Lokasi
Pendiri & Penerus
Statistik Web
  • 13913Total visitors:
  • 33Visitors today:
  • 81Visitors yesterday:
  • 821Visitors last week:
  • 3102Visitors per month:
  • 113Visitors per day:
  • 1Visitors currently online:

Hanya Kita dan KeajaibanNYA

Entah, sudah berapa banyak air yang menetes dari mata kita karena sebuah kenyataan banwa kita menyerah pada keadaan?. Dan entah sudah berapa banyak kata-kata pasrah yang pernah kita simpulkan dalam bait-bait duka yang sempat tergantung di tiap jari-jari yang menengadah kelangit?

Ya, mungkin kita kerapkali dihadapkan oleh sebuah permasalahan yang tak pernah bisa kita rampungkan dengan baik. karena kita menyadari, bahwa hanya kita dan keajaiban Allah saja yang bisa menyelesaikan semua itu. Tapi di tengah kesadaran tentang butuhnya kita akan keajaiban Allah itu, kita justru tak pernah menyadari tentang bagaimana cara kita mengundang keajaiban Allah itu.  Dan kalaupun kita sudah mengetahuinya, hati kita kerapkali terlalaikan oleh sesuatu yang justru malah menjauhkan kita dengan keajaiban Allah.

Saudaraku,

Mungkin kita semua ingin mengetahui akan hal apa saja bisa menentukan jauh dan dekatnya kita dengan keajaiban Allah itu. Agar keajaiban itu bisa selalu mendekati kita, dan tak pernah menjauh menjauhi kita.

Dan ternyata, jauh sebelum kita mengingikan hal itu, ternyata rasulullah saw telah mencoba memenuhi semua ruang keinginan kita akan hal itu. Dan itu tergambar dalam sebuah cerita yang pernah beliau saw kisahkan dalam sebuah hadistnya;

Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra.

“Dari Rasulullah saw., beliau bersabda: Ketika tiga orang pemuda sedang berjalan, tiba-tiba turunlah hujan lalu mereka pun berlindung di dalam sebuah gua yang terdapat di perut gunung. Sekonyong-konyong jatuhlah sebuah batu besar dari atas gunung menutupi mulut gua yang akhirnya mengurung mereka. Kemudian sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain: Ingatlah amal saleh yang pernah kamu lakukan untuk Allah, lalu mohonlah kepada Allah dengan amal tersebut agar Allah berkenan menggeser batu besar itu. Lalu Salah seorang dari mereka berdoa: Ya Allah, sesungguhnya dahulu aku mempunyai kedua orang tua yang telah lanjut usia, seorang istri dan beberapa orang anak yang masih kecil di mana akulah yang memelihara mereka. Setelah aku mengandangkan hewan-hewan ternakku, aku segera memerah susunya dan memulai dengan kedua orang tuaku terdahulu untuk aku minumkan sebelum anak-anakku. Suatu hari aku terlalu jauh mencari kayu (bakar) sehingga tidak dapat kembali kecuali pada sore hari di saat aku menemui kedua orang tuaku sudah lelap tertidur. Aku pun segera memerah susu seperti biasa lalu membawa susu perahan tersebut. Aku berdiri di dekat kepala kedua orang tuaku karena tidak ingin membangunkan keduanya dari tidur namun aku pun tidak ingin meminumkan anak-anakku sebelum mereka berdua padahal mereka menjerit-jerit kelaparan di bawah telapak kakiku. Dan begitulah keadaanku bersama mereka sampai terbit fajar. Jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan itu untuk mengharap keridaan-Mu, maka bukalah sedikit celahan untuk kami agar kami dapat melihat langit. Lalu Allah menciptakan sebuah celahan sehingga mereka dapat melihat langit. Yang lainnya kemudian berdoa: Ya Allah, sesungguhnya dahulu aku pernah mempunyai saudara seorang puteri paman yang sangat aku cintai, seperti cintanya seorang lelaki terhadap seorang wanita. Aku memohon kepadanya untuk menyerahkan dirinya tetapi ia menolak kecuali kalau aku memberikannya seratus dinar. Aku pun bersusah payah sampai berhasillah aku mengumpulkan seratus dinar yang segera aku berikan kepadanya. Ketika aku telah berada di antara kedua kakinya (selangkangan) ia berkata: Wahai hamba Allah, takutlah kepada Allah dan janganlah kamu merenggut keperawanan kecuali dengan pernikahan yang sah terlebih dahulu. Seketika itu aku pun beranjak meninggalkannya. Jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan itu untuk mencari keridaan-Mu, maka ciptakanlah sebuah celahan lagi untuk kami. Kemudian Allah pun membuat sebuah celahan lagi untuk mereka. Yang lainnya berdoa: Ya Allah, sesungguhnya aku pernah mempekerjakan seorang pekerja dengan upah enam belas ritel beras (padi). Ketika ia sudah merampungkan pekerjaannya, ia berkata: Berikanlah upahku! Lalu aku pun menyerahkan upahnya yang sebesar enam belas ritel beras namun ia menolaknya. Kemudian aku terus menanami padinya itu sehingga aku dapat mengumpulkan beberapa ekor sapi berikut penggembalanya dari hasil padinya itu. Satu hari dia datang lagi kepadaku dan berkata: Takutlah kepada Allah dan janganlah kamu menzalimi hakku! Aku pun menjawab: Hampirilah sapi-sapi itu berikut penggembalanya lalu ambillah semuanya! Dia berkata: Takutlah kepada Allah dan janganlah kamu mengolok-olokku! Aku pun berkata lagi kepadanya: Sesungguhnya aku tidak mengolok-olokmu, ambillah sapi-sapi itu berikut penggembalanya! Lalu ia pun mengambilnya dan dibawa pergi. Jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan itu untuk mengharap keridaan-Mu, maka bukakanlah untuk kami sedikit celahan lagi yang tersisa. Akhirnya Allah membukakan celahan yang tersisa itu”.(HR. Bukhari & Muslim)

