Lokasi
Pendiri & Penerus
Statistik Web
  • 23572Total visitors:
  • 77Visitors today:
  • 111Visitors yesterday:
  • 701Visitors last week:
  • 1579Visitors per month:
  • 89Visitors per day:
  • 0Visitors currently online:

Pembantaian Pedang Bambu, Dikubur Hidup-Hidup

KISAH kepahlawanan KH Zainal Musthafa patut untuk diingat. Karena perjuangannya untuk memerdekakan Indonesia penuh dengan kesengsaraan, rasa sakit dan konspirasi. Tak terasa usia perjuangannya kini sudah sampai 72 tahun.
Cucu KH Zainal Musthafa Yusuf Hazim menceritakan KHZ Msuthafa lahir dari keluarga petani kecil pada tahun 1901 di Kampung Bageur Desa Cimerah Kecamatan Sukarame –dulu Kecamatan Singaparna. “KH Zainal Musthafa masih ada keturunan kerajaan Mataram Islam. Itu dibuktikan dengan peninggalan pedang Kerajaan Mataram yang disimpan saat ini,” jelasnya kepada Radar usai menghadiri Talk Show di studio Radar Tasikmalaya TV kemarin (26/2).
Sejak kecil, Musthafa sudah menimba ilmu agama di beberapa pesantren. Seperti Pondok Pesantren (Ponpes) Gunung Pari Kecamatan Sukarame, Ponpes Cilenga Kecamatan Leuwisari dan Ponpes Sukamiskin Bandung.
Setelah belasan tahun menimba ilmu akhirnya, pahlawan nasional ini mendirikan Ponpes Sukamanah di Kampung Cikembang Desa Cimerah Kecamatan Sukarame pada tahun 1927. “Pesantren itu didirikan di atas tanah wakaf dari seorang janda kaya yang bernama Siti Juariah ,” ungkapnya.
Perjuangan menegakkan syariat Islam di tanah Sukapura terus dilakukan. Dari satu majelis ke majelis lain. Dari satu mimbar ke mimbar lain. KHZ Musthafa pun pernah menjabat sebagai Wakil Rais Syuriah NU Cabang Tasikmalaya pada tahun 1930-an.
Masuk masa penjajahan Belanda dan Jepang dalam kurun waktu 1940-1945, KHZ Musthafa terus menyebarkan syariat Islam yang memancing semangat juang rakyat pribumi. Walaupun di bawah todongan senjata “Saat penjajahan Jepang ia terus diancam dan dipaksa untuk turun dari mimbar, beliau tidak pernah ikut romusa karena ditakuti,” katanya.
Suatu waktu di masa penjajahan Jepang, KHZ Musthafa dikumpulkan di sebuah lapangan di Singaparna dengan para ulama. Mereka dipaksa untuk melakukan penghormatan kepada kaisar Jepang Hirohito (Seikerei) dengan menghadap ke arah timur. “Saat itu di bawah todongan senjata, KHZ Musthafa menolak untuk melakukannya. Bahkan ia berani mengatakan bahwa melakukan penghormatan kepada kaisar Jepang dan arah matahari terbit adalah perbuatan syirik,” ceita Yusuf.
Sejak saat itu, Musthafa mengumandangkan perlawanan terhadap para penjajah Jepang yang dianggap telah memaksakan perbuatan syirik kepada para alim ulama dan masyarakat. Ia tidak pernah takut dalam mengumandangkan hal itu, karena ilmu ketauhidan yang dimiliki sangatlah kokoh. Dia percaya dengan pertolongan Allah SWT dan percaya bahwa yang harus ditakuti hanyalah Allah SWT.
Memasuki masa akhir perang dunia II atau tepatnya pada Jumat tanggal 25 Februari 1944, tentara Jepang melakukan penyerangan ke Pesantren Sukamanah. “Saat itu para santri sudah dibekali dengan berbagai ilmu bela diri dan dipersenjatai oleh pedang yang terbuat dari bambu. Katanya tajam bambu tersebut sama dengan samurai,” katanya.
Setelah melaksanakan salat Jumat KH Zainal Musthafa mampu melihat pergerakan tentara Jepang yang jumlahnya ratusan orang diangkut oleh truk-truk besar. “Tentara yang dikirim 90 persennya adalah heiho (tentara pembantu Jepang berkewarganegaraan Indonesia). Saya yakin ini adalah upaya adu domba yang dilakukan oleh penjajah Jepang,” kata Yusuf.
Ketika tentara Jepang akan turun dari truk, para santri yang bersenjatakan pedang bambu langsung menaiki truk dan tak segan melakukan perlawanan. Akan tetapi KHZ Musthafa berhati-hati menghadapi heiho yang tidak lain adalah bangsa sendiri.
Menurut Yusuf, dari keterangan pelaku sejarah yang masih hidup hingga saat ini, suasana pertempuran memang agak canggung. Karena mereka takut membunuh orang yang masih mendirikan salat. “KHZ Musthafa juga memerintahkan para santrinya untuk tidak menyerang sebelum diserang duluan,” katanya.
Peluru tentara Jepang juga sempat menerjang beberapa kali ke tubuh KHZ Musthafa. Namun tidak ada satupun yang mampu melukainya. Sebanyak 86 santri meninggal dalam pertempuran tersebut. Sedangkan dari tentara Jepang ada sekitar 300 orang meninggal akibat disabet pedang bambu atau yang dikenal bambu runcing. “Saya masih menyimpan pedang bambu yang didapat dari pelaku sejarah. Bahkan masih ada bekas darah berwarna hitam yang diduga itu adalah darah tentara Jepang,” bebernya.
Pasca pertempuran berdarah tersebut, KHZ Musthafa diajak berunding oleh tentara Jepang untuk membahas perdamaian di Tasikmalaya. Namun semua itu hanya jebakan. Ia malah ditangkap dan sempat beberapa kali disiksa. “Bahkan sempat digusur menggunakan truk dari Padayungan menuju kaum (Masjid Agung Kota Tasikmalaya). Namun beliau tidak terluka sedikit pun. Nah, itulah cikal bakal pemberian nama Jalan HZ Mustofa,” katanya.
Selajutnya KHZ Musthafa dibawa ke Ancol, Jakarta untuk diadili dan dieksekusi. Di sana dia dikubur hidup-hidup oleh tentara Jepang. “Berbanding jauh dengan film Sang Kiai. Dalam film tersebut diperlihatkan bahwa KHZ Msuthafa dieksekusi dengan cara dipenggal. Padahal ia meninggal dengan cara dikubur hidup-hidup. Itu bisa dibuktikan ketika para santri menemukan makam beliau. Dan saat digali posisinya dalam keadaan duduk dengan sorban dan tasbeh yang masih menempel. Kepalanya juga tidak putus,” terang putra dari pasangan KH Fuad Muhsin dan Hj Siti Sofiah ini.
Yusuf juga ingin mengklarifikasi mengenai munculnya cerita KHZ Musthofa yang berkonflik gara-gara rebutan gabah padi dalam film Sang Kiai yang disutradari oleh Rako Prijanto itu. Cerita ini tidak benar. Pada saat itu, justru banyak masyarakat yang menitipkan gabah padi ke Ponpes Sukamanah lantaran takut dirampas Jepang. Dia menyayangkan sutradara film ini tidak pernah berkomunikasi terlebih dahulu dengan pihak keluarga KHZ Musthafa saat menyisipkan kisahnya dalam film Sang Kiai itu. (den)

Sumber : http://www.radartasikmalaya.com/berita/baca/5375/memperingati-perjuangan-kh-zainal-musthafa-ke-72-tahun.html

Copyright Pesantren di Tasikmalaya : PESANTREN KHZ MUSTHAFA SUKAMANAH.

2 Responses to Pembantaian Pedang Bambu, Dikubur Hidup-Hidup

  • Ass. Mung saran Ang Iyus. Langkung sae pami kontena diedit/dirapihkeun (paragraf, titik, komana) sanaos ieu artikel saduran di koran radar tasik. Hatur sungkem Abdi kanggu kulawargi Sukamanah saparakanca

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

two × five =