Lokasi
Pendiri & Penerus
Statistik Web
  • 23430Total visitors:
  • 46Visitors today:
  • 73Visitors yesterday:
  • 663Visitors last week:
  • 1437Visitors per month:
  • 88Visitors per day:
  • 0Visitors currently online:

Sinar sang inspirator dan motivator lembaran 2010

Mudah-mudahan Allah swt yang maha mencipta dan maha mengatur alam semesta beserta isinya, mengetahui karakter hamba-hambanya, menolong kita menjadi orang yang sanggup mengubah diri, tentunya menuju yang lebih baik.

Untuk mampu berpenampilan baik, ternyata kita membutuhkan cermin agar mengetahui apa yang harus diperbaiki pada wajah ataupun tubuh kita, kendati begitu sebening apapun sang cermin kalau kita tidak pernah mau melakukan sesuatu sesudah menatap diri dicermin tersebut maka sama sekali tidak ada artinya, bahkan orang yang paling malang adalah orang yang marah ke cermin karena yang dlihat itu tidak cocok dengan keinginannya. Tampaknya siapapun yang ingin jati dirinya terus menerus semakin baik dari waktu ke waktu tentunya harus senantiasa belajar dari cermin diri dan cermin serta potret orang-orang di sekitar sebagai bahan evaluasi diri. Sejenak kita dalami dan resapi penomena news atau berita di media, cukup banyak drama yang disajikan yang sedikit banyak memberikan kepada kita potret saudara, lingkungan bahkan kondisi bangsa saat ini. Wafatnya sang legenada dan sang ulama menghiasi berita di media pada akhir tahun, mulai babak sesaat sebelum meninggal, perawatan bahkan sampai detik hembusan terakhir sang kyai, Kita lihat di beberapa stasiun televisi yang paling actual dan terupdate yang mereka sajikan. Potret perayaan menyambut tahun baru di berbagai wilayah di tanah air bahkan info perayaan di belahan dunia kita saksikan seolah didepan mata, betapa gemuruh ceria funtastis bahkan ada yang terkesan hura-hura. Media pun menyajikan sepak terjang selebritis, pemerintahan, kondisi ekonomi sosial politik dengan ragam fluktulasi sampai konsolidasi yang tersaji rapi. Tentunya tidak luput dari acungan jempol dan cercaan antara pro dan kontra. Itulah sedikit sekelumit potret lingkungan dan kondisi bangsa Indonesia yang terekam hingga akhir 2009. Tentunya satu kalimat yang menjadi dambaan semua orang yaitu: “Bagaimana hari ini lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari sekarang”. Menyambut tahun baru ada drama yang tersaji di televisi, yang merupakan potret bangsa Indonesia yang tentunya banyak pelajaran berharga untuk yang menyaksikan dan mendegarnya sekaligus cermin untuk semangat hari esok yang lebih baik dan dihiasi aktivitas yang mulia. Drama itu adalah sosok “sinar” seorang bocah berumur enam tahun yang hidup dan berjuang di sebuah Desa terpencil di daerah Sulawesi. Beliau di kenal luas setelah dikunjungi seorang artis beken yang sedang beken lewat karya syair dan suara nan merdunya yaitu Charly ST 12. “Sinar” seorang bocah yang sangat berbeda dengan kebanyakan bocah di sekelilingnya atau bahkan di seantero negeri Indonesia tercinta. Beliau harus rela ditinggal ayahnya dan dihadapkan dengan kondisi ibunya yang terbaring lumpuh menunggu belas kasihan dan perjuangan dirinya. Kondisi tersebut membuat sang bocah harus berjuang dalam kungkungan kemiskinan, mencari makan untuk keperluan diri dan ibunya yang sedang terbaring lesu di tengah usianya yang masih balita yang seharusnya bisa menikmati masa kecil, kasih saying orang tua dan bisa belajar dengan tenang dan nyaman. Namun ada sejuta cerita dibalik kepiluan dan keunikannya yang membuat hati kita merinding, bergetar bahkan terpesona melihat dan menyaksikan sinar hatinya yng mulia. “Sinar” menunjukan ketulusan hatinya untuk merawat sang bunda yang terkapar dari mulai makan minum, memijit dan merawat nya dengan antusias dan tanpa lelah. Pengorbanannya ditnjuakan beliau sejak pagi hari dari memasak nasi dan air dan menyuapi sang bunda sebelum ia berangkat ke sekolah. Selepas beres pekerjaan rumah, ia pun menunjukan kepribadian dan sosoknya yang semangat dan tegar dengan berangkat menuntut Ilmu di sebuah SD kelas jauh yang letaknya cukup jauh dari rumahnya. Drama beliaupun kembali membuat hati kita pilu dan membuat hati kita merana. Terbukti ia berangkat sekolah harus melewati hutan yang cukup panjang dan sungai yang membentang yang harus ia lalui. Iapun dengan suka cita dan semangatnya mampu menaklukan keras dan curamnya kehidupan yang ia jalani. “Sinar” sang bocah yang memberikan inspirasi dan motivasi banyak orang, hatimu yang tulus membuat iri semua orang yang menyaksikan, drama pengorbananmu semoga menjadi pecut bagi mereka yang hanya bisa mengorbankan orang lain demi nafsunya. Dan semoga semanagtmu mampu menjadi pelipur lara bangsa Indonesia yang menyongsong tahun baru dengan yang lebih baik dari hari kemarin. Semoga kita mengambil pelajaran dan hikmah dari sang bocah bernama “Sinar”. “Sinar” tetaplah menjadi seorang yang mampu menyinari semua orang dengan refleksi ketulusan, gemar berkorban dan gelora semangatmu.

*Penulis adalah salah seorang santri Ponpest Perg KH. Zainal Musthafa Sukamanah dan  peminat masalah sosial*

Oleh: Edi Bukhori

Copyright: Pesantren Yayasan KH. Zainal Musthafa Sukamanah Tasikmalaya Jawa Barat Indonesia

One Response to Sinar sang inspirator dan motivator lembaran 2010

  • Dear Serena:Love it. Your dad is a wise man who encourage his kids that benviielg is seeing.Recently, I realize that benviielg is not only seeing, but, has to go through the imagining process first too. This is where the creativity comes into play.Our youth forgets how to imagine because the harsh reality has forced them to seek security and certainty. I really don’t know what would I do if I were your age and face this unfriendly economy.This is why I co-founded Ripplemaker Foundation to encourage young people to take accountability and not hand out or any entitlement and start their own micro business with an understanding that he/she will never get rich, but they will surely live a life they choose to.It is this get rich fast mindset promoted by media and society that has plagued our youth to look down on any meagre income or manual laborer. An artist knows that voluntary poverty is the price to pay to live a life with free spirit and not to be slaved by any means.I am the lucky few who started business by accident. I never imagine to be rich, however, I do put my freedom and independence ahead of any wealth accumulation or empire building.Starting small is the mantra I gave to anyone who is willing to listen. Dream big will come naturally when you have repeat paid customers.Action expresses priority.Ping

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four × three =