Lokasi
Pendiri & Penerus
Statistik Web
  • 13913Total visitors:
  • 33Visitors today:
  • 81Visitors yesterday:
  • 821Visitors last week:
  • 3102Visitors per month:
  • 113Visitors per day:
  • 1Visitors currently online:

Semua ini kulakukan karena aku mencintai kalian

Karawang 6 juli yang lalu, seperti duduk di ujung sebuah permadani hijau terbesar di dunia dan seolah berdiri di gigir pantai samaudra yang tak bertepi. Begitulah kesan yang saya dapati ketika saya memasuki sebuah daerah yang terkenal sebagai pemasok beras terbesar ke Jakarta. Karena konon, kurang lebih 50% beras yang masuk ke Jakarta itu dari hasil produksi sawahnya.

Dan tulisan ini, bukan hendak membahas tentang karawang dan segala permasalahannya. Karena untuk masalah itu, pastinya telah ada pihak yang lebih pantas dan mampu membahas setiap permasalahan dengan beserta solulusi-solusinya. Tapi saya hanya hendak menulis tentang setitik hikmah yang saya dapatkan dari kunjungan saya pada sebuah acara reuni Alumni Pesantren KH. zainal Musthafa Sukamanah yang kemarin sempat di adakan di sebuah rumah makan yang letaknya tak begitu jauh dari pintu tol karawang barat.

Di sana, saya memang tak menemukan banyak orang yang saya kenal, tapi paling tidak, saya masih bisa bersyukur, karena Allah masih berkenan mempertemukan saya dengan seorang teman se-angkatan yang sampai kini masih menjadi dewan santri dan seorang kakak kelas juga seorang adik kelas yang kebetulan keduanya berdomisili di karawang. Yang dengannya, keadaan-pun tak terlalu memaksa saya untuk terdiam dan memojokkan saya dalam kesendirian.

Dan walaupun sedikit orang yang saya kenal. Saya masih tetap bersyukur, karena Allah masih memberikan kenan pada mata saya untuk melihat wajah Pak Acep, Pak Atam dan Pak yuyus. Wajah-wajah yang ketika saya melihatnya telah mengingatkan saya akan Allah.

Terlebih untuk sebuah pesan yang di sampaikan pak acep, saya benar-benar mensyukurinya. Sebuah pesan yang selalu bisa menjadikan kita yang mendengar mejadi kecil, kerdil dan tak berarti di hadapan Allah. Ya, karena pesan yang disampaikannya, adalah ucapan seorang hamba yang tampaknya sangat senang berbicara tentang kebesaran Tuhannya ketimbang dirinya. Ucapan seorang hamba yang telah benar-benar mengakui kebesaran Tuhannya.

Dan setelah beliau menyelesaikan pesan-pesannya. Para alumni pun di perkenan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk beliau jawab. Dan di antara penanya-penanya tersebut. Ada seorang penanya(alumni) yang sebenarnya, dia adalah seseorang yang telah menggoda saya untuk menulis tulisan ini. Sebutlah dia hamid, seorang penanya yang pertanyaanya sempat terputus oleh tangisnya. Entah apa yang telah menyebabkan dia menangis. Tapi yang jelas, ada sebaris kesimpulan yang terekam sebelum detik-detik ketika ia menangis, “Bahwa dia merasa bangga sekali terhadap teman-temannya saat ini. Karena mereka telah menjadi orang-orang yang berhasil. Ada yang jadi praktisi hukum, pendidikan (dosen)dan ada juga yang menjadi abdi Negara. Sementara dia mengakui bahwa dirinya hanya seorang tukang kredit”. Dan pak Acep-pun coba membesarkan jiwa seorang hamid, dengan meyakinkannya, bahwa profesi bukanlah tolak ukur kemuliaan seseorang dan peluang ketenangan jiwa, itu lebih besar bagi seorang pebisnis ketika ia mau memahaminya.

