Lokasi
Pendiri & Penerus
Statistik Web
  • 23430Total visitors:
  • 46Visitors today:
  • 73Visitors yesterday:
  • 663Visitors last week:
  • 1437Visitors per month:
  • 88Visitors per day:
  • 1Visitors currently online:

Investasi pahala dimesjid

Masjid berasal dari bahasa Arab sajada yang berarti tempat sujud atau tempat menyembah Allah Swt. Bumi ini adalah masjid bagi kaum muslimin. Setiap muslim boleh melakukan shalat di wilayah manapun di bumi ini; terkecuali di atas kuburan, di tempat yang bernajis, dan di tempat-tempat yang menurut ukuran syariat Islam tidak sesuai untuk dijadikan tempat shalat. Sebagaimana Nabi bersabda

حَدَّ ثَنَا أَبُوْ بَكْرِبْنُ أَبِيْ شَيْبَةَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ عَنْ أَبِيْ مَالِكِ الأَشْجَعِيِّ عَنْ رِبْعِيٍّ عَنْ حُدَيْفَةَ قَالَ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :وَجُعِلَتْ لَنَا الأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدًا ( رواه مسلم)

Dan telah dijadikan bagi kita bumi ini seluruhnya sebagai tempat sujud….” (HR. Muslim)

Firman Allah SWT.

لاتقم فيه ابدا لمسجد اسس على التقوى من اول يوم احق ان تقوم فيه, فيه رجال يحبون ان يتطهروا والله يحب المطهرين.

Artinya: “Janganlah kamu bersembahyang dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu bersembahyang di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih”.

