Lokasi
Pendiri & Penerus
Statistik Web
  • 23430Total visitors:
  • 46Visitors today:
  • 73Visitors yesterday:
  • 663Visitors last week:
  • 1437Visitors per month:
  • 88Visitors per day:
  • 0Visitors currently online:

SUDAHKAH KITA HIDUP – Tasawuf

SUDAHKAH KITA HIDUP – Tasawuf

“Ketika Saya membaca buku yang berjudul “Pengantar Ke Filsafat Hukum”, saya sempat tercenung sejenak, dan terdiam beberapa saat. Tapi kemudian saya lanjutkan kembali membaca hingga selesai satu faragraf. Ada satu ungkapan sederhana namun filosofis. Ungkapan itulah yang membuat saya tercenung beberapa saat. Menyebutkannya kembali adalah hal yang menyenangkan, karena ungkapan tersebut cukup menarik. Begini ungkapannya “Berkenalan dengan Filsafat dan berfilsafat adalah dua kegiatan yang berbeda”. Berkenalan dengan filsafat berarti kita berusaha untuk mampu mengidentifikasi hal-hal yang telah disepakati dan ditunjuk sebagai filsafat. Aktivitas ini membuat kita bergaul dengan aneka pemikiran dan perenungan filosofis dari para filsuf. Di sini, filsafat menjadi objek atas aktivitas kita sebagai subjek. Sedangkan berarti kita melakukan berfilsafatrefleksi kritis atas semesta hidup kita sebagai manusia. Hasil dari refleksi tersebut adalah pemikiran dan perenungan filosofis. Filsafat tidak menjadi objek dari aktivitas kita, akan tetapi menjadi predikat atau aktivitas diri kita sebagai subjek. Objeknya adalah kehidupan. Di sini, kita menjadi filsuf minimal untuk hidup dan diri kita sendiri. Karena itu berkenalan dengan filsafat tidaklah sama dengan berfilsafat.
Menurut hemat saya, ungkapan tersebut akan lebih bermakna jika sedikit diubah menjadi “Menjalni hidup dan hidup adalah dua aktivitas yang berbeda”. Menjalani hidup berarti kita memposisikan diri kita sebagai subjek di satu sisi, dan hidup sebagai objek atas aktivitas kita di sisi yang lain. Subjek dan objek merupakan dua entitas yang berbeda. Keduanya memiliki tempat masing-masing, bahkan mungkin tak mustahil keduanya memiliki jarak yang cukup jauh, sehingga untuk mengenal dan mengamatinya kita butuh cara. Cara inilah yang sering kita sebut sebagai metode atau metodologi (berasal dari bahasa Yunani “Methodos” yang berarti jalan). Metodologi adalah cara yang kita pilih untuk bisa berhubungan dengan objek, bahkan tidak hanya berhubungan tapi juga berdekatan. Karena itu metodologi juga disebut approach (pendekatan). Metodologi yang kita gunakan dalam pengamatan suatu objek sangat ditentukan oleh p (erspektifpoint of view) yang kita pilih. perspektif inilah yang menentukan tempat kita dalam mengamati hal yang kita amati. Kita tidak bisa menggunakan banyak perspektif karena keterbatasan kita sebagai manusia.
Begitu pula dalam kegiatan pengamatan hidup, kita butuh metode dan perspektif. Menurut saya, perspektif yang paling tepat adalah Islam; dan metodologi yang cocok adalah metodologi normatif (berasal dari bahasa Yunani “Norma” yang berarti pedoman atau ukuran). Karena Islam sendiri adalah agama yang memiliki norma (ukuran) yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah. Dengan demikian, metodologi normatif dan perspektif Islam kita bisa mengenal hidup, bahkan kita menjadi tahu akan kebermaknaan hidup yang selanjutnya kita tidak hanya menjalani hidup tapi juga kita hidup. Di sini, hidup tidak hanya sebatas objek, tapi juga menjadi predikat dari kita.
Dalam Qs. al-Mulk (62) : 2, Allah Swt berfirman : Menurut Anis Matta, ayat bini mengindikasikan bahwa Allah Swt menciptakan kematian terlebih dahulu, terus kehidupan. Artinya Allah menciptakan ketiadaan terus ada. Ada dan tiada adalah bagian dari dimensi waktu. karena itu Dr. Yusuf al-Qaradhawi menyatakan “Dialah Allah yang telah menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapakah diantara kamu yang lebih baik amalnya, dan Dia maha perkasa, maha pengampun”.”al-Waqt Huwa al-Hayat” (waktu adalah kehidupan ).
Jika waktu adalah kehidupan, maka tidak terlalu salah bila saya membalikannya “al-Hayat Hiya al-Waqt” (kehidupan adalah waktu). Kebermakmaknaan hidup hanya akan bisa dicapai ketika kita mampu memaknai waktu. Memaknai waktu bukanlah pekerjaan yang mudah. Karena waktu itu sendiri yang sering membuat kita terperdaya. Bahkan hal ini pernah oleh Nabi Saw melalui salah satu sabdanya : “Ada dua nikmat yang mayoritas manusia terperdaya karenanya, yaitu kesehatan dan kesempatan” (HR. Bukhari). Kesempatan itulah yang disebut dengan waktu, dan waktu adalah kesempatan.
Dalam beberapa ayat al-Qur’an Allah Swt bersumpah dengan makhluknya, yaitu waktu (seperti demi masa, demi waktu dhuha, dll), hal ini merupakan indikasi bahwa waktu adalah hal yang sangat urgen (penting), karena waktu adalah kesempatan, sedangkan kesempatan hanya satu kali dan tak pernah terulang kembali. Kesadaran akan waktu (kesempatan) yang tidak pernah terulang inilah yang membangkitkan semangat kita untuk terus berkarya (beramal shalih). Amal shalih yang kita lakukan dengan penuh kesadaran dan keinsyafan merupakan hal yang membuat hidup kita bermakna. Hidup yang bermakna adalah hidup yang hakiki (sebenarnya). Dengan demikian kita tahu, kenapa Allah menyatakan bahwa hidup dan mati adalah ujian untuk mengetahui siapa di yang paling baik amalnya?….. Karena hidup tanpa amal shalih adalah bentuk lain dari kematian sebelum mati.
Penulis adalah sala-seorang Santri Pesantren KH. Zainal Musthafa Sukamanah Tasikmalaya Jawa Barat.
SEMOGA KITA BISA HIDUP !!!!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × 1 =