Saya jadi teringat kisah Tentang Imam Abu Hanifah, seorang ulama besar yang pernah mendatangi guru ngaji kerumahnya untuk mengajar al-qu’an kepada anaknya. Suatu hari, ketika anaknya itu sudah mampu membaca al-fatihah dengan baik, abu hanifah merasa senang. Iapun memberi imbalan kepada si guru ngaji sebanyak 50 dinar, sebagai tanda terima kasihnya. Tetapi guru ngaji itu menolak. Ia menukas, “aku ini guru ngaji, lagi pula aku baru bisa mengajarkan al-fatihah kepada anak anda.” Mendengar jawaban itu Abu Hanifah langsung menegurnya, “jangan kamu remehkan pekerjaanmu. Al-qur’an itu mulia, bahkan 50 dinar ini tidak cukup untuk menandingi kemuliaan al-qur’an”.

Tampaknya, si guru ngaji ini tak terlalu pede dengan pekerjaannya. Dan mungkin, ini pula yang dirasakan oleh seorang hamid dan mungkin kita juga pernah mengalami hal serupa dengan pekerjaan kita. karena terkadang malu tuk hanya sekedar mengakui pekerjaan kita, karena mungkin kita merasa bahwa perkerjaan kita tidak terlalu menjanjikan secara materi. Padahal sesungguhnya, setiap pekerjaan itu mulia dan punya perannya sendiri dalam kehidupan.

Dan hari ini, Setiap kita tentu punya juga pekerjaan. Dari sekedar tukang sapu, tukang cuci, pembantu, pengumpul barang bekas atau ibu rumah tangga. Atau bahkan yang lebih dari itu ; guru, petani, atau pedagang.

Kalau kita sekilas melihat pekerjaan itu dengan kasat mata. Mungkin kita akan memandangnya sebelah mata. Karena sebahagian kita masih mengannggap pekerjaan itu rendah, tak layak atau hina. Padahal pekerjaan itu ada pada bagaimana cara ketika kita memandangnya. Karena ia bisa jadi mulia ketika kita memang mau memuliakannya. Dan sebaliknya, ia menjadi hina ketikta kita memang menghinakannya.

Mungkin seperti seorang tukang sapu yang mencoba memaknai pekerjaannya dengan mengawalinya dengan niat yang baik karena Allah dengan disertai keyakinan Bahwa Allah itu indah dan menyukai akan keindahan. Sehingga tak ada lagi alasan yang dapat menyempitkan dan menghinakan kita ketika kita menyadari bahwa yang kita lakukan adalah sesuatu yang Allah Menyukainya dan manusia bisa merasa nyaman karenanya.

Dan juga seperti seorang pejabat, yang dengan jabatannya telah melakukan penyelewengan kekuasaan dengan melakukan korupsi. Maka bukan hanya Allah yang membencinya, tapi manusia juga merasa rugi karenanya. Maka sesunggunya ketika itu ia telah menghinakan pekerjaannya.

Dan dalam hal ini, Rasulullah saw pun pernah memberikan motivasi kepada kita. Yaitu dengan cara membingkai pekerjaan kita dengan makna di baliknya. Suatu ketika Nabi dan para sahabat melihat ada seorang laki-laki yang ulet sekali dalam bekerja. Tiba-tiba ada salah seorang sahabat yang angkat bicara, “Wahai Rasulullah, andai saja keuletannya dipergunakan di jalan Allah.”Rasulullah menjawab, “Apabila dia keluar mencari rezeki karena anaknya yang masih kecil, maka dia di jalan Allah. Apabila dia keluar mencari rejeki karena kedua orang tuanya yang sudah renta, maka dia di jalan Allah. Apabila dia keluar mencari rejeki karena dirinya sendiri supaya terjaga harga dirinya, maka dia di jalan Allah. Apabila dia keluar mencari rejeki karena riya’ dan kesombongan, maka dia di jalan setan.” (Al-Mundziri, At-Targhîb wa At-Tarhîb)

Sehingga adalah benar jika dalam membesarkan jiwa seorang hamid, Pak Acep mengatakan bahwa profesi tak bisa menjadi tolak ukur kemuliaan seseorang dan peluang ketenangan jiwa lebih besar bagi seorang pebisnis ketika ia mau memahaminya.

Ya, Karena pada akhirnya, tak ada alasan bagi seorang hamid untuk menyombongkan pekerjaannya dihadapan manusia. Sehingga tak ada pula alasan yang bisa menjaukannya dari jalan Tuhannya. Terlebih ketika sebelum berangkat bekerja seorang hamid sempat berkata kepada anak-anak dan istrinya, “semua ini kulakukan, karena aku mencintai kalian”

Wallahu a’lam bisshawab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

20 − 6 =