Lokasi
Pendiri & Penerus
Statistik Web
  • 23430Total visitors:
  • 46Visitors today:
  • 73Visitors yesterday:
  • 663Visitors last week:
  • 1437Visitors per month:
  • 88Visitors per day:
  • 0Visitors currently online:

Tawassul Melalui Nabi saw dan Para Sahabat

Al Wasilah secara bahasa al Qurbah (pendekatan diri). Bagi setiap muslim, mendekatkan diri kepada Allah swt dan berusaha mendapatkan pahala dan RidhoNya merupakan sebuah tuntutan dalam kehidupannya. Allah swt mensyariatkan bermacam amal ibadah sekaligus membukakan pintu untuk mendekatkan diri kepadaNya sebagai salah satu bentuk limpahan kasih sayangNya kepada kita; sehingga dengan cara melakukan berbagai macam ibadah tersebut, manusia bisa mendekatkan diri kehadirat-Nya. Maka dapat kita pahami bahwa esensi dari seluruh pesan-pesan yang ada didalam al Quran berisikan perintah untuk bertawassul kepada Allah yakni mendekatkan diri kepadaNya. Menurut kesepakatan para ulama madzhab yang empat, bertawassul melalui Nabi saw hukumnya boleh bahkan Mustahab (dianjurkan) baik ketika Nabi saw masih hidup maupun sesudah wafat.Tidak ada ulama yang membantah atas kesepakatan hukum diatas kecuali Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, karena dalam pandangannya mesti dibedakan antara tawassul melalui Nabi saw tatkala beliau masih hidup dan ketika beliau sudah wafat; sementara bantahan yang beliau lontarkan itu sama sekali tidak berdasar apabila dikonfirmasikan dengan dalil-dalil alquran dan assunnah yang menjadi kesepakatan para ulama madzhab yang empat sebagai berikut:
1.Dalil-dalil al quran
A.Surat Al Maidah Ayat 35

ياايهاالذينامنوا اتقواالله وابتغوااليه الوسيلة وجاهدوا فى سبيل الله لعلكم تفلحون

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepadaNya, dan berjihadlah pada jalanNya, supaya kamu mendapat keberuntungan.
Dalam ayat tersebut orang-orang mukmin diperintahkan agar bertaqarrub kepada Allah dengan cara melakukan berbagai macam qurubat (amal-amal ibadah), sedangkan bertawassul melalui Nabi saw didalam berdoa termasuk bagian qurubat yang dimaksud tadi, yang telah ditetapkan keabsahannya oleh dalil-dalil sunnah secara terperinci, dimana tak satupun dalil atasnya yang dapat membatasi keumuman suatu wasilah atas wasilah yang lainnya.Maka perintah dalam ayat diatas bersifat ‘am mencakup semua wasilah yang diridhoi Allah disamping bahwa doa adalah ibadah yang akan diterima selama tidak mengandung unsur dosa atau memutuskan silaturahmi dan atau mengandung lafadz-lafadz yang bertentangan dengan dasar dan prinsip aqidah islam.
B.Surat An Nisa Ayat 34

وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُواْ أَنفُسَهُمْ جَآؤُوكَ فَاسْتَغْفَرُواْ اللّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُواْ اللّهَ تَوَّاباً رَّحِيماً

Dan sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.
Dalam ayat ini secara jelas Allah memerintahkan orang-orang mukmin untuk pergi mendatangi nabi seraya meminta ampunan kepada Allah diharibaan Nabi saw yang mulia. Maka dengan cara demikian sungguh permohonan ampun mereka kepada Allah berpeluang lebih untuk dapat diterima Allah swt. Dan ayat tersebut masih tetap berlaku sampai kapanpun begitu pula dengan kandungan hukumnya. 2.Dalil-dalil Sunnah

عن عثمان بن حنيف ر.ض – أن رجلا ضرير البصر أتى النبى ص.م فقال:ادع الله أن يعافينى قال: ان شئت دعيت,وان شئت صبرت فهو خير لك, فادعه,قال: فأمره أن يتوضأ فيحسن وضوءه ويدعوه بهذا الدعاء: اللهم إنى أتوجه إليك بنبيك محمّد,نبى الرحمة ,يامحمّد إنى قد توجّهت بك إلى ربّى فى حاجتى هذه لتقضى , اللهم فشفعه فيّ

 Diriwayatkan dari Utsman bin Hunaif ra: Sesungguhnya seorang lelaki buta pernah mendatangi Nabi saw lalu berkata: Berdoalah kepada Allah agar dia menyembuhkanku, lalu Nabi berkata: Bila engkau mau aku akan mendoakanmu dan jika engkau mau  bersabar maka itu lebih baik bagimu, lelaki itupun berkata: Wahai nabi berdoalah padaNya.Utsman bin Hunaif berkata: Lalu nabi saw  memerintah lelaki itu agar berwudhu dan menyempurnakan wudhunya lalu berdoa dengan doa ini (Ya Allah sesungguhnya aku memohon padaMu dan menghadapMu melalui NabiMu Muhammad, Nabi pembawa rahmat, wahai Muhammad sesungguhnya aku telah mengahadap Tuhanku melaluimu dalam hajatku ini agar dapat terkabulkan, ya Allah berilah Nabi saw kemampuan untuk memberikan syafaat padaku).(HR.Ahmad,Tirmizi,Ibnu Majah).
Hadits tersebut dianggap shahih oleh sekelompok dari kalangan Huffadz seperti At-tirmizi,Ibnu Huzaimah, Ath-Thabrani dan Al Hakim.
Hadits diatas menjadi dalil dianjurkannya berdoa memakai Shigat (bentuk kalimat) doa yang telah Nabi saw ajarkan kepada salah seorang para sahabatnya. Apalagi Rasullullah saw mengajarkan salah satu shigat dalam berdoa pada salah seorang sahabatnya lalu shigat tersebut sampai kepada kita dengan sanad yang shahih maka yang demikian itu dapat dijadikan dalil dianjurkannya berdoa dengan shigat diatas sepanjang waktu disamping tak satupun dalil yang dapat mentakhsis doa tersebut hanya untuk seorang sahabat saja maupun dalil yang membatasi berlakunya doa itu hanya ketika Nabi masih hidup. Dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya ketentuan dan hukum-hukum syariat bersifat mutlak dan umum kecuali jika ternyata ada dalil yang mengkhususkan atau yang membatasinya.
Asy-syaukani berkata dalam kitabnya (Tuhfah adz-Dzakirin):”Dalam hadits tersebut terdapat dalil dibolehkannya bertawassul kepada Allah swt melalui Rasulullah saw disertai keyakinan bahwa sesungguhnya yang menentukan/mengabulkan adalah Allah swt, Dialah Yang Maha Memberi dan Yang Maha Menolak, permintaan semua yang Dia kehendaki pasti terjadi dan semua yang tidak Dia kehendaki tidak akan pernah terjadi”.
Diantara dalil yang mengindikasikan keumuman doa tersebut dalam arti tetap berlaku untuk diamalkan baik disaat nabi masih hidup maupun sesudah wafat adalah bahwa sahabat Utsman bin Hunaif pernah menganjurkan kepada orang yang mempunyai hajat untuk membaca doa tersebut disaat Nabi sudah wafat, kejadian itu diriwayatkan oleh ath Thabrani dalam “Mu’jam ash Shagir” dan al Baihaqi dalam kitab ad Dalail an Nubuwwah: Sesungguhnya seorang laki-laki sering berseteru dengan Utsman bin Affan ra mengenai kebutuhannya sehingga Utsman bin Affan pun tidak pernah meliriknya dan memperhatikan kebutuhannya lalu lelaki tersebut mendatangi Utsman bin Hunaif untuk mengadukan hal itu kepadanya lalu Utsman bin Hunaif berkata: Pergilah ke tempat wudhu dan berwudhulah kemudian masuklah ke mesjid dan shalat dua rakaat lalu berdoalah dengan doa ini:

 “اللهم انى أسألك وأتوجه إليك بنبيك محمّد نبى الرحمة , يامحمّد انى أتوجه بك الى ربى فتقضى لى حاجتى

Kemudian lelaki itu pergi untuk melaksanakan amalan yang dianