Lokasi
Pendiri & Penerus
Statistik Web
  • 23430Total visitors:
  • 46Visitors today:
  • 73Visitors yesterday:
  • 663Visitors last week:
  • 1437Visitors per month:
  • 88Visitors per day:
  • 0Visitors currently online:

Pasrah

“Aku adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, aku tidak akan menentang perintah-Nya. Dan Allah tidak akan pernah menelantarkan diriku”

Hanya itu penjelasan yang bisa rasulullah sampaikan kepada para sahabat yang merasa tidak mengerti akan keputusan rasulullah saw yang menyapakati akan perjanjian damai dengan kafir quraisy (perjanjian hudaibiyah). Ya, Sebuah perjanjian damai yang menurut mereka hanya akan merugikan kaum muslimin. Sebuah perjanjian yang mengharuskan mereka pulang kembali, pulang ke madinah sebelum bisa memasuki baitul haram (Makkah), sebuah perjanjian yang dalam salah satu pointnya di sebutkan ” jika salah seorang kafir memeluk islam, dia harus dikembalikan kepada pihak Quraisy. Tapi apabila seorang muslim murtad dan kembali kafir, maka dia berhak mendapat perlindungan dari kaum kafir Quraisy”.

Adalah Rasulullah saw ketika itu pun tak bisa memahami apa maksud kemauan Allah sehingga memerintahkannya untuk menyepakati perjanjian damai itu. Tapi, sesulit apapun beliau memahami akan kemauan Tuhannya, ada satu hal yang sangat  beliau pahami dari Tuhannya, bahwa Dia tidak akan pernah menelantarkan dirinya, ketika beliau SAW mentaati perintah-Nya.

Dan ternyata benar saja, bahwa perjanjian damai itulah yang justru mengantarkan islam kepada kemenangan dan yang menghantarkan Rasulullah SAW dan umat islam bisa memasuki makkah dengan kebebasan dan mampu membebaskan baitul haram dari berhala-berhala dan pengaruhnya (Futhu Makkah). Betapapun tidak, karena dengan perjanjian damai itu, golongan yahudi di semenanjung arab tidak bisa lagi memanfaatkan perselisihan antara kaum muslimin dengan kafir Quraisy. Sehingga dengan itu pula umat islam bisa berkonsentrasi untuk menghancurkan duri-duri islam (yahudi), karena ketika itu orang-orang yahudi tidak pernah berhenti melakukan pernghianatan dan rekayasa terhadap islam.

Begitulah Allah, terkadang takdir-takdir-Nya sulit kita pahami. Tapi sesulit apapun kita memahaminya, Dia tidak pernah bermaksud jahat terhadap hamba-hambanya. Sesulit kita mencari rejeki diantara kais-kaisnya, mungkin Dia hendak mengajarkan kepada kita tentang betapa beratinya sesuatu yang justru orang menganggapnya tak bernilai. Dan kalau untuk hal yang tak bernilai saja kita telah dibuat-Nya bahagia, apatah lagi untuk hal-hal yang memang memiliki arti dan nilai.

Dan sesulit kita menerka tentang dimana keberadaan, bagaimana keadaan dan kapan waktu perjumpaan kita dengan pendamping hidup yang selama ini kita rindukan, mungkin Allah hendak mengajarkan tentang arti kerinduan seorang calon ibu yang menanti detik-detik kelahiran anak. Ya sebuah kerinduan yang tak di dahului oleh kebaikan sang anak tapi justru berakhir dengan pengorbanan dan penghormatan untuk sang ibu. Sehingga pada akhirnya, seperti juga ibu yang menganggap anak yang di nantinya adalah karunia, maka seperti itu pula kita menganggap pasangan yang kita nanti saat ini adalah juga karunia

Tapi entah kenapa kita masih saja menyangka bahwa Allah kejam ketika Dia menentukan satu takdir yang telah memaksa kita untuk menangis, satu ketetapan yang memaksa kita menjadi sendiri dan seolah tak punya arti? Kenapa? Masikah kita tidak mempercayainya bahwa Dialah Alloh,Tuhan yang Maha Pengasih? Tuhan Yang Maha Penyayang? DanTuhan Yang Maha Bijaksana atas setiap keputusan-Nya? dan apakah Firman-Nya tidak cukup meyakinkan kita bahwa dia maha pengasih, Maha Penyayang dan Maha Bijaksana, padahal Dia sudah kelapkali mengulang kata-kata itu (Ar-Rahman, Ar-Rahim dan Al-Hakim) di dalam Al-Qur’an-Nya?

Ataukah kita masih merasa bahwa rencana kita lebih baik dari rencana Allah? dan apakah kita belum bisa untuk sejenak bersabar menanti detik-detik saat Allah menyibak hikmah dalam takdir yang masih kita sulit memahaminya?

Dan masihkah kita merasa kecewa dan tidak percaya ketika Allah kembali mencoba meyakinkan kita melalui firman-Nya,

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”(Al-Baqarah : 216)

Mungkin kita bingung, bagaimana kita harus menjawab semua pertanyaan ini ? karena memang, pertanyaan ini seolah telah benar-benar telah menelanjangi kita pada sebuah kenyataan bahwa kita memang belum percaya dan belum benar-benar meyakini bahwa Dia Maha Pengasih, Maha Penyayang dan Maha Bijaksana. Dan seolah telah menyudutkan kita pada sebuah kenyataan bahwa kita masih buruk dan salah dalam menyangka terhadap Allah swt.

Sehingga adalah wajar jika pada akhirnya kita tidak pernah benar-benar bisa merampungkan semua cerita kesedihan dan ketidak mengertian kita ini menjadi  indah di akhir episodenya, sebagaimana nabi saw pernah merampungkan skenario kehidupan dan dakwahnya  dengan keindahan dan kemenangan. Kenapa?

karena perbedaan hasil akhir antara kita dengan beliau saw, itu terletak pada perbedaan kita dalam mengawalinya. Kalau kita mengawali itu semua dengan prasangka dan ucapan yang buruk, semetara nabi saw mengawali itu semua dengan prasangka dan ucapan, “…Dan Allah tidak akan pernah menelantarkan diriku”

Dan sehingga adalah benar jika sebelumnya Allah swt pernah berfirman, “Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka kepada Tuhanmu, Dia telah membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi.”(QS : Fushilat :22)

Entah, dengan kata-kata apa kita harus menyimpulkan tulisan ini. Karena sejujurnya, mungkin bingung dan juga malu, tentang apa yang mesti kita katakan lagi. Karena tulisan ini, seolah jadi boomerang atas sikap kita ketika menyikapi ketetapan-Nya yang sulit kita pahami. Karena terkadang kita masih merasa bersedih dan seolah tak bisa menerima  atas ketentuan-Nya ini. Walaupun air mata ini tak menetes, tapi air mata yang hanya mengembang di tepian kelopaknya tetap saja mengganggu pandangan, sehingga terkadang itu memaksa kita untuk mengusapnya.

Dan tak ada yang bisa saya lakukan kecuali kecuali harus menyerah dan ikut kemauan-Nya. seraya tetap belajar meyakini bahwa ketetapan-Nya adalah baik. karena Dia tetap Tuhan Yang Maha Baik, Tuhan Maha Pengasih dan Tuhan Maha Penyayang. Dan tak ada kata-kata yang bisa kita sampaikan setelah ini kecuali hanya sebuah doa,

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami… “ (Al-Baqarah : 286)

Wallahu A’lam Bisshawab

By: Chairil

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

9 + 7 =