadanya.  Sehingga itulah kenapa dalam islam ada istilah shalat minta hujan(shalat istisqa) yang juga menjadi sebentuk kerinduan kita akan hujan. Dan bukan sekedar kerinduan kita akan rintik-rintik dan kesejukannya. Tapi juga kerinduan kita akan saat dimana ketika ia menasehati kita, dan di saat ketika Allah mengijabah doa-doa kita. bahkan untuk doa-doa permohonan ampun atas dosa kita yang memang sangat banyak. Sehingga benarlah, jika pada akhirnya hujan dihadirkan bukan hendak membuat kita sedih, tapi justru untuk menutupi kesedihan kita di hari nanti. Mudah-mudahan….

Wallahu a’lam bisshawab. By: Chairil

Copyright Pesantren di Tasikmalaya : PESANTREN KHZ MUSTHAFA SUKAMANAH.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five − two =