Lokasi
Pendiri & Penerus
Statistik Web
  • 13913Total visitors:
  • 33Visitors today:
  • 81Visitors yesterday:
  • 821Visitors last week:
  • 3102Visitors per month:
  • 113Visitors per day:
  • 2Visitors currently online:

Tunangan/Khitbah

Meminang (خطبة) artinya permintaan seorang laki-laki kepada perempuan orang lain atau seorang perempuan yang ada di bawah kekuasaan seseorang untuk dikawini, sebagai pendahuluan kawin. Meminang adalah kebiasaan orang Arab yang diteruskan oleh Islam. Meminang di lakukan sebelum terjadinya akad nikah dan setelah dipilih dengan baik.
Meminang adalah pendahuluan perkawinan, tetapi bukan akad nikah. Kadang-kadang orang yang meminang memberikan mahar, seluruhnya atau sebahagian, ada juga yang memberikan hadiah-hadiah sebagai penguat ikatan, untuk memperkokoh hubungan baru antara peminang dengan pinangannya. Tetapi harus diingat bahwa semua perkara adalah wewenang Allah. Dalam masalah ini para Ulama berbeda pendapat :
1.   Madzhab HANAFI : Berpendapat bahwa barang-barang yang diberikan oleh pihak laki-laki kepada perempuan pinangannya dapat diminta kembali apabila barangnya masih utuh.
2.   Madzhab MALIKI : Berpendapat bahwa apabila pembatalan itu datang dari pihak calon suami maka barang-barang yang pernah ia berikan tidak boleh ia minta kembali, baik pemberian itu masih utuh atau berubah
3.   Madzhab SYAFI’I : Berpendapat bahwa hadiah harus dikembalikan kepada peminang baik pemberian itu masih utuh ataupun sudah berubah baik pembatalan itu datang dari pihak laki-laki maupun perempuan.
Meminang harus memenuhi dua syarat, yaitu :
1.   Tidak didahului oleh pinangan laki-laki secara syar’I, berdasarkan sabda Rasulullah SAW

المُوْمِنُ أَخُوالْمُؤْمِنِ فَلاَ يَحِلُّ لَهُ أَنْ يَبْتَاعَ عَلَى بَيْعِ أَخِيْهِ وَلاَيَخطبُ عَلَى خِطْبَةِ أَحِيْهِ حَتَّى يَذَرَ(متفق عليه

Artinya : “Seorang mukmin adalah saudara orang mukmin, maka tidak halal baginya untuk membeli (menawar) pembelian saudaranya dan tidak boleh meminang pinangan saudaranya, sampai saudaranya membatalkan pinangan itu”. (Muttafaqun ‘Alaihi)
2.     Yang dipinang tidak terhalang oleh halangan syar’I, yang menyebabkan tidak dapat dinikah, larangan-larangan itu antara lain :
a.    Wanita bersuami
b.    Wanita yang haram dinikahi untuk waktu tertentu atau selamanya.
c.    Wanita dalam iddah, baik iddah ditinggal mati suami atau karena thalak, baik thalak raj’i maupun ba’in. Apabila wanita masih dalam iddah raj’i ia haram dipinang karena dia masih menjadi hak suaminya. Suaminya masih berhak merujuknya sewaktu-waktu. Apabila wanita itu sedang iddah karena thalak ba’in haram dipinang dengan terang-terangan karena suami masih berhak merujuknya dengan akad baru, tetapi boleh dipinang dengan sindiran atau kinayah. Apabila wanita itu sedang iddah karena di tinggal mati suaminya, ia boleh dipinang dengan sindiran dimasa iddahnya, sebab hubungannya dengan suami yang mati sudah putus.
Sebab diharamkannya meminang dengan terang-terangan di sini adalah untuk menjaga perasaan istri yang sedang berkabung, untuk menjaga perasaan keluarga dari ahli waris. Allah berfirman :

ولاجناح عليكم فيماعرضتمبه من خطبة النساءاواكننتم في انفسكم,علم الله انكم ستذكرونهن ولكن لاتواعدوهن سراالاان تقولواقولا معروفا,ولاتعزمواعقدةالنكاح حتى يبلغ الكتاب اجله واعلمواان الله يعلم ما في انفسكم فاذروه,والمواان الله غفورحليم ( البقرة: 235 )

Artinya : “Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma’ruf. dan janganlah kamu ber’azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis ‘iddahnya. dan Ketahuilah bahwasannya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; Maka takutlah kepada-Nya, dan Ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun”.
Hukum-hukum yang bertalian dalam meminang :
Laki-laki yang meminang boleh melihat wanita pinangannya, untuk melihat kecantikannya, agar ia lebih merangsangnya untuk kawin, atau mengetahui cacatnya yang akan mendorong untuk mencari pilihan lain.

Copyright Pesantren di Tasikmalaya : PESANTREN KHZ MUSTHAFA SUKAMANAH.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eighteen − 6 =