Lokasi
Pendiri & Penerus
Statistik Web
  • 13913Total visitors:
  • 33Visitors today:
  • 81Visitors yesterday:
  • 821Visitors last week:
  • 3102Visitors per month:
  • 113Visitors per day:
  • 1Visitors currently online:

Jurumiah Bab I Al-Kalam

Bahasa Arab adalah bahasa Islam, bahasa Al-Quran, bahasa sunnah dan bahasa ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, maka mempelajari bahasa Arab tujuannya adalah untuk dapat memahami Al-Quran dan As-Sunnah serta kitab-kitab pengetahuan yang berbahasa Arab secara baik dan benar.
Mempelajari bahasa Arab tidaklah sama dengan mempelajari bahasa-bahasa lain seperti bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan sebagainya. Di dalam mempelajarinya, memerlukan berbagai macam ilmu, diantaranya adalah ilmu nahwu. Dan ilmu nahwu inilah yang akan kita kita pelajari saat ini.
Untuk memahami apa yang dimaksud dengan ilmu nahwu, mari kita perhatikan perbandingan antara bahasa Arab dengan bahasa Indonesia pada contoh berikut ini:
هَذَا كِتَا بٌ                                    :   ” Ini sebuah buku  ”
اِشْتَرَيْتُ كِتَا بًا                               :   “Saya membeli sebuah buku”
وَجَدْتُ العُلُومَ مِنْ كِتَا بٍ                   :    “Saya mendapatkan pengetahuan dari sebuah buku”
Kata “buku” dalam bahasa Indonesia pada tiga buah contoh di atas, tidak mengalami perubahan bunyi akhir kalimat sedikitpun, sedangkan kata “Kitab” dalam bahasa Arab pada ketiga contoh di atas, bunyi akhir kalimatnya berbeda-beda, ada yang berbunyi “bun”, “ban” dan “bin”. Hal itu terjadi karena ada perbedaan hukum I’rab pada kata kitab tersebut.
Dalam bahasa Arab, perubahan-perubahan seperti di atas dipelajari dalam ilmu nahwu. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa ilmu nahwu itu adalah:

عِلْمٌ تُُبْحَثُ فيهِ أَحْوَالُ الكَلِمَاتِ العَرَبِيَّةِ مِن حَيْثُ الأِعْرَبُ و البِنَاءُ وَ التّركِيبُ

