Lokasi
Pendiri & Penerus
Statistik Web
  • 23430Total visitors:
  • 46Visitors today:
  • 73Visitors yesterday:
  • 663Visitors last week:
  • 1437Visitors per month:
  • 88Visitors per day:
  • 0Visitors currently online:

Bila tiba saatnya kita menghadap Allah

kalau kebahagian hidup bagi seseorang itu ada pada harta yang banyak. Maka, lelaki itu adalah orang yang paling berbahagia, sebab ternyata ia adalah orang terkaya di negerinya setelah sang raja. Dan sekiranya kebahagian hidup itu ada pada istri yang cantik lagi baik. maka lelaki itu adalah juga orang paling berbahagia, sebab istrinya adalah wanita terbaik dan tercantik di negerinya. Dan seandainya kebahagian hidup ada pada anak-anak yang lucu dan pintar. Maka sekali lagi, lelaki itu adalah orang yang paling berbahagia, sebab dari istrinya yang cantik itu lahirlah anak-anak yang lucu juga pintar.

begitulah kehidupan seorang lelaki setengah setengah baya yang hidup dengan segala alasan kebahagiaan hidup yang dimilikinya. Dan karena lengkapnya semua alasan kebahagiaan itu, seolah tak ada sedikitpun ruang yang di sisakan untuk sebuah alasan yang dapat membuatnya bersedih.

Hingga satu saat, ketika lelaki itu tengah asyik bercengkrama dengan anak-anak dan istrinya di rumah megahnya, datanglah tiga orang utusan dari kerajaan dengan membawa pesan raja yang hendak di sampaikan kepadanya. Dan yang sangat mencengangkan lelaki itu, bahwa ternyata utusan sang raja bermaksud menjemputnya ke kerajaan untuk pelaksanaan eksekusi hukuman mati yang akan di jatuhi padanya besok pagi. Dan ketika di Tanya tentang apa alasannya, para utusan itu menjawab, bahwa tak ada alasan yang jelas atas vonis hukuman mati yang di jatuhkan kepadanya. Yang jelas, besok pagi dia harus siap menjalani eksekusi mati !!

Saudaraku,

Bisakah kita membayangkan bagaimana suasana hati lelaki itu? Adakah harta kekayaannya itu tetap bisa membuatnya bahagia? Dan apakah senyuman istri cantiknya itu mampu merenggut kesedihannya? Dan adakah canda anak-anaknya ketika itu mampu mengajaknya tertawa? Dan apakah mungkin ia bisa tidur nyenyak menghabisi malam terakhirnya itu?

Cobalah kita jawab!! Lalu simpanlah baik-baik jawaban itu dalam benak masing-masing kita. dan kembalilah bertanya, lantas apakah artinya harta yang selama ini kita menumpukannya?, dan apalah juga artinya jabatan yang selama ini kita bangga-banggakan jika pada akhirnya itu tak pernah bisa membuat kita menjadi bahagia ketika memang telah tiba saat bagi kita harus berjumpa dengan-Nya?

Saudaraku,

Begitulah kurang lebih Sebuah cerita yang pernah di ungkapkan oleh seorang ulama besar asal Damascus Syiria. DR. Said Ramadhan al-Buthi. Cerita yang mungkin bisa menjadi refleksi kita akan kematian yang mungkin telah kita lupakan. Sebuah cerita yang pada akhirnya harus menyudutkan kita dengan beberapa pertanyaan yang mungkin hanya bisa kita jawab dengan sebuah kesimpulan, bahwa kematian adalah sebuah alasan yang mampu menggeser semua alasan kebahagian lelaki itu(kekayaan, istri cantik dan anak-anak yang lucu) dan juga kebahagiaan kita semua. Sehingga benar jika pada akhirnya Rasululluh mengartikan bahwa kematian adalah “Pemutus kenikmatan”.  Seperti kita yang tengah merasakan nikmatnya sebuah makanan, tentu akan hilang ketika ia datang, atau seperti kebahagian kita di sebuah pesta meriah, itu juga akan terputus ketika ia datang. Dan seperti juga kebahagian lelaki itu bersama keluarganya mendadak hilang, ketika ia mendegar kabar akan kedatangannya. Ya, dia adalah kematian.

أكثروا ذكر هاذم اللذات فإنه ما ذكر في كثير إلا وقلله ولا في قليل إلا وكثره

Dan seperti juga lelaki itu, yang mendapat vonis mati dari sang raja dengan tanpa alasan. Maka, seperti itu pula sebenarnya kita. karena sesungguhnya kita semua telah di vonis mati oleh Allah, juga dengan tanpa alasan, sebagaimana firmanNYA,

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.” (QS. Al-Ankabut:57).

Dan yang membedakan kita dengan lelaki itu hanya ada pada ketidaktahuan kita tetang kapan waktu vonis itu di jatuhkan. Tapi walaupun begitu, tetap saja perlu kita ketahui bahwa pada akhirnya hari-hari yang kita jalani saat ini, adalah juga detik-detik dimana menanti eksekusi mati.

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”.(al-Jumu’ah:8)

Tahun lalu, bulan lalu atau kemarin, mungkin Allah telah menjatuhkan vonis matinya kepada salah seorang anggota keluarga kita, rekan kerja kita, atau sahabat terdekat kita. dan hari ini mungkin tinggal kita yang harus juga bersiap-siap menanti detik-detik itu.

Dan kalaupun Allah merahasiakan tetang waktu kematian itu, maka itu bukanlah semata-mata ujian dari Allah atas kita, tapi juga menjadi sebentuk kasih sayang-Nya yang Ia berikan kepada kita. karena Allah tak ingin kita menjadi jahat dan hidup di lingkungan penjahat, yaitu dimana kita dan mereka masih merasa bebas melakukan segala jenis kerusakan yang memang berangkat dari sebuah pengetahuan, bahwa kematian itu masih jauh dan kesempatan bertobat masih panjang.

Dan juga karena Allah ingin kita tetap bersemangat menjalani hidup dan tak ingin kita menjadi sedih, sesedih lelaki itu karena telah mengetahui waktu kematiannya.

Tapi terkadang, kita justru sering salah mengartikan kebaikan Allah ini (merahasiakan waktu kematian). Karena kita tak tahu, kita malah seola-olah tak mau tahu. Kebanyakan kita melihat kematian itu jauh dari diri kita. Asumsi yang menyatakan bahwa mereka yang mati pada saat sedang tidur atau karena kecelakaan itu merupakan orang lain, dan apa yang mereka alami tidak akan menimpa diri kita!. Ya, Semua kita berpikiran, bahwa belum saatnya kita mati, tapi kita selalu berpikir, bahwa selalu masih ada hari esok untuk kita hidup.

Padahal mungkin saja, orang yang meninggal dalam perjalanannya ke kampus atau terburu-buru untuk menghadiri rapat di kantornya juga berpikiran serupa seperti kita. Tidak pernah terpikirkan oleh mereka bahwa koran esok hari akan memberitakan kematian mereka. Sangat mungkin, selagi kita membaca artikel ini, kita berharap untuk tidak meninggal setelah ketika menyelesaikan membacanya atau bahkan menghibur kemungkinan tersebut terjadi. Mungkin kita merasa bahwa saat ini belum waktunya mati karena masih banyak hal-hal yang harus diselesaikan. Namun demikian, hal ini hanyalah alasan untuk menghindari kematian dan usaha-usaha seperti ini hanyalah hal yang sia-sia untuk menghindarinya.

قُلْ لَنْ يَنْفَعَكُمُ الْفِرَارُ إِنْ فَرَرْتُمْ مِنَ الْمَوْتِ أَوِ الْقَتْلِ وَإِذًا لَا تُمَتَّعُونَ إِلَّا قَلِيلًا

Katakanlah: “Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja.” (QS. Al-Ahzab:16)

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ

Dan walaupun “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An-Nisaa’: 78).

Saudaraku

Kalaupun pada akhirnya Rasulullah saw meminta kita untuk memperbanyak mengingat pemutus kenikmatan (yakni kematian). Maka itu bukanlah maksud Rasulullah saw hendak membuat kita jadi sedih dan merasa susah karenanya. Tapi itu karena Rasulullah sangat berharap besar kita bisa menjadi baik dan lebih baik dengan mengingatnya. Sebab dalam pandangan beliau saw, kematian itu adalah nasehat. Ya, nasehat yang mungkin bisa kembali menyegarkan ingatan kita, akan sebuah kenyataan dan keharusan yang mungkin kita sering lupakan. Seperti sebuah keharusan, bahwa harus ada kebahagiaan yang mesti kita ciptakan untuk hari nanti(akhirat), selain kebahagiaan yang kita usahakan hari ini(dunia). Dan juga tentang kenyataan, bahwa mesti ada istana istana yang kita bangun di sana, selain istana yang kita bangun di sini.

Saudaraku,

Bila tiba saatnya, kita menghadap Allah Yang Maha Perkasa. Hanya ada satu harap, semoga kita menjadi penghuni syurga. biarlah dunia ini jadi kenangan, juga langkah kaki yang terseok, di sela dosa dan pertaubatan. Amien…..

Wallahu ‘Alam Bisshawab. By: Chairil

Copyright Pesantren di Tasikmalaya : PESANTREN KHZ MUSTHAFA SUKAMANAH.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

8 + ten =