Lokasi
Pendiri & Penerus
Statistik Web
  • 23430Total visitors:
  • 46Visitors today:
  • 73Visitors yesterday:
  • 663Visitors last week:
  • 1437Visitors per month:
  • 88Visitors per day:
  • 1Visitors currently online:

Momentum Tahun Baru Hijriayah

Tahun baru hijriayah momentum menggali kesejukan persatuan dalam ikatan kasih sayang persaudaraan. (Sebuah renungan dan refleksi tahun baru hijriyah yang bergema, syarat dengan makna perjuangan, persatuan dan persaudaraan ) Secara etimologis, hijrah berarti migrasi atau perpindahan, baik fisik maupun mental. Nabi Muhammad SAW dan para pengikutnya bermigrasi dari Mekah ke Madinah pada tahun 622 M saat tekanan dan pelecehan penguasa suku Quraisy kian tak tertanggungkan. Hijrah Nabi dan pengikutnya, dengan demikian, bukan semata perpindahan fisik-geografis, tapi juga peralihan suasana psikologis yang membawa perubahan politik, revolusi ideologi dan pembaharuan spiritual. Dengan kata lain, kepergian fisik mereka dari Mekah ke Madinah adalah upaya menemukan ruang hidup baru yang lebih aman bagi keyakinan mereka. Seperti para pendiri bangsa Amerika yang lari dari Eropa, sebab utama hijrah ini adalah untuk meraih hak mereka atas kebebasan beragama. Dalam dunia tribalistik Arab masa itu, migrasi demikian adalah perjalanan one way ticket yang beresiko amat besar. Setiap individu terikat pada klannya secara hampir mutlak. Tempat kelahiran dan etnik secara penuh mendefinisikan identitas, bahkan eksistensi seseorang. Karena itu, meninggalkan kampung halaman dan suku berarti menanggalkan identitas, bahkan meninggalkan dunia yang menopang keberadaan dirinya. Hijrah dan Tahun baru Islam, karenanya, bisa dilihat sebagai terobosan sosial, politik dan spiritual. Ia merupakan awal pembentukan tata-sosial baru yang ditopang bukan oleh ikatan darah, suku dan budaya, tapi oleh komitmen tauhid, kesederajatan sosial dan kontrak politik di antara para pendukungnya, seperti tertuang dalam Piagam Madinah. Apakah dalam memperingati tahun baru hijriah 1 Muharram 1431 H, akan terjadi yang sama atau bahkan lebih buruk dari tahun sebelumnya? Di sini penulis mengajak dan berpesan untuk diri penulis serta umat Islam khsususnya, kita sangat memahami sebutan kata Hijriyah di mana di dalamnya mengandung makna pesan yakni perubahan agar tidak pernah surut kebelakang pada perjalanan waktu demi waktu dalam kehidupan ini, perubahan ini dilukiskan oleh tauladan umat Islam yaitu diri Rasulullah Saw, dimana beliau dalam kehidupanya selalu ada peningkatan dan perbaikan dalam memimpin umat ini sehingga gelar demi gelar pun didapat baik di dunia maupun disisi Allah SWT, dan juga pesan tolong menolong dan kasih sayang yang di lukiskan oleh sahabat Muhajirin dan anshar. Kita juga menyadari mengapa sistem kalender Hijriyah dasar permulaannya tidak ditujukan pada kelahiran Rasulullah SAW, akan tetapi diambil permulaanya dari peristiwa hijrah beliau dari Mekah ke Yatsrib, dimana Rasululullah SAW di sana, membangun basis gerakan tata kehidupan yang holistic dimana meliputi bidang sosial, budaya, politik, ekonomi juga militer serta bidang lainnya sehingga menjadi kekuatan yang legitimate dimata rakyat dan juga Allah SWT. Kita juga mengetahui bahwa kata “hijrah” adalah kata sebutan dari tahaajur dimana dalam bahasa Arab”kata kerja” hajara – yahjuru, maknanya: meninggalkan dan berpaling dari. Dan kata “al-hijrah” mempunyai arti keluar dari suatu wilayah di bumi ke wilayah lain, namun kita sebagai muslim harusnya bertanya kepada diri sendiri sudahkan kita berhijrah sesuai pesan yang diamanahkan dalam hijrah itu sendiri! Bila kita melihat dari sisi agama maka perbaikan dan peningkatan kualitas pengabdian kepada Allah SWT dan Rasul-Nya harus mampu berbuat dengan peningkatan secara terus menerus. Apabila stagnan atau status quo maka kita tergolong orang-orang yang merugi, begitu juga dalam membangun sistem di bidang lainnya, perbaikan dan peningkatan harus menjadikan tolak ukur untuk mengevaluasi kualitas kegiatan yang akan dilakukan. Tahun baru hijriyah diyakini banyak pemikir Islam sebagai tahun kebangkitan Islam, bahkan menjadi titik balik kemenangan perjuangan Rasulullah saw dan para shahabat. Setiap tahun kita memperingati tahun baru Islam ini, namun sudahkah secara substansial ada pencerahan di tubuh ummat dengan berlalunya tahun baru demi tahun baru? Sudahkah semangat energizing berhasil kita serap dari momentum yang menjadi titik balik kemenangan tadi…?. Masih banyak permasalahan ummat yang belum tuntas kita upayakan solusinya, termasuk masalah persatuan ummat dan pemunculan sosok-sosok pemimpin yang berkualitas. Perpecahan selalu membawa malapetaka dan kerusakan besar di tengah-tengah ummat. demikian banyak bukti sejarah memberi pelajaran! Perpecahan, perselisihan di perang Uhud misalnya, mengakibatkan gagalnya kemenangan yang semula sudah diraih. Rasulullah saw. tembus di pipinya karena dilempari dengan pecahan besi, yang ketika dicabut menyebabkan dua gigi beliau patah. Bahkan ketika para sahabat memapah beliau ke tempat yang lebih tinggi, Rasulullah saw terperosok ke dalam lubang jebakan yang berisi senjata tajam, sehingga paha beliau sobek dan jatuh pingsan karena begitu banyaknya darah yang keluar. Tengoklah perang Shiffin yang disebabkan oleh konflik antara Ali dan Mu’awiyah. Perang yang menelan korban 80.000 muslimin. Sebuah tragedi kelam dalam sejarah Islam. Belum paham jugakah kita bagaimana pedihnya perpecahan? Di Iraq, ratusan orang menjadi korban ketika kaum Syi’ah menyerang kaum Sunniy. Selanjutnya kaum Sunniy menyerang kaum Syi’ah sehingga meninggal pula sejumlah orang, dan seterusnya tak berkesudahan. Padahal sunniy bukanlah musuh syi’ah dan syi’ah bukanlah musuh sunniy! Musuh mereka adalah sang penjajah Amerika. Benarlah kata Imam Ali dalam pesannya, “Kebenaran yang tidak terorganisir akan dapat dikalahkan oleh kebathilan yang terorganisir”. Semoga dengan kedatangan tahun baru Islam 1431H, kita dapat memahami mendalami arti penting perubahan, persatuan dan kesatuan, indahnya tolong menolong dan kasih sayang serta menemukan solusi untuk memecahkan berbagai persoalan bangsa, Negara dan meninggikan agama Allah (I’lau kalimatillah), untuk itu marilah kita tingkatkan ketaqwaan kepada Alllah subhaanahu wa Ta’ala dengan bersama-sama memelihara kearipan, persatuan dan meningkatkan kesungguhan kita membangun bangsa dan negara sehingga tercipta satu kehidupan yang adil dan makmur, Baldatun Thoyyibatun wa Rubbun Ghafur. Sebuah negeri yang adil makmur dirhidoi serta diampuni Allah subhaanahu wa Ta’ala. * Penulis adalah salah seorang santri Pondok Pesantren KH Zaenal Musthafa Sukamanah.

By: Edi Bukhori

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 + eight =