Lokasi
Pendiri & Penerus
Statistik Web
  • 23572Total visitors:
  • 77Visitors today:
  • 111Visitors yesterday:
  • 701Visitors last week:
  • 1579Visitors per month:
  • 89Visitors per day:
  • 0Visitors currently online:

Persatuan dan Kesatuan bangsa serta Moralitas modal utama kemajuan bangsa dan kokoh serta tegaknya NKRI

Bencana, konflik, korupsi dan perseteruan terorisme yang sering ditonton sekarang ini di Media, sebagai rakyat jelata saya hanya melongok dan melongok kondisi bangsa yang semakin terpuruk dan memprihatinkan. Disamping banyak disaksikannya anak-anak terlantar dan jerit masyarakat dengan mahalnya bahan pokok. Dalam benak saya berkata: Apa yang bisa saya lakukan dan juga berkata kasihan para pahlawa bangsa yang tulus berjuang untuk kemajuan bangsa karena perjuangan mereka melahirkan kebangkitan bukan menunggu kebangkitan.

Kalau kita runtut kembali sejarah fenomenal bangsa Indonesia yang menyisakan detak takjub dan kebanggaan terhadap para pahlawan yang berjuang mati-matian. Dalam upaya mengisi kemerdekaan, berbagai macam cara ditempuh oleh bangsa Indonesia untuk mencapai masyarakat adil dan makmur, seperti telah dicita-citakan dan tercantum dalam Pancasila dan pembukaan Undang-undang dasar 1945.

Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang majemuk karena terdiri dari bermacam-macam suku, adat istiadat, bahasa, dan agama. Kemajemukan tersebut, disatu sisi menjadi suatu potensi kemungkinan terjadinya konflik, disisi lain bisa menjadi unsur perekat dalam rangka membina persatuan dan kesatuan bangsa.

Masalah persatuan dan kesatuan bangsa menjadi masalah utama negara untuk mencapai kemajuan dan tujuan bangsa Indonesia. Upaya itu telah ditempuh oleh bangsa Indonesia sejak masa pergerakan nasional, karena pada masa itu persatuan dan kesatuan bangsa sangat diperlukan dan menjadi modal utama dalam menghadapi kekuasaan kolonial ( penjajahan ).

Penjajahan yang sangat lama sekitar 350 tahun yang dilakukan penjajah Belanda, luar biasa tidak hanya materi, namun juga masalah sosial politik dan ekonomi kita dirusak.

Lalu Inggris, meski tidak terlalu lama, hanya peralihan kekuasaan saja dibawah Rafless. Konon, dijajah Inggris adalah keberuntungan tersendiri. Sebab Inggris disebut mencerdaskan bangsa jajahannya. Tapi tetap saja, namanya penjajah selalu memberikan lebih banyak kerugian dibanding manfaatnya untuk Indonesia, bangsa yang dijajahnya.

Kemudian dua setengah tahun dibawah kekuasaan Dai Nippon, bangsa ini sudah merasakan betapa pahitnya dipaksa menyembah matahari setiap pagi. Ritual ini biasa disebut seikere. Siapa saja yang menolak seikere, kenpetei akan menyiksanya. Belum lagi kerja paksa yang bernama Romusa dan pemerkosaan perempuan besar-besaran dalam sejarah Indonesia yang bernama jugun lanfu.

Sebelum merdeka, bangsa Indonesia punya luka besar yang menganga dan parah. Ketika merdeka, sepintas lalu seolah-olah kita punya kesempatan untuk mengobati luka dan mengolah lahan bumi pertiwi secara berdaulat. Tapi lagi lagi kekuasaan orde lama, tak terlalu bisa kita sebut sebagi kekuatan penyelamat.

Tumbang Orde lama, tumbuh orde baru. Lagi-lagi negeri ini menyambutnya dengan penuh harapan. Tapi rupanya, selama 32 tahun negeri ini diolah semaunya, seolah-olah lahan milik pribadi dan bukan milik bersama. Dan setelah rezim tumbang, yang tersisa kini hanya kubang yang besar, Hutangnya sampai beranak cucu.

Baru 10 tahun, semangat kebaikan mendapat tempat dan kesempatan. Reformasi. gerakan Islam tumbuh dengan berbagai wadah dan wajahnya. Ada yang berbentuk partai, ada pula yang merintis gerakan, tak kurang jumlahnya  yang mengambil metode organisasi kemasyarakatan.

Mereka bekerja membangun negeri mengolah lahan dengan semangat kebaikan. Baru 10 tahun, sejak 1998. Itupun dilalui dengan segala macam rintangan yang tak pernah ringan. Ada gerakan kebebasan, ada geliat globalisasi dan ada arus besar pemikiran yang membahayakan.

Baru 10 tahun, Tanahnya belum lagi subur. Kita masih harus menata lagi irigasi dan pematang. Kita harus menyiangi lahan siang dan malam. Memupuknya, menanam benih unggulan dan menjaganya dari wereng dan hama lainnya yang siap mengancam.

Tapi sungguh Ironis, ditengah proses berat sedemikian rupa, ternyata ada saudara kita yang merasa sudah tiba saatnya memetik buah. Bahkan lebih menyeramkan lagi, sebagian dari mereka ada yang menganggap,  sudah tiba masanya panen raya.

Dengan segala dalil, mereka membangun dalih agar mereka mendapatkan pembenaran untuk menikmati usaha yang sedang dilakukan. Kata-kata memukau diumbar obral. Ada yang bilang strategi, juga ada yang menyebutnya diplomasi. Bahkan tak sedikit yang mengatakan, bahwa Idealisme dan pragmatisme adalah satu kesatuan yang harus selalu berdampingan.

BISIKAN DAN KELUHAN SANG PEJUANG KERINGAT

Seorang isteri berbicara pada suaminya: pah kenapa yach harga-harga sekarang terus saja naik. Jawab suami: saya gak tahu mam, bapak juga bingung apalagi jualan bapak sekarang semakin hari bukannya makin baik tapi malah makin buruk. Seorang istri berkata yah mungkin dana yang dipunyai negara kita pada dirampok oleh segolongan yang hanya mementingkan perutnya tanpa melihat penderitaan orang kecil, jadi Negara kebobolan. Dilain tempat seorang pedagang nasgor curhat pada temannya: sudah sore-sore begini daganganku masih saja seperti ini bukannya dapat untung,  tapi malah kesal dan jenuh menunggu orang yang mau membeli, apalagi harga minyak goreng dan telor semakin hari semakin naik ditambah lagi harga minyak tanah dan  harga kacang semakin  naik. Rekannya menjawab: kapan yah harga-harga akan normal kembali? Yah aku tidak tahu, buat kita rakyat kecil tnggu nasib saja, untung-untung ada orang yang peduli dengan nasib orang kecil seperti kita, paling turunnya juga cuman 100, 200 atau paling banyak 1000, rekannya menjawab: padahal kita ini dihadapkan dengan permintaan kebutuhan anak dan istri yang siap menyambut hasil usaha kita, untuk makan sore dan pagi. Tukang nasgor menjawab: aku juga sama kaya kamu seperti itu. Lanjutnya, pegawai negeri mendingan enak ketika harga-harga pada naik maka gajinya pun naik, kalu kita, yah yang ada cuman menunggu waktu kapan keadaan bisa berubah lagi seperti dulu yang tidak terlalu dibebani dengan problema hidup. Tapi kita patut bersyukur yang penting kan, hasil usaha kita sok sanos saalit nu penting mah berekah.

Daripada Cerita diatas sangat tumpah ruah dan seringkali kita mendengarnya, baik dirumah,  dijalan atupun dikendaran. Mungkin sudah menjadi makanan dan pendengaran kita sehari-hari apalagi pasca kenaikan harga-harga pokok.

Nilai sebuah moral dizaman seperti ini merupakan harga mati yang mesti dimiliki oleh setiap individu baik mereka yang sehari-hari berjualan, kuli, tukang apalagi para pemerintah yang diberi amanat oleh rakyat untuk memimpin dam memperbaiki keadaan. Sudah jelas harus memiliki moralitas, jangan sampai moralnya lebih parah dari pada tukang copet. Dan alangkah baiknya, pemerintah selain bisa menjadi uswatun hasanah bagi keluarganya selaku teman hidup, mereka juga harus bisa menjadi tauladan  bagi rakyatnya untuk meneuju kehidupan yang bermoral mulia.

Ketika sebuah masyarakat tak lagi  menghargai moralitas, maka yang paling terkena dampaknya secara luas terhadap kehidupan adalah jagat politik. Karenamya jagat politik tidak bisa dipisahkan dari moralitas.

Moralitas dalam jagat politik adalah kapasitas yang dapat membedakan kebijakan, tindakan, Perilaku politik yang benar dan yang salah. Atas dasar perbedaan itulah semestinya para politisi bertindak dan berperilaku benar. Selanjutnya dengan moralitas itu pula mereka mendapat penghargaan diri ketika dapat menerapkan standar itu pada kebijakan dan perilaku politik mereka, sebaliknya merasa bersalah atau malu ketika melanggar standar.

Terlalu lama  negeri kaya, subur dan sejahtera ini dirusak. Dan perlu waktu yang lebih lama lagi untuk memperbaiki dan menyuburkannya kembali.

Dengan jasad yang sebigini adanya, saya dan mereka mencoba berbicara:

Jadilah orang–orang yang rela berkorban untuk bangsa dan tanah air, jangan menjadi orang yang rela mengorbankan bangsa dan tanah air demi kepentingan pribadi atau kelompok”.

RENUNGAN

Pejuang dan pahlawan bukanlah mereka yang tergambar mementingkan diri sendiri dan banyak memanfaatkan demi kepentingan pribadi dan menggapai kemenangan. Tapi pejuang dan pahlawan sejati, tak pernah mencuri kemenangan untuk dirinya sendiri. Bahkan mereka tak pernah berfikir menikmati perjuangan yang dilakukan. Mereka adalah patriot sejati, sebagaimana yang digambarkan para perintis kemerdekaan.

Masalah persatuan dan kesatuan bangsa bukan hanya diperlukan pada saat bangsa Indonesia menghadapi kekuasaan asing saja, melainkan terus diperlukan hingga sekarang, agar kemerdekaan bangsa dan negara yang berhasil dicapai oleh para pendahulu kita tidak digoyah dan hancur di tangan kita. Persatuan dan kesatuan menjadi obat penenang keonaran dan kekicruhan kondisi bangsa, sekaligus menjadi harga mati yang harus senantiasa dikedepankan dan dijaga dengan baik Begitu juga dengan nilai moralitas sebagai pembatas dari perbuatan tidak waras.

Tulisan ini hanyalah ungkapan rakyat jelata yang mendambakan sosok orang dan pemimpin yang senantiasa menjaga persatuan dan kesatuan serta moralitas, bijak dan mau mengorbankan diri untuk bangsa dan bukan sebaliknya.

* Penulis adalah peminat masalah sosial dan salah seorang santri Pesantren di Tasikmalaya, Yakni  Pondok Pesantren KH Zaenal Musthafa Sukamanah.

( Oleh: Edi Bukhori ) Email : edi@pstkhzmusthafa.or.id

2 Responses to Persatuan dan Kesatuan bangsa serta Moralitas modal utama kemajuan bangsa dan kokoh serta tegaknya NKRI

  • Setuju pak.Jadi yang paling penting adalah persatuan.Mari kita tata ulang bersama

  • Setuju pak.Persatuan yang paling utama dalam negeri ini.Mari kita tata ulang bersama pak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

two × 1 =