Lokasi
Pendiri & Penerus
Statistik Web
  • 23430Total visitors:
  • 46Visitors today:
  • 73Visitors yesterday:
  • 663Visitors last week:
  • 1437Visitors per month:
  • 88Visitors per day:
  • 0Visitors currently online:

PERISTIWA PERLAWANAN SUKAMANAH DIBANGUN DIATAS DASAR KEAGAMAAN DAN KEBANGSAAN YANG KUAT

Sebuah renungan dan refleksi di hari peringatan perjuangan KH Zainal Musthafa Sukamanah.

Cita-Cita negara Islam dijunjung tinggi dalam hati sanubari rakyat sesuai dengan ajaran agama. Demikian pula semangat kemerdekaan sangat tebal masyarakat Singaparna yang terkenal kebenciannya terhadap penjajahan. Pada masa kolonial Belanda pun daerah ini mendapat pengawasan yang keras. Selain rakyat teguh beragama, teguh pula memegang kebangsaannya. Diatas dasar-dasar yang suci inilah tumbuh alasan-alasan yang sangat menggetarkan hati untuk memberontak terhadap penjajahan totaliter Jepang. Walaupun sebagian pemimpin- pemimpin kita di Jakarta turut daam upacara “seikeirei”, sebagai sembah terhadap tenohaika ke arah Tokyo, namun bagi rakyat Singaparna, Sukamanah Khususnya hal ini menjadi soal yang sangat penting, yang tidak dapat disandiwarakan. Cara menyembah ini melukai hati ummat yang beragama Islam, seolah-olah merubah arah kiblat dari tanah suci ke Jepang. Cita-cita “Darul Islam” yang telah meluas yang mendalam dikalangan rakyat, tidak mungkin mengalah kepada gerakan “seikeirei” ini yang dilakukan oleh pemerintah Jepang pada tiap upacara. Sebagai seorang ulama yang menjunjung tinggi nilai kejujuran, kebenaran dan keadilan serta sifat taat, tabah, qana’at dan syaja’ah yang dimilikinya KH.Zanal Musthafa menjadi pimpinan dan panutan ummat yang berbudi luhur, kharismatik, patriotik dan berpandangan luas kedepan. Pada tahun 1933 beliau masuk jamaah Nahdlotul Nlama (NU) dan diangkat sebagai wakil Rais Syuriyah NU Cabang Tasikmalaya. Sikap beliau sangat membenci terhadap penjajah ditanamkan kepada santri-santrinya di pesantren. Sikap itu kadang beliau sampaikan di depan umum sehingga sering mendapat peringatan bahkan beliau tak jarang diturunkan dari mimbar oleh kaki tangan penjajah. Pada tanggal 17 November 1941 (27 Syawal 1362 H ) KH.Zainal Musthafa dan KH.Ruhiat (Pimpinan Pondok Pesantren Cipasung) ditangkap dan dipenjarakan di penjara Tasikmalaya, sehari kemudian mereka dipindahkan ke penjara Sukamiskin Bandung, dan pada tanggal 10 Januari 1942 mereka dibebaskan. Tapi pada akhir Februari 1942 KH.Zainal Musthafa kembali ditangkap dan dimasukan kepenjara Ciamis. Pada waktu Belanda menyerah kepada Jepang KH.Zainal Musthafa masih mendekam dipenjara, dan pada akhir Mei 1942 beliau dibebaskan oleh seorang colonel Jepang. Api perlawanan suci yang telah menyala sedemikian dalam di hati sanubari penganut Islam di daerah ini, meski kekuasaan telah berpindah dari Colonial Belanda ke tentara Jepang, tapi sikap dan pandangan KH.Zainal Musthafa terhadap penjajah baru tidak berubah sama sekali, bahkan kebenciannya itu semakain memuncak setelah menyaksikan sendiri kedzaliman hamba-hamba tenohaika ini. Setiap hari beribu-ribu rakyat Indonesia dijadikan Rhomusa, menjual padi kepada pemerintah secara paksa, pemerkosaan terhadap gadis-gadis merajalela, segala partai, ormas dan organisasi nasional dilarang dan setiap pagi rakyat Indonesia diwajibkan ruku’ kearah Tokyo. Hal tersebut sudah cukup membuat beliau membulatkan tekad menentang dan menyatakan