Gallery
411924_423341251043265_1045285041_o 474362_399682266742497_438937305_o 216700_106191306131357_583848_n 206333_106196349464186_1778623_n
Statistik Web
  • 16128Total visitors:
  • 30Visitors today:
  • 35Visitors yesterday:
  • 355Visitors last week:
  • 435Visitors per month:
  • 46Visitors per day:
  • 0Visitors currently online:

Peringatan Nujulul Quran sebuah renungan

Peristiwa nuzulul Qur’an adalah peristiwa spiritual yang agung bagi kita, dimana Alquran di turunkan saat Lailatul Qadar, dari Lauhul Mahfudz ke Langit Dunia, yang kelak dikenal sebagai “malam seribu bulan”. Tetapi mengapa kita kurang menyambutnya dengan kesiapan-kesiapan spiritual kita sehingga transformasi moral dalam diri kita terjelma sebagai generasi-generasi yang qur’ani yang bisa memberikan pengaruh positif terhadap proses pengabdian kita sehari-hari kepada Yang Maha Kuasa.

Peristiwa Nuzulul Qur’an secara historis tentang waktu terjadinya banyak sekali yang berpendapat, diantaranya Syekh Shafiyur Rahman Al-Mubarakfuriy (penulis Sirah Nabawiyah) menyatakan bahwa para ahli sejarah banyak berbeda pendapat tentang kapan waktu pertama kali diturunkannya Al-Qur’an, paling tidak ada tiga pendapat :

Pertama: Pendapat yang mengatakan bahwa Nuzulul Qur’an itu terjadi pada pada bulan Rabiul Awwal,

Kedua  : Pendapat yang mengatakan bahwa Nuzulul Qur’an itu terjadi pada bulan Rajab,

Ketiga  : Pendapat yang mengatakan bahwa Nuzulul Qur’an itu terjadi pada bulan Ramadhan.

Yang berpendapat pada bulan Rabiul Awwal ada tiga pendapat pula, ada yang mengatakan awal Rabiul Awwal, ada yang mengatakan tanggal 8 Rabiul Awwal dan ada pula yang mengatakan tanggal 18 Rabiul Awwal (yang terakhir ini diriwayatkan dari Ibnu Umar Radhiallaahu ‘anhu).

Kemudian yang berpendapat pada bulan Rajabpun terbagi dua. Ada yang mengatakan tanggal 17 dan ada yang mengatakan tanggal 27 Rajab (pendapat ini diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallaahu’anhu -lihat Mukhtashar Siratir Rasul, Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab An-Najdy, hal.75).

Adapun Al Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani di dalam Fathul Bari berkata bahwa: Imam Al-Baihaqi telah mengisahkan bahwa masa wahyu mimpi adalah 6(enam) bulan. Maka berdasarkan kisah ini permulaan kenabian dimulai dengan mimpi shalihah (yang benar) yang terjadi pada bulan kelahirannya yaitu bulan Rabiul Awwal ketika usia beliau genap 40 tahun. Kemudian permulaan wahyu yaqzhah (dalam keadaan terjaga) dimulai pada bulan Ramadhan. Dan kita disini mungkin lebih banyak yang menguatkan pendapat bahwa Nuzulul Qur’an terjadi pada bulan Ramadhan, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman

شهر رمضان الذي انزل فيه القران

Artinya,“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an” (Al-Baqarah:185 ).

Dan Allah berfirman,

اناانزناه في ليلة القدر 

Artinya, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan” (Al-Qadr ).

Seperti yang telah kita maklumi bahwa Lailatul Qadr itu terjadi pada bulan Ramadhan, sebagaimana dimaksudkan dalam firman Allah :

اناانزلنه في ليلة مباركة, اناكنا منذرين  

Artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan” (Ad-Dukhaan:3 ).

Dan karena menyepinya Rasulullah SAW di gua Hira’ adalah pada bulan Ramadhan, dan diasaat itulah Malaikat Jibril as menemui Rosululloh SAW. Jadi Nuzulul Qur’an ada pada bulan Ramadhan, pada hari Senin, sebab semua ahli sejarah atau sebagian besar mereka sepakat bahwa diutusnya beliau menjadi Nabi adalah pada hari Senin. Hal ini sangat kuat karena Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam ketika ditanya tentang puasa Senin beliau menjawab: “Di dalamya aku dilahirkan dan di dalamnya diturunkan (wahyu) atasku” (HR. Muslim).

Dalam sebuah lafadz dikatakan “Itu adalah hari dimana aku dilahirkan dan hari dimana aku diutus atau diturunkan (wahyu) atasku”(HR. Muslim, Ahmad, Baihaqi dan Al-Hakim).

Akan tetapi pendapat ketiga inipun terbagi menjadi lima kelompok, ada yang mengatakan tanggal 7 (hari Senin), ada yang mengatakan tanggal 14 (hari Senin), ada yang mengatakan tanggal 17 (hari Kamis), ada yang mengatakan tanggal 21 (hari Senin) dan ada yang mengatakan tanggal 24 (hari Kamis).

