Lokasi
Pendiri & Penerus
Statistik Web
  • 17328Total visitors:
  • 26Visitors today:
  • 131Visitors yesterday:
  • 1017Visitors last week:
  • 2601Visitors per month:
  • 142Visitors per day:
  • 1Visitors currently online:

Ketika Kebencian Berbuah Kebaikan

Dalam sebuah kesempatan, Guru saya pernah berkata kepada saya,

“Terkadang kita membenci seseorang karena perbuatan buruknya, tapi ternyata alasan dan cara kita membencinya telah menggambarkan bahwa kita tak lebih baik darinya (orang yg kita benci)”
ya, begitulah terkadang kita sering terjatuh di lubang keburukan karena sebuah ritual kebencian yang sebenarnya bisa mengantarkan kita pada kebaikan, ketika kita mengetahui caranya.

Yang PERTAMA,
Tanya pada diri, “Atas dasar apa, dan alasan apa kita membencinya?”
Kalau hanya atas dasar ikut-ikutan, pengamatan sesaat dan sepihak dengan tanpa ada tabayyun (cek dan ricek) yang mendalam. atau dasar kedengkian semata. maka sungguh kita tak lebih baik dari orang yang kita benci.

Dan kalau atas dasar ketersinggungan, maka ketahuilah bahwa ketersinggungan kita itu timbul karena kita menilai diri kita lebih dari kenyataan, merasa lebih pintar, berjasa, baik, tampan, dan merasa lebih kaya. Dan juga karena kita selalu berharap pujian. Dan apakah perasaan semacam ini bisa menegaskan bahwa kita lebih baik dari mereka?

Maka jawaban yang tepat dari pertanyaan pertama adalah,

Bencilah orang lain karena Allah
Dari Abu Umamah RA, ia berkata, Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan mencegah karena Allah, maka sungguh berarti dia telah menyempurnakan iman”. [HR. Abu Dawud – At-Targhib wat Tarhib, Juz IV halaman 24]

maksudnya, Bencilah karena Allah memang memerintahkan kita untuk membencinya.
Dan tidaklah Allah memerintah kita untuk membenci sesuatu kecuali sesuatu tersebut bisa menjauhkan kita kepada Allah atau yang menghantarkan kita ke nerakaNya. Baik hal itu berupa kekufuran, kedzoliman maupun kemungkaran.
Sehingga itulah kenapa dalam Firma-Nya Allah SWT tegaskan kepada kita untuk membenci syaithan dan menganggapnya sebagai musuh

“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala” (QS. Fatir [35] : 6)

Dan yang perlu kita garis bawahi didalam ayat ini bahwasanya yang namanya syaithan, bukanlah sejenis makhluk, artinya Allah tidak pernah menciptakan makhluk yang bernama syaithan, akan tetapi syaithan merupakan titel atau gelar yang disematkan kepada makhluk.

Karena syaitan ini secara bahasa berasal dari kata Yang memiliki makna ” Ba’uda” yang artinya ”jauh” Jadi syaithan itu memiliki makna, segala sesuatu yang bisa menjauhkan kita dari Allah
Sehingga itulah kenapa di dalam Al-Quran Surah An-nas diajarkan untuk meminta perlindungan kepada Allah dari syaithan ”yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia” (QS. Surah An-Nas 5-6)

Yang maksudnya, Syaithan jin menjauhkan kita kepada allah dari dalam diri kita lewat bisikan hati. Sedangkan syaithan manusia menjauhkan kita kepada allah dari luar dengan perkataan perkataannya

Dan intinya, tidaklah Allah memerintahkan kita untuk membeci seseorang karena dirinya, tapi karena sifat syaithan yang melekat pada dirinya. Baik itu kemaksiatannya, kedzolimannya maupun kemungkaran yang dilakukannya.
Dan setelah kita mendapatkan jawaban terbaik dari pertanyaan pertama,

maka pertanyaan KEDUAnya adalah,
“Bagaimana cara membenci yang baik?”

Sekiranya telah jelas bahwa kebencian kita itu adalah terhadap kedzaliman, kemungkaran atau semisalnya, maka cara yang Rasul saw ajarkan adalah,
“Barangsiapa dari kamu melihat kemungkaran, hendaklah mengubah dengan tangannya, jika tidak mampu, maka dengan lisannya dan jika tidak mampu, maka dengan hatinya dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.” (Di Riwayatkan oleh Muslim: dalam kitab Al-Iman, hadith no.49)

Artinya kita diajarkan bahwa betapun kebencian kita terhadap seseorang, itu harus bisa berdampak baik bagi orang tersebut atau paling tidak, orang sekitar tidak jadi tertular dari dampak buruk orang tersebut.
Dan ini bukan sekedar pelampiasan kepuasan dengan menggunjingnya, atau memakinya. Karena pada kesimpulan akhir hadits tersebut dikatakan, jika kita tidak mampu mengubah dengan tangan (tindakan) dan lisan (nasihat) maka mencegah dengan hati. Maksudnya, Pencegahan dengan hati dapat berupa doa atau perasaan berontak dan keinginan yang kuat untuk bertindak tetapi tidak mampu, paling tidak membenci perbuatan mungkar tersebut.

Ya, kebencian yang cukup kita simpan dalam hati, bukan ungkapan kebencian yang bernakna menggunjing atau memaki.
Karena bukankah setiap kita tau bahwa larangan menggunjing (Ghibah) tidak terbatas kepada tidak adanya keburukan orang yang kita gunjing, tapi larangan tersebut juga terhadap orang terbukti keburukannya. Tapi tetaplah berbuat baik kepada orang tersebut, karena kita sama-sama tau bahwa perintah berbuat baik itu tidak terkait hanya kepada orang-orang yang telah berbuat baik pada kita, tapi justru menjadi keutamaan ketika kita bisa bersikap baik terhadap orang yang telah berbuat buruk terhadap kita.

Sulit memang, tapi menang beginilah cara yang di ajarkan islam. Bahwa setiap keadaan itu selalu bisa bermuara di tanah kebaikan. Dengan dua syarat ; kita tahu ilmunya, dan mau menjalaninya.
Maka setalah kita membaca tulisan ini, mulailah kita bertanya kepada diri kita ketika kita hendak membenci sahabat, saudara, atau tetangga kita.

“Atas dasar apa, dan alasan apa kita membencinya?”
“Bagaimana cara kita membenci ?”

Sekiranya kita dapat dengan baik menjawab semua pertanyaan tersebut, maka sesungguhnya itu adalah saat ketika kebencian kita berbuah kebaikan

Wallahu a’lam bisshawaf

Copyright Pesantren di Tasikmalaya : PESANTREN KHZ MUSTHAFA SUKAMANAH.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four × 2 =