Saudaraku,

Begitulah rasulullah pernah berkisah akan sebuah cerita yang memang benar adanya. Ya, karena cerita tersebut memang benar benar  bersumber dari seorang manusia yang telah diakui kebenarannya(siddiq). Mungkin ini tampak berlebihan dan tak masuk akal, tapi memang begitulah yang namanya keajaiban, karena ia akan benar-benar bisa di katakan sebagai sebuah keajaiban ketika ia telah mampu melangkahi batas kemampuan akal kita dan melebihi batas kemampuan diri kita.

Lalu, bagaimanakah hikmah yang bisa kita ambil dari kisah di atas?

Pertama-tama, lihatlah bagaimana Rasulullah saw mengawali cerita tersebut. Berawal dari hujan yang telah menghantar tiga orang pemuda pada sebuah goa, lalu seperti juga hujan, tiba-tiba jatuhlah sebuah batu besar yang juga datang menghantarkan mereka untuk bertemu dengan musibah. Ya, sebuah musibah yang hanya bisa terselesaikan oleh sebuah keajaiban Tuhan. Karena memang ketika itu, kemampuan akal dan diri mereka terlalu lemah jika harus di paksakan menggeser sebuah sebuah batu besar yang telah menutupi mulut goa.

Maka apakah yang mereka lakukan untuk mengundang keajaiban Allah itu? yang mereka lakukan adalah berdoa dengan disertai penyebutan Amal shaleh yang pernah mereka lakukan. Atau mungkin kita lebih mengenali hal ini sebagai tawassul melalui perantara amal shalih. Setelah itu, apakah yang terjadi? Ternyata, melalui perantara amal shalih itu, keajaiban Allah benar-benar telah menolong mereka. Sehingga wajar jika pada akhir cerita ini rasulullah menutupnya dengan sebuah ucapan, “Akhirnya Allah membukakan celahan yang tersisa itu“.(HR. Bukhari &Muslim)

Dan kalaupun memang itu adalah jawaban atau juga cara yang pernah rasulullah saw berikan kepada kita untuk mengundang keajaiban-Nya. tapi mengapa keajaiban itu tak juga kunjung datang ketika kita merasa lemah atas setiap keadaan yang telah memaksa kita menyerah pada keadaan. Padahal kita sudah melakukan apa yang memang beliau ajarkan??

Saudaraku,

Kalaupun memang kita telah melakukan apa yang pernah rasulullah saw ajarkan, tapi pertolongan dan keajaiban-Nya tak juga kunjung datang. Maka sesuatu hal yang mungkin kita tidak perhatikan. Dan sesuatu hal itu adalah “keihlasan”. Betapapun tidak, kalau kita mencoba melihat ucapan ketiga pemuda tersebut, maka kita akan mendapati pada ketiganya itu, mereka semua menutup doanya dengan simpul, “Jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan itu untuk mencari keridaan-Mu, maka ciptakanlah sebuah celahan lagi untuk kami”  itu artinya, bahwa hanya amal shalih karena Allah saja yang bisa mendatangkan pertolongan dan keajaiban-Nya.

Saudaraku,

Hidup hari memang kian sulit, bahkan terkadang kadar kesulitannya tak pernah bisa kita pecahkan. Mungkin sesulit kita mencari rizki yang baik, lingkungan yang baik dan pemimpin yang baik. tapi serumit apapun kesulitan itu, tentu bukanlah apa-apa ketika pertolongan dan keajaiban-Nya ada bersama kita. Dan kalau memang benar demikian, maka tak ada cara lain kecuali dengan kembali memperbanyak amal shalih dengan diawali niat yang ikhlas. Maka, jika hari ini kita mengenali diri kita sebagai seorang guru, pelajar, pedagang atau apapun itu, maka awalilah semua itu dengan niat semata-mata mencari ridha Allah. terlebih ketika kita hendak mengawali ativitas ibadah kita, maka tatalah kembali niat kita yang mungkin sempat rusak karena selain-Nya.  karena hanya dengan itu, kita boleh berharap bisa keluar dari setiap permasalahan yang hanya kita dan keajaiban-Nya saja yang bisa menyelesaikannya.

Wallahu ‘alam Bisshawab. By: Chairil

Copyright Pesantren di Tasikmalaya : PESANTREN KHZ MUSTHAFA SUKAMANAH.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three × 3 =