Pendapat ” 17 Ramadhan” diriwayatkan dari sahabat Al-Bara’ bin Azib dan dipilih oleh Ibnu Ishaq, kemudian oleh Ustadz Muhammad Huzhari Bik.

Pendapat ” 21 Ramadhan” dipilih oleh Syekh Al-Mubarakfuriy, karena Lailatul Qadr ada pada malam ganjil, sedangkan hari Senin pada tahun itu adalah tanggal7 ,14 , 21 dan28 .

Sedangkan pendapat ” 24 Ramadhan” diriwayatkan dari Aisyah, Jabir dan Watsilah bin Asqo’ , dan dipilih oleh Ibnu Hajar Al-Haitamiy, ia mengatakan: “Ini sangat kuat dari segi riwayat”.

Dari uraian diatas kiranya memperingati peristiwa turunnya Al-Qur’an pertama kalinya tidaklah penting apalagi sampai kita memperdebatkannya, sebab di samping hal itu tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW, para sahabatnya dan para tabi’in, juga Al-Qur’an sendiri diturunkan tidaklah untuk diperingati tetapi untuk senantiasa memperingatkan kita, dan mungkin kalau boleh kita katakan peristiwa Nuzulul Qur’an bukanlah diharapkan agar dijadikan sebagai hari raya oleh umat ini, yang dirayakan setiap tahun, karena Islam bukanlah agama perayaan sebagaimana halnya agama-agama lain.”Islam tidak memerlukan polesan, tidak perlu dibungkus dengan perayaan-perayaan yang membuat orang-orang tertarik kepadanya. Karena itu pesta hari raya tahunan di dalam Islam hanya ada dua yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Jadi turunnya Al-Qur’an bukan untuk diperingati dalam setiap tahunnya, melainkan untuk senantiasa memperingatkan kita setiap waktu dan di saat kita taat untuk meng’abdikaan diri kepada Allah SWT.Allah Berfirman :

المص. كتب انزل اليك فلا يكن في صدرك حرج منه لتنذر به وذكرى للمؤمنين 

Artinya: “Alif Lam Mim Shaad. Ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu, maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu karenanya, supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu (kepada orang kafir) dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman” (Al-A’raaf:1-2).

Yang terbaik untuk kita sebagai orang yang beriman sebagaimana jejak ulama-ulama salaf adalah membaca Al-Qur’an, membaca dan membaca lagi, apalagi sampai kepada menghapal, memahami dan mengamalkannya, sebagaimana Allah berfirman,

 ان الذين يتلون كتاب الله واقاموا الصلوة وانفقوا مما رزقناهم سرا وعلانية يرجون تجارة لن تبور.    

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi” (Faathir:29 ).

Terlebih  di bulan suci Ramadhan, bulan yng penuh berkah dan bulan yang pada sala satu malamnya diturunkan Al-Qur’an, Sahabat Umar radhiallaahu ‘anhu berkata: “Seandainya kita bersih, tentu akan merasa kenyang dari kalam Allah. Sesungguhnya aku amat tidak suka manakala datang sebuah hari sementara aku tidak membaca Al-Qur’an.” Karena itu beliau tidak meninggal dunia sehingga mushafnya sobek karena seringnya dibaca. Dan ketika menjadi imam pada shalat shubuh beliau sering membaca surat Yusuf yang terdiri dari 111 ayat tertulis dalam 13 halaman, yang berarti satu sepertiga juz, subhanallah……lain dengan ibadah kita…..Hal ini tidak mengherankan karena khalifah kedua Umar bin Khatthab RA  ketika memimpin shalat shubuh juga selalu membaca surat-surat yang bilangan ayatnya lebih dari 100 ayat seperti surat Al Kahfi (11 halaman), surat Maryam (7 halaman) dan surat Thaha (10 halaman).

Begitulah generasi Qur’ani yang sangat mencintai Al-Qur’an. Mereka tidak pernah merayakan peristiwa Nuzulul Qur’an, tetapi pada shalatnya mereka membaca ratusan ayat, sementara kita sebaliknya……Shalat tarawih di jaman salaf rata-rata membutuhkan waktu sampai 5 jam, dan kadang-kadang semalam suntuk, yang berarti setiap satu rakaat tarawih (dari sebelas rakaat) dapat kita hitung membutuhkan waktu 40 menit. Dan bahkan para sahabat banyak yang shalat sambil bersandar dengan tongkat karena terlalu lamanya berdiri(tulul qiyam).

Adapun para tabi’in dan tabi’ittabi’in, karena begitu memahami arti dari Ramadhan, bulan Al-Qur’an, dan begitu kuatnya dalam mencintai Al-Qur’an, maka bila bulan Ramadhan tiba mereka mengkhususkan diri untuk membaca Al-Qur’an seperti yang dilakukan oleh Imam Az-Zuhri dan Sufyan Ats-Tsauri. Sehingga dalam satu bulan khatam Al-Qur’an berpuluh puluh kali. Imam Qatadah umpamanya, di luar Ramadhan khatam setiap tujuh hari, di dalam Ramadhan khatam setiap tiga hari, dan di sepuluh hari terakhir khatam setiap hari. Sementara Imam Syafi’i di luar Ramadhan setiap hari khatam sekali, dan di dalam Ramadhan setiap hari khatam dua kali. Itu semua di luar shalat.

