Lokasi
Pendiri & Penerus
Statistik Web
  • 13913Total visitors:
  • 33Visitors today:
  • 81Visitors yesterday:
  • 821Visitors last week:
  • 3102Visitors per month:
  • 113Visitors per day:
  • 1Visitors currently online:

’’Sinar” sang inspirator dan motivator lembaran 2010

Mudah-mudahan Allah swt yang maha mencipta dan maha mengatur alam semesta beserta isinya, mengetahui karakter hamba-hambanya, menolong kita menjadi orang yang sanggup mengubah diri, tentunya menuju yang lebih baik.

Untuk mampu berpenampilan baik, ternyata kita membutuhkan cermin agar mengetahui apa yang harus diperbaiki pada wajah ataupun tubuh kita, kendati begitu sebening apapun sang cermin kalau kita tidak pernah mau melakukan sesuatu sesudah menatap diri dicermin tersebut maka sama sekali tidak ada artinya, bahkan orang yang paling malang adalah orang yang marah ke cermin karena yang dlihat itu tidak cocok dengan keinginannya. Tampaknya siapapun yang ingin jati dirinya terus menerus semakin baik dari waktu ke waktu tentunya harus senantiasa belajar dari cermin diri dan cermin serta potret orang-orang di sekitar sebagai bahan evaluasi diri. Sejenak kita dalami dan resapi penomena news atau berita di media, cukup banyak drama yang disajikan yang sedikit banyak memberikan kepada kita potret saudara, lingkungan bahkan kondisi bangsa saat ini. Wafatnya sang legenada dan sang ulama menghiasi berita di media pada akhir tahun, mulai babak sesaat sebelum meninggal, perawatan bahkan sampai detik hembusan terakhir sang kyai, Kita lihat di beberapa stasiun televisi yang paling actual dan terupdate yang mereka sajikan. Potret perayaan menyambut tahun baru di berbagai wilayah di tanah air bahkan info perayaan di belahan dunia kita saksikan seolah didepan mata, betapa gemuruh ceria funtastis bahkan ada yang terkesan hura-hura. Media pun menyajikan sepak terjang selebritis, pemerintahan, kondisi ekonomi sosial politik dengan ragam fluktulasi sampai konsolidasi yang tersaji rapi. Tentunya tidak luput dari acungan jempol dan cercaan antara pro dan kontra. Itulah sedikit sekelumit potret lingkungan dan kondisi bangsa Indonesia yang terekam hingga akhir 2009. Tentunya satu kalimat yang menjadi dambaan semua orang yaitu: “Bagaimana hari ini lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari sekarang”. Menyambut tahun baru ada drama yang tersaji di televisi, yang merupakan potret bangsa Indonesia yang tentunya banyak pelajaran berharga untuk yang menyaksikan dan mendegarnya sekaligus cermin untuk semangat hari esok yang lebih baik dan dihiasi aktivitas yang mulia. Drama itu adalah sosok “sinar” seorang bocah berumur enam tahun yang hidup dan berjuang di sebuah Desa terpencil di daerah Sulawesi. Beliau di kenal luas setelah dikunjungi seorang artis beken yang sedang beken lewat karya syair dan suara nan merdunya yaitu Charly ST 12. “Sinar” seorang bocah yang sangat berbeda dengan kebanyakan bocah di sekelilingnya atau bahkan di seantero negeri Indonesia tercinta. Beliau harus rela ditinggal ayahnya dan dihadapkan dengan kondisi ibunya yang terbaring lumpuh menunggu belas kasihan dan perjuangan dirinya. Kondisi tersebut membuat sang bocah harus berjuang dalam kungkungan kemiskinan, mencari makan untuk keperluan diri dan ibunya yang sedang terbaring lesu di tengah usianya yang masih balita yang seharusnya bisa menikmati masa kecil, kasih saying orang tua dan bisa belajar dengan tenang dan nyaman. Namun ada sejuta cerita dibalik kepiluan dan keunikannya yang membuat hati kita merinding, bergetar bahkan terpesona melihat dan menyaksikan sinar hatinya yng mulia. “Sinar” menunjukan ketulusan hatinya untuk merawat sang bunda yang terkapar dari mulai makan minum, memijit dan merawat nya dengan antusias dan tanpa lelah. Pengorbanannya ditnjuakan beliau sejak pagi hari dari memasak nasi dan air dan menyuapi sang bunda sebelum ia berangkat ke sekolah. Selepas beres pekerjaan rumah, ia pun menunjukan kepribadian dan sosoknya yang semangat dan tegar dengan berangkat menuntut Ilmu di sebuah SD kelas jauh yang letaknya cukup jauh dari rumahnya. Drama beliaupun kembali membuat hati kita pilu dan membuat hati kita merana. Terbukti ia berangkat sekolah harus melewati hutan yang cukup panjang dan sungai yang membentang yang harus ia lalui. Iapun dengan suka cita dan semangatnya mampu menaklukan keras dan curamnya kehidupan yang ia jalani. “Sinar” sang bocah yang memberikan inspirasi dan motivasi banyak orang, hatimu yang tulus membuat iri semua orang yang menyaksikan, drama pengorbananmu semoga menjadi pecut bagi mereka yang hanya bisa mengorbankan orang lain demi nafsunya. Dan semoga semanagtmu mampu menjadi pelipur lara bangsa Indonesia yang menyongsong tahun baru dengan yang lebih baik dari hari kemarin. Semoga kita mengambil pelajaran dan hikmah dari sang bocah bernama “Sinar”. “Sinar” tetaplah menjadi seorang yang mampu menyinari semua orang dengan refleksi ketulusan, gemar berkorban dan gelora semangatmu. Oleh Edi Bukhori

Penulis adalah salah seorang santri Pesantren Di Tasikmalaya Pondok Pesantren KH. Zainal Musthafa Sukamanah dan  peminat masalah sosial

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four × 4 =