Masjid tidak bisa dilepaskan dari masalah shalat. Berdasarkan sabda Nabi saw. di atas, setiap orang bisa melakukan shalat di mana saja di rumah, di kebun, di jalan, di kendaraan, dan di tempat lainnya. Selain itu, masjid merupakan tempat orang berkumpul dan melakukan shalat secara berjamaah dengan tujuan meningkatkan solidaritas dan silaturrahmi dikalangan kaum muslimin. Di masjid pulalah tempat terbaik untuk melangsungkan shalat jum’at. Fakta sejarah membuktikan bahwa sesampainya Nabi Muhammad saw. di sebuah desa kecil bernama Quba dalam perjalanan hijrahnya ke Madinah salah satu upaya untuk mempersatukan umat Islam adalah dengan cara membangun atau mendirikan masjid. Salah satu tujuannya yaitu untuk digunakan sebagai tempat ibadah, terutama shalat lima waktu. Ibadah shalat bukan saja penting bagi hubungan manusia dengan Tuhannya, tetapi juga memiliki implikasi sosial yang lebih luas bagi seorang Muslim. Dalam Islam, shalat dipandang sebagai tiang agama dan oleh sebab itulah ia menjadi salah satu elemen penting dalam rangkaian rukun Islam. Hal ini memberikan penekanan bahwa shalat merupakan ibadah ritual yang menghubungkan manusia secara langsung dengan al-Khalik, Sang Pencipta. Beragam argumentasi dan rasionalisasi terhadap pentingnya ibadah shalat telah banyak dilontarkan oleh beberapa kalangan pemikir Muslim dan non-Muslim. Beberapa diantara mereka berpendapat bahwa salah satu ibadah yang paling berkarakter bagi umat Islam ialah shalat. Meski pada awalnya tujuan pendirian masjid sangat sempit, namun fungsi masjid kemudian semakin berkembang dari masa ke masa, dari periode ke periode selanjutnya. Selain untuk dijadikan sebagai tempat ibadah shalat, masjid juga kemudian digunakan sebagai sentral kegiatan sosial, seperti pendidikan, seni budaya, hukum, politik, ekonomi, dan sebagainya. Hal ini menandakan bahwa apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw. pada periode awal Islam tidak terlepas dari fungsi masjid sebagai pembentuk peradaban umat Islam dan oleh karena itulah, baik secara fungsional sebagai tempat ibadah, maupun secara eksistensial sebagai lembaga dan pranata sosial Islam, masjid dapat dipandang sebagai warisan kebudayaan Islam paling penting dan abadi di dunia. Dari bangunan yang bernama masjidlah kemudian bermunculan ribuan Universitas dan pusat-pusat kajian Islam yang padat dikunjungi oleh penduduk dari seluruh penjuru dunia. Mereka menggunakan masjid sebagai tempat belajar, berwisata, dan kepentingan lain, seperti penelitian yang ingin menyingkap keajaiban dan peristiwa-peristiwa historis dibalik lembaga yang bernama masjid (Bachrun Rifa’i, 2005: 5). Sebut saja Universitas al-Azhar, sebagai pusat studi Islam tertua dan ternama di dunia, yang terletak di sentral kota Kairo Mesir dahulunya adalah sebuah masjid. Di Indonesia sendiri, masjid utama merupakan simbol kemerdekaan dan perjuangan umat, sehingga masjid terbesar, bahkan terbesar di Asia, diberi nama Istiqlal, yang dalam bahasa Arab artinya kemerdekaan atau masjid kemerdekaan. Selain bangunan-bangunan ini, masih banyak lagi bangunan masjid yang memiliki nilai historis yang bisa ditemui baik di negeri yang mayoritas Muslim maupun di negeri-negeri Eropa dan Amerika. Dalam kerangka inilah masjid dipandang sebagai simbol peradaban Islam masa lampau. Terlepas dari ukuran, lokasi dan kemegahannya, masjid dalam Islam menduduki posisi yang sangat penting. Hal ini dimungkinkan karena masjid memiliki relasi sosio-teologis dengan ajaran Islam itu sendiri. Keduanya tidak dapat dipisahkan, karena baik secara historis maupun secara fungsional memiliki kaitan-kaitan langsung dengan perkembangan ajaran Islam. Oleh sebab itu, menurut Isma’il (1998: 185-186), masjid bukan lagi milik manusia secara individu maupun komunal, melainkan bangunan yang diperuntukkan bagi Allah. Hakikat pembangunan sebuah masjid memang diperuntukkan bagi Allah Swt. sehingga timbul ungkapan Baitullah (rumah Allah). Hal ini sekaligus mengindikasikan bahwa setiap Muslim di dunia memiliki hak yang sama untuk menikmati fungsi masjid dan sama-sama berhak memanfaatkan fasilitasnya dan sekaligus memiliki tanggung jawab moral dan teologis untuk menjaga dan memeliharanya dengan baik. Tak ada izin atau pentahbisan untuk memanfaatkannya. Tidak seorang Muslim pun dipungut biaya dan tidak pula ada langganan. Tidak ada kuota, batas, atau larangan bagi umat Islam mana pun untuk memasuki masjid. Berdasarkan penjelasan di atas, jelaslah bahwa fungsi masjid adalah mengemban amanat ganda, yakni fungsi sebagai tempat ibadah dan fungsi sosial. Dalam mengemban fungsinya sebagai tempat ibadah, masjid masih berperan sebagai agen litical atau pusat peribadatan umat Islam, seperti shalat dan lain-lain. Hal ini membuktikan bahwa sebelum efektifnya masjid sebagaimana mestinya, yakni sebagai pusat kegiatan umat Islam dalam berbagai bidang, termasuk di dalamnya kegiatan pendidikan. Oleh karena itu, tentang kegiatan pendidikan yang diselenggarakan oleh kaum muslimin di dalam masjid pada zaman sekarang ini kondisinya sangat memprihatinkan. Fenomena yang terjadi dikalangan masyarakat yang notabenenya adalah Islam hanya menggunakan masjid sebagai tempat ibadah. Itu juga tidak diselenggarakan secara maksimal. Terkadang masjid penuh jika ada momen-momen tertentu seperti pelaksanaan shalat jum’at, shalat ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha. Sedangkan untuk shalat lima waktu saja, barisan yang terlihat dalam masjid paling banyak hanya tiga baris. Apalagi jika masjid ditinjau sebagai sarana pendidikan, sebagian kaum Muslim mungkin ada yang berangggapan, bahwa masjid itu berfungsi hanya sebagai tempat shalat. Sedangkan untuk tempat yang berfungsi sebagai sarana pendidikan, mereka lebih memilih sekolah-sekolah, tempat-tempat kursus, atau tempat-tempat lain yang sekiranya bisa memungkinkan proses pendidikan bisa dilaksanakan. Anggapan sebagian kaum muslimin itu sangat kontradiksi dengan realita sejarah perkembangan Islam pada masa awal kemunculannya. Rasulullah saw. sebagai guru besar pendidikan para sahabat dan kaum muslimin pada waktu itu, memfokuskan semua kegiatan di dalam masjid. Terutama kegiatan pendidikan yang berkaitan dengan pengetahuan yang terkandung dalam Islam. Karena latar belakang pendidikan tentang Islam para sahabat pada masa itu sangat minim, sehingga Rasul menggunakan strategi yang memungkinkan pentransferan ilmu pendidikan tentang Islam di dalam masjid. Sedangkan zaman sekarang kaum muslimin hanya mempergunakan masjid sebagai salah satu sarana pendidikan pada even-even tertentu saja dan itupun masih jarang terjadi. Bahkan pendidikan yang disampaikan hanya pendidikan yang memiliki hubungan dengan Islam saja. Sedangkan untuk pendidikan umum mereka sama sekali tidak pernah menyampaikannya di dalam masjid, mereka beropini bahwa pendidikan umum yang disampaikan di dalam masjid kurang tepat dan akan percuma saja. Melakukan ibadah dan bereneka ragam kegiatan positif di mesjid dengan niat ibadah, tentunya beda dengan kegiatan yang dilaksanakan diluar mesjid. Dan itu akan menjadi tabungan masa depan (investasi) yang tak terhingga. Dan jangan sekali-kali melakukan kegiatan yang terlarang baik ngobrol dan perbuatan yang sia-sia yang jauh dari nilai taqwa dan ibadah karena hanya akan menjadikan itu sebagai investasi dosa dan sengsara. Dari uraian diatas merupakan salah satu upaya dan ajakan untuk memuliakan mesid sebagai baitullah dari sisi kebersihan dan keindahannya, tidak berkata dan berbuat yang jauh dari nilai taqwa dan ibadah serta tidak hanya berlomba mendirikan mesjid dan menghiasnya dengan ukiran dan ttitisan marmer atau emas mengkilap, namun ada yang perlu mendapatkan perhatian kaum muslimin terhadap baitullah yaitu meramaikannya dengan nuansa dzikir dan fakir. * Penyusun adalah salah seorang santri Pesantren Di Tasikmalaya: Pondok Pesantren KH Zainal Musthafa Sukamanah Created By LPIS “IQRO“

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

6 + two =