Begitulah ulama Ahlus Sunah tidak pernah merayakan Nuzulul Qur’an, namun setiap harinya khatam Al-Qur’an, ada yang sekali dan ada yang dua kali. Sementara kita sebulan Ramadhan jika khatam sekali saja maka sudah puas dan gembira. Itupun bisa dihitung dengan jari. Bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah selama di dalam penjara, dari tanggal 7 Sya’ban 726 H sampai wafatnya 22 Dzulqa’dah 728 H, selama2 tahun 4 bulan beliau telah Khatam Al-Qur’an bersama saudaranya Syeikh Zainuddin Ibnu Taimiyah sebanyak 80 kali khatam, yang berarti rata-rata setiap 10 hari beliau khatam satu kali.

Mengadakan peringatan nuzul al-qur’an itu selama hanya menggunakan momen-momen tertentu yang tujuannya untuk menyadarkan kembali umat islam kepada al-qur’an (syariat Islam) adalah sesuatu hal yang positif. Yang harus menjadi perhatian sekarang adalah bagaimana mewujudkan dan menerapkan Al-qur’an (syariah Islam) di muka bumi ini, yang kenyataanya sekarang tidak ada suatu wilayahpun di dunia ini yg menerapkan Alquran (syariah Islam) secara menyeluruh

Kita melihat bahwa mengagungkan Al-Qur’an secara tekstual merupakan sebuah keharusan mengingat Al-Qur’an adalah pedoman hidup kita. Namun demikian, pengagungan itu mesti dikuti oleh bagaimana kita melaksanakannya di dalam kehidupan sekemampuan kita. Melacak sejarah turunnya al-Qur’an merupakan hal yang penting. Tapi perdebatan kita tidak harus berhenti sampai di situ saja, melainkan bergeser ke arah mengapa kita umat Islam lalai membaca dan mengamalkan Al-Qur’an? Kini umat Islam tertinggal dibandingkan dengan umat lain dari segi pengamalan. Secara kultural banyak perilaku mereka yang sesuai dengan nilai-nilai Qur’ani dibanding dengan kita. Semoga kita semakin mencintai Al-Qur’an secara tekstual terlebih secara kontekstual dan Sudah saatnya kita memaknai Nuzulul Quran dengan realitas di sekitar, saya sangat setuju. Manusia hidup senantiasa dihujani cobaan, kebahagiaan, tetes air mata hingga gelak dan tawa, tapi kita tidak boleh lupa, semua itu hanya bersifat sementara. detik ini, apabila yang Maha Kuasa ingin mengambil nyawa, maka pasti akan terjadi. Bisikan kebaikan seyogianya menjadi mozaik setiap langkah yang tentunya dibalut dengan hati yang bersih dan jiwa yang pasrah berserah seutuhnya pada Ynag Maha Pencipta. Lihatlah ketika kapas putih berterbangan di terpa angin, ia melayang ringan seakan membisikkan pada setiap orang yang melihatnya supaya selalu putih, bersih walau beterbangan di udara. Manusia hidup hanya sesaat, jika antar sesama selalu mengingatkan kebaikan dan mencegah kejahatan pasti keserasian itu menjadi indah dipandang mata dan dirasa hati. Namun, semua ini seolah hanya patamorgana ketika jiwa-jiwa yang mengembara di dunia pana ini bersikap angkuh, tidak pernah memperdulikan orang lain rakus dengan tahta dan jabatan, kesombongan dan kekayaan jadi ukuran…. Na’udzubillah min dzalik….

Akhirnya Semoga Allah SWT senantiasa memberikan rahmat, taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua untuk senantiasa mencintai Al-Qur’an, membacanya dan memahaminya serta mengamalkannya dalam setiap apas pengabdian kita, terutama di bulan romadhan ini dengan segenap keutamaannya mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang ada didalamnya Amin…..

اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. اللهم إنا نسئلك رضاك والجّنة وأعودبك من سختك والنار أللهم إنا نسئلك إيمانا خالصاً دائماً يباسر قلو بنا ويقيناً صادقاً حتى نعلمُ أنه  لن يصيبنا إلآ ما كتبته علينا  ورضينا بما قسمته لناَ ربنا هبلنا من أجواجنا ودُريتنا قُرة أعيونٍ واجعلنا للمتقين إماماً اللهم أتنا فى الد نيا حسنه وفي الأخرة حسنه وقنا عداب النار والحمد الله رب العالمين

Oleh: Eka Mulyana S.Ag. Disarikan dari “Membumikan Al-qur’an” M. Quraisy Syihab

Pesantren KHZ. Musthafa Sukamanah

One Response to Peringatan Nujulul Quran sebuah renungan

  • :joe, mengenai yang ini tidak seabtas ritual kolot keagamaan *celingak-celinguk nyari yg mungkin dimaksud Joe *nemu satu kata YG Menuzulkan Joe, ternyata yg disuruh itu mendirikan sholat, joe , bedanya dengan mengerjakan apa ya mungkin njenengan saket parengi wruh , Pak Kyai..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>