“Ilmu yang dipelajari di dalamnya, keadaan-keadaan kalimat-kalimat bahasa Arab ditinjau dari segi I’rab, Bina dan Susunan kalimatnya”.
Dan diktat yang singkat ini mencoba untuk menjabarkan ilmu nahwu yang termuat dalam salah satu kitab klasik yaitu Al-Ajurumiyah karangan Abu Muhammad bin Muhammad bin Daud As-Shanhaji (674-723 H) yang dikenal dengan nama Ibnu Ajrum.
BAB I
{الكلام}
A.    Ta’rif Kalam
الكَلامُ هُو اللَّفْظُ المُرَكَّبُ المُفِيدُ بِالوَضْعِ
“Kalam itu adalah lafadz yang telah tersusun dan dapat memberikan pengertian sempurna yang disengaja serta sesuai dengan aturan yang ditetapkan oleh tata bahasa Arab”
Contoh:
Kitab itu penting                                :   الكِتَابُ مُهِمٌّ
Pemandangan itu indah                   : المَنْظَرُ جَمِيْلٌ
Saya diam di kamar                           :   أَسْكُنُ في الغُرْفَةِ
B.     Syarat-Syarat Kalam
1.      اللَّفظ  yaitu:
الصَّوْت المُشْتَمِلُ على بَعْضِ الحُرُوفِ الهِجَائيةِ
“suara yang mencakup kepada sebagian huruf Hijaiyah”
Contoh: مَدْرَسَةٌ, يَنْصُرُ, مِنْ
Yang dimaksud lafadz yang dijadikan syarat kalam di sini adalah lafadz yang musta’mal (مستعمل) artinya biasa dipergunakan dan mempunyai makna, bukan lafadz muhmal  (مهمل) yaitu yang tidak biasa dipergunakan karena tidak mempunyai makna seperti kata هَحِهُ, دَيزُ .
2.      المُرَكَّبُ, yaitu:
مَا تَرَكَّبَ مِنْ كَلِمَتَيْنِ فــاكْثَرَ
“sesuatu yang tersusun dari dua buah kata atau lebih”. Susunan dua kata atau lebih itu baik dhohir maupun muqaddar. Contoh yang dhohir:
·القُرْأَنُ كِتَابُ اللّهِ       : Al-Quran itu kitab Allah
· الكَسَلُ مُضِرٌّ                    : Malas itu memadaratkan
Contoh yang muqaddar
اُنْصُرْ, اَضْرِبُ
3.    المُفِيدُ yaitu:
ما أَفَادَ فائِدَةً يَحْسُنُ السُّكُوتُ مِن المُتَكَلِّمِ وَ السَّامِعِ عَلَيها
“Sesuatu yang memberikan faidah dengan sempurna yaitu sekiranya mutakallim (pembicara) dan pendengar diam (tidak memberikan tanggapan)”.
Mutakallim diam dalam arti dia tidak perlu menerangkan lagi ungkapan yang telah dikemukakan olehnya, dan pendengar diam dalam arti dia tidak perlu menanyakan lagi redaksi yang ia dengar dari mutakallim. Contoh:
الأُسْتَاذَ يَقُوْمُ امَامَ الطُّلَّابِ    : Pak guru berdiri di depan murid-murid.
Sekarang coba perhatikan contoh di bawah ini!
اِنْ اَشْتَرِ دَرَّجَةً :              Jika saya membeli sepeda,
· اذَا اجْتَهَدْتَ فى دِرَسَتِكَ:        Jika kamu bersungguh-sungguh dalam belajarmu,
Kedua contoh di atas tidak bisa disebut kalam walaupun sudah tersusun dari beberapa kata, sebab masih belum memberikan pengertian yang sempurna (المُفِيد).
4.    الوَضْعُ
Ada dua kemungkinan mengenai makna yang terkandung dari kata الوَضْع tersebut. Yang pertama adalah القَصْدُ  artinya bahwa lafadz yang tersusun serta memberikan pengertian sempurna itu “dimaksudkan” oleh mutakallim, ada juga yang mengartikan bahwa الوَضْع itu maksudnya adalah الوَضْعُ العَرَبِيُّ  artinya bahwa lafadz yang sudah tersusun dan memberikan pengertian sempurna tersebut sudah sesuai dengan wadlo (peletakan makna) yang telah ditetapkan oleh orang Arab.
C.    Satuan Kalam
Satuan untuk membentuk susunan kalam itu adalah kalimat. Kalimat (kata dalam bahasa Indonesia) adalah:
الكَلِمَةَ هِي لَفْضٌ مُفْرَدٌ دَلَّ على مَعْنًى
“Lafadz mufrod yang menunjukan pada suatu makna”.
Materi kalimat itu terkadang terdiri dari satu huruf, dua huruf atau lebih sampai tujuh huruf. Contoh:
Satu huruf       : ب  dalam  بِسْمِ الّله
Dua huruf        : لا, هل, من, فى
iga huruf       :  على, نعم, زيد, كلب
Empat huruf    : اكرم, كتاب, مسجد
Lima huruf      : مدرسة, اشترك, مجلّةُ
Enam huruf     : سبّورة, قارورة, استخرج
Tujuh huruf     : استخراج, استمراد
kalimat yang membentuk susunan kalam itu ada tiga, yaitu:
Kalimat isim (الأسم), ta’rifnya adalah:
كُلُّ كَلِمَةٍ تَدُلَّ على داتٍ اَو صِفَةٍ اَو غَيْرِهِمَا ممَّا لا يَقَارِنَهُ زَمانٌ
“Setiap kata/kalimat yang menunjukan kepada dzat, sifat atau yang lainnya dari sesuatu yang tidak diikuti dengan waktu”.
Contoh kata benda/dzat:
دَفْتَرٌ     :  Buku tulis                   ضَرْبٌ     : Pukulan
ماءٌ       :  Air                            رِيْحٌ       : Angin
Contoh kata sifat:
طوِيلٌ      :  Panjang                    بَلِيدُ        : Bodoh
قَصيرٌ     :  Pendek                     ناصرٌ     : Penolong
2.   Kalimat fiil (الفعل) ,
كُلُّ كَلِمَةٍ تَدُلَّ على حُصُولِ حَدَثٍ فى زَمنٍ خَاصٍ
Setiap kalimat yang menunjukan kepada terjadinya suatu peristiwa pada waktu tertentu.
Makna حَدَث yang dikandung oleh kalimat fiil itu bisa berarti:
1.     Kejadian.         Contoh: جَمُلَ     : Telah indah               حَسُنَ     : Telah baik
2.     ekePrjaan.        Contoh: يَقْرَأُ     : Sedang membaca      يَكْتُبُ      : Sedang membaca
3.     Perintah. Contoh: اذهب            : pergilah!                    انْصُرْ

Copyright Pesantren di Tasikmalaya : PESANTREN KHZ MUSTHAFA SUKAMANAH.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 × 5 =