berontak terhadap penjajah Jepang. Untuk itu, beliau selalau menanamkan semangat jihad fi sabilillah kepada para santri-santrinya yang saat itu berjumlah 600-700 orang. Diantara murid beliau saat itu adalah KH.Wahab Muhsin (Alm) Sesepuh Pondook Pesantren Sukahideng yang merupakan kakak kandung KH.Muhammad Fuad Muhsin (Sesepuh Pondok Pesantren Sukamanah) dan KH.Muhammad Syhabudin Muhsin (Pimpinan Pondok Pesantren Sukahideng). Setelah pemerintah Jepang mengetahui maksud KH.Zainal Musthafa, maka pada tanggal 24 Februari 1994 mereka mengirimkan satu regu pasukan bersenjata yaitu goto sidokan untuk menangkap beliau dan para santrinya, tetapi mereka gagal bahkan mereka menjadi tawanan pihak Sukamanah. Keesokan harinya, tepatnya jum’at 25 Februari 1944 bertepatan tanggal 1 Robiul Awwal tahun Alif 1365 H, semua tawanan dibebaskan hanya senjata mereka tetap menjadi rampasan. Kira-kira pukul 13.00 datang empat orang kompetai dan dengan congkakanya meminta agar senjata mereka dikembalikan dan KH.Zainal Musthafa harus menyerah. Rakyat yang telah rela mati berkalang tanah dari pada hidup bercermin bangkai menjawabnya dengan pekikan ” TAKBIR” dan langsung menyerang mereka, maka merekapun lari dengan gugupnya, tiga orang kompetai dan satu juru bahasanya lari ke sawah dan seorang lagi selamat. Segera setelah kejadian ini, menjelang ashar datang puluhan truk militer siap tempur yang ternyata mereka adalah bangsa sendiri dan langsung mereka membuka salvo serta menghujani barisan santri yang hanya berasenjatakan bambu runcing, pedang bambu dan senjata sederhana lainnya dari jarak jauh. Melihat yang datang adalah bangsa sendiri, maka KH.Zainal Musthafa mengeluarkan perintah agar tidak melakukan perlawanan sebelum musuh memasuki jarak perkelahian, setelah mereka mendekat, barulah bambu runcing, pedang bambu dan golok menjawab serangan tersebut. Akhirnya, dengan jumlah yang begitu besar, lengkap dan penuh strategi, pasukan jepang berhasil menerobos dan mempoprak porandakan pertahanan pasukan Sukamanah dan menangkap KH.Zainal Musthafa. Dari data yang di dapat para syuhada yang gugur pada waktu itu 86 orang dan dikebumikan dalam satu lobang. Peristiwa tersebut terjadi pada hari jum’at tanggal 25 Februari 1944 M bertepatan dengan tanggal 1 Rabiul Awwal 1365 H. Dari hari itulah kemudian dikenal dengan sebutan “SUKAMANAH BERSIMBAH DARAH”. Selanjutnya KH.Zainal Musthafa ditahan di penjara Tasikmalaya kemudian dipindahkan ke Bandung dan seterusnya tidak diketahui. Pada tahun 1970 kepala Erevele Belanda Ancol Jakarta memberitahu bahwa KH.Zainal Musthafa telah menjalani hukuman mati pada tanggal 25 Oktober 1944 dan dimakamkan di taman pahlawan Belanda Ancol Jakarta. Beberapa bentuk yang diberikan pemerintah atas jasa-jasa almarhum diantaranya : 1. Nama KH.Zainal Musthafa diabadikan menjadi jalan protocol utama Tasikmalaya. 2. Penggunaan gelar “Pahlawan Nasional” kepada almarhum dengan SK. Presiden Republik Indonesia No : 064/TK Tahun 1972 Tanggal 20 November 1972. 3. Pemindahan jenazah almarhum beserta 17 orang pengikutnya pada tanggal 25 Agustus 1973 ke Taman Makam Pahlawan Sukamanah. 4. Sejak tahun 1974 setiap tanggal 25 Februari diselenggarakan peringatan perjuangan KH. Zainal Musthafa dengan tidak melupakan peringatan 1 Rabiul Awal. 5 Memberikan santunan kepada keluarga almarhum. 6. memberikan berbagai bantuan kepada lembaga-lembaga pendidikan formal dan non formal yang ada dillingkungan yayasan KH.Zainal Musthafa Sukamanah. 7. Dibangunnya monument aktualilsasi perjuangan KH.Zainal Musthafa Sukamanah di bunderan By Pass Tasikmalaya yang diresmikan pada tanggal 16 November 2000 / 11 Sya’ban 1421 H oleh Gubernur Jawa Barat. Sungguh banyak pelajaran berharga yang dapat kita ambil dalam momentum peringatan perjuangan KH.Zainal Musthafa ini: • Semangat dan ruh Jihad • Disipilin aqidah, tidak ada kompromi dengan kedhaliman, kesesatan dan kemusyrikan • Cinta tanah air • Berani mengatakan haq walaupun pahit sekalipun • Tidah rela melihat kedhaliman dan penindasan • Perjuangan beliau dibangun diatas dasar fondasi yang kuat, sehingga kemenangan layak dicapai  Winning Value dalam arti beliau menanamkan sebuah nilai-nlai luhur terhadap santri dan masyarakat  Winning Concept dalam arti beliau seorang ulama, pejuang sekaligus negarawan yang berani beda demi kebenaran  Winning System, dalam arti beliau berdakwah dan berjuang teratut dan dengan bijaksana  Winning team dalam arti kesatuan dan persatuan diantara faktor yang sangat penting dalam perjuangan  Winning goal dalam arti tujuan beliau yang tiada lain I’laa kalimatillah dan musnahnya penjajahan dan kedhaliman. • Akar-akar sejarah yang ditancapkan diatas dasar Perjuangan dan pengorbanan yang tulus akan menjadi lautan dan ladang pahala yang akan berbuah manis di dunia dan diakhirat. KH. Drs A Thahir Fuad merupakan pimpinan Pondok pesantren Perg. KH. Zainal Musthafa Sukamanah kini, pasca sang pahlawan gugur dan setelah KH. Muhammad Fuad Muhsin (Sesepuh Pondok Pesantren Sukamanah) menghadap Yang Maha Kuasa. Semoga beliau dan para penerus perjuangan serta pelaku Sukamanah berikutnya senantiasa diberi kekuatan ketabahan dan ada dalam lindungan Allah SWT. (Sumber: Dokumen dan arsif Sukamanah ) Sang Pahlawan Kala fajar menyongsong mentari Bumi Sukamanah bersenandung riang Ada tawa gemuruh dan hempasan Lantunan berantai doa’ Dari kami untukmu pahlawan. Alam menggemakan suara angin perjuangan Jiwa kami bergetar mengenang perjuanganmu Angin semelir menghantar puji dan do’a Dari kami untukmu pahlawan Dahulu… Kau torehkan jejak perjuangan Dalam bara semangat agama dan bangsa Darah, keringat berpadu deru debu perjuangan Teriak semangat dan takbir menggetarkan Jantung bumi Sukamanah bergema Engkau… Dengan ikat kepala dan bambu runcingmu ditangan Dengan semangat rela mati untuk negeri ini Peluru, belati menumpahkan darahmu Dari dalam tubuh sucimu. Sungguh besar jasa dan pengorbananmu Jangankan harta benda nyawa sekalipun kau pertaruhkan Semangatmu tidak rela melihat agama dan bangsa terhina. Keberanianmu merubah yang pahit menjadi manis. Ya Allah tempatkanlah Syuhada dalam tempat yang mulia, Ya Allah anugrahkan kekuatan kepada pemimpin-pemimpin kami, Ya Allah Jauhkanlah bumi Sukamanah dari virus-virus perpecahan, Ya Allah anugrahkan kepada kami rahmat dan karuniamu, Ya Allah anugrahkan kepada kami keberkahanMU, Ya Allah anugrahkan kepada kami kekuatan memerangi kedzaliman.
Dari kami untukmu pahlawan. Damai dan tenanglah dalam pangkuan yang maha kuasa Damailah dalam peraduan doa’ suci anak negeri Damailah dalam dekap yang maha pemberi.
* Penulis adalah salah seorang santri Pesantren di Tasikmalaya, yakni Pondok Pesantren KH Zainal Musthafa Sukamanah.
Sukamanah, 25 Februari 2010

(Oleh: Edi Bukhori)*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

15 − 7 =