Lokasi
Pendiri & Penerus
Statistik Web
  • 13913Total visitors:
  • 33Visitors today:
  • 81Visitors yesterday:
  • 821Visitors last week:
  • 3102Visitors per month:
  • 113Visitors per day:
  • 1Visitors currently online:

Manusia Super Ringkih

“Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami mengembalikannya ke tempat yang serendah-rendahnya” (Qs. al-Tin : 4-5)
Kehidupan dunia memang indah, menawan dan mempesona yang dalam idiom sabda Nabi Muhammad Saw disebut Hulwah Khadlirah, akan tetapi keindahan dan pesonanya sering kali membuat manusia lalai dari ingat pada Allah (Qs. al-Takatsur : 1) yang Maha Ada (omnipresent), Maha Kuasa (omnipotent) dan Maha Mengetahui (omniscient). Hal ini merupakan indikasi bahwa manusia itu kerap kali mengalami degradasi (kejatuhan) moral dan spiritual, di samping indikasi bahwa manusia begitu ringkih. Maka tidak heran, karena dunia sering membuat manusia tergelincir, al-Qur’an sendiri menyebut dunia tersebut sebagai Mata’ al-Ghurur (perhiasan yang menipu daya).
Terpikatnya manusia oleh pesona dunia, lebih disebabkan karena kelemahan manusia sendiri, seperti dinyatkan oleh Allah Swt dalam salah satu firman-Nya : “Dan (karena) manusia itu diciptakan dalam keadaan lemah” (Qs. al-Nisa’ : 28). Kelemahan Manusia teraktualisasi dalam beberapa karakter dasarnya seperti sifat tergesa-gesa “Dan memang manusia itu bersifat tergesa-gesa” (Qs. al-Isra’ : 11), serta sifat tiranik (melampaui batas) “Sungguh manusia itu benar-benar tiranik” (Qs. al-‘Alaq : 6). Kedua sifat ini (tergesa-gesa dan tiranik) berimplikasi pada prilaku manusia yang selalu menginginkan segala hal yang serba instan, lebih mendahulukan kebahagiaan kekinian (dunia) dari pada kebahagiaan yang dijanjikan (akhirat), serta lebih mementingkan sesuatu yang nisbi (relatif) dari pada sesuatu yang mutlak (absolut), dan lebih mengutamakan dimensi eksoteris (lahiri) dari pada dimensi esoteris (batini). Ketergesa-gesaan dan tiranik adalah prototipe dari manusia yang tak berdaya dan tak kuasa menahan diri, yang dalam al-Qur’an disimbolkan lewat sosok Musa as dan Fir’aun.
Suatu saat Nabi Musa as ditanya oleh kaumnya, “Adakah di dunia seseorang yang lebih pandai dari anda?” Dengan serentak Nabi Musa menjawab “Tidak ada”. Jawaban Nabi Musa ini langsung mendapat teguran dari Allah Swt seraya menyatakan, bahwa ada manusia (hamba Allah yang saleh : Hidir as) yang lebih pandai dari pada Musa. Hal inilah yang menyebabkan Nabi Musa bersikeras untuk bisa bertemu dengan hamba Allah tersebut. Deretan ayat al-Qur’an dalam Qs. al-Kahf : 60-82 adalah serangkaian kisah bagaimana manusia yang diwakili lewat sosok Nabi Musa as begitu tergesa-gesa dan tak kuasa menahan diri.
Sementara Fir’aun yang dalam strata sosial masyarakatnya merupakan orang menduduki kasta tertinggi sebagai seorang raja dengan bala tentara yang besar dan dahsyat kehebatannya, secara lantang dan terang-terangan ia memproklamirkan dirinya sebagai tuhan bagi kaumnya (Ana Rabbukum al-A’la). Karena itulah maka dalam al-Qur’an Fir’aun sangat dikutuk dan didekritkan sebagai manusia tiran (yang melampaui batas) “Sungguh Fir’aun itu telah melampaui batas (tiranik)” (Qs. al-Nazi’at : 17). Maka pantas bila di akhir episode kehidupannya Fir’aun mengalami kematian yang sangat mengerikan dan tragis, ditenggelamkan di lautan (Qs. al-Baqarah : 50).
Kendatipun demikian, bukan berarti manusia akan selalu berada dalam kejatuhan moral dan spiritual tanpa pernah bisa naik ke puncak ketinggian dan kemuliaan, karena pada dasarnya manusia itu diciptakan dari dua bahan baku yang paradoksal, sebagaiman diinformasikan oleh Allah Swt. Menurut pandangan al-Qur’an manusia diciptakan dari Min Hama’ Masnun (tanah liat dari lumpur hitam yang diberi bentuk) yang selanjutnya dipadukan dengan ruh ilahi yang dalam idiom al-Qur’an disebut Min Ruhii (dari ruh Ku) (Qs. al-Hijr : 28-29). Kedua hal ini tanah dan ruh ilahi merupakan dua simbol yang bertentangan, yakni tanah sebagai simbol kehinaan dan ruh ilahi sebagai simbol kemuliaan, demikian kurang lebih pendapat Ali Syari’ati. Sementara dalam pandangan kaum mistikus (sufi) kedua hal tersebut, yakni tanah melahirkan potensi kejelekan (nasut) dan ruh ilahi melahirkan potensi kebajikan (lahut), sebagaimana dinyatakan oleh al-Qur’an : “Maka Kami (Allah) ilhamkan kepada jiwa (manusia) itu jalan kejelekan dan (jalan) kebaikan” (Qs. asy-Syams : 8). Menurut M Quraish Shihab, kedua potensi dasar ini tanah dan ruh ilahi harus selalu berada dalam keadaan serasi, selaras dan harmonis, karena hal itulah yang akan dapat mengangkat manusia ke tinggkat Ahsan al-Taqwim (sebaik-baiknya bentuk).
Dengan demikian, meskipun Manusia sering kali tergelincir pada kejatuhan moral dan spiritual, akan tetapi manusia pun masih berpeluang untuk naik ke puncak ketinggian moral dan spiritual. Hal ini terefleksi dalam hati kecil manusia (sanubari) yang selalu rindu untuk lebih dekat dengan Tuhannya. Pada tahap selanjutnya hal ini akan mendorong manusia untuk melakukan serangkaian penyucian jiwa dengan cara berbuat kebajikan. Maka benar kata Dante bahwa manusia itu asalnya berada dalam kesucian jiwa (paradiso), kemudian terjatuh pada jurang kehinaan (inferno),dan akan kembali menjadi suci dengan melakukan penyucian jiwa (purgatorio). Penulis adalah sala-seorang Santri Pesantren KH. Zainal Musthafa Sukamanah Tasikmalaya Jawa Barat.
SEMOGA Q-TA DAPAT MENYUCIKAN JIWA INI, DAN TIDAK HANYA MERASA JIWA INI SUCI…..!!!
Copyright: Pesantren KH. Zainal Musthafa Sukamanah Tasikmalaya Jawa Barat Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three × 5 =