Lokasi
Pendiri & Penerus
Statistik Web
  • 62072Total visitors:
  • 12Visitors today:
  • 67Visitors yesterday:
  • 541Visitors last week:
  • 858Visitors per month:
  • 76Visitors per day:
  • 0Visitors currently online:

Keberkahan itu ……….

keberkahan itu, gak Kayak iklan Salonpas, “pas keseleo, pas ada yang mijitin, pas butuh salonpas, eh pas salonpasnya datang”.
keberkahan juga gak kayak iklan undian berhadiah umroh, “siapa yang menang hadiah, maka dialah yang mendapatkan keberkahan”

karena keberkahan itu bukan berarti kemudahan atau kemewahann atas setiap apa yang kita terima.
tapi keberkahan itu adalah “Bertambahnya kebaikan” atau “Berkumpulnya begitu banyak Kebaikan”
dan perbedaan memahami “kebaikan” inilah yang kerap menjadikan kita salah dalam memahami keberkahan.
dan umumnya kita memahami kebaikan itu adalah, “segala seuatu yang sesuai selera pribadi dan yang enak dihati”
Kalo kebaikan bagi kita adalah pada jalan hidup yang mudah, usaha yang maju, harta yang berebih, kesehatan yang terjaga, pasangan yang setia dan anak yang nurut,

Maka apakah yang para nabi yang menempuh jalan hidup sulit, nabi isa yang miskin, nabi ya’qub yang sakit-sakitan, nabi luth yang meiliki istri yang tak setia, dan nabi nuh yang memiliki anak yang durhaka, adalah orang-orang yang dijauhkan dari kebaikan atau keberkahan ??
Sementara kita tau mereka adalah para kekasih Allah..

Dan apakah abdullah bin salul (tokoh munafiq) yang memilik anak yang sholeh(sahabat rasul), firaun yang memiliki istri sholehah (asyiah) dan Qorun yang memiliki harta melimpah adalah orang-orang yang diberkahi ??
Sementara kita tau dia adalah musuh-musuh Allah..
Kalau memang demikian, lantas apa yang dimaksud dengan makna kebaikan disini?

Dalam sebuah obrolan santai guru saya Ust.H. Firman Zamzami Muhammad Lc. pernah mencoba menjelas masalah ini, beliau bilang,

“keberkahan adalah bertambah atau berkumpulnya banyak kebaikan, dan kebaikan disini bermakna, segala sesuatu yang berdampak baik untuk kehidupan akhirat atau berdampak pada semakin dekatnya kita dengan Allah”
Dan kalo kita liat uraian beliau tersebut tentang makna keberkahan, maka adalah benar jika para nabi adalah orang-orang yang diberkahi, meskipun kehidupan mereka jauh dari segala kemudahan tapi kehidupan mereka penuh dengan pendekatan kepada Allah.

Karena pada akhirnya yang namanya kemudahan dan kesulitan, kebahagian dan kesedihan juga kekayaan dan kemiskinan adalah ujian dari Allah, bukan tolak ukur kemuliaan dan kehinaan seseorang dihadapan Allah. Dan kita sering salah dalam memahami ini, sehinggal wajar dalam Al-quran Allah swt pun menyindir pola pikir kita ini,

“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”.Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”.(QS. Al-Fajr : 15-16)

Lalu di kelanjutan ayat tersebut Allah swt membantah dan menyatakan bahwa pola pikir kita yang seperti itu adalah salah,
”Sekali-kali tidak (demikian) sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin,”( QS. Al-Fajr : 17-18)
Yang artinya, “apalah artinya kekayaan jika pada akhirnya itu tidak memberikan efek manfaat buat orang lain (seperti anak yatim dan orang miskin) dan kebaikan buat diri(pahala)?apakah ini keberkahan atau kemuliaan yang kita maksud?” maka jawaban “sekali-kali tidak demikian”. Artinya, sungguh salah kalo kita berfikir seperti itu.

Jadi, kalo kita termasuk pengusaha sukses, yang hidup dalam kemawahan dan kemudahan, maka jangan lantas mengklaim bahwa kita adalah orang yang diberkahi. Tapi cobalah tengok ke dalam idiri dan bertanya, “adakah kesuksesan kita benar-benar bermanfaat buat orang lain dam benar-benar mendekatkan diri kita dengan Allah ?
Karena jika semua itu hanya menjadikan kita sombong dan lupa diri. Maka sungguh kita bukan orang yang diberkahi.

Tapi kalo kita termasuk pengusaha yang sering bangkrut, istri atau suami yang sering di dzolimi pasangannya atau orang tua yang sering di durhakai anaknya. maka jangan berkecil hati dan menganggap bahwa hidup kita tak Allah berkahi, Karena kalau dengan semua ujian tersebut justru meningkatkan kepasrahan dan kedekatan kita kepada Allah, maka sungguh kitalah orang yang diberkahi, sebenarnya.

Wa Allahu ‘alam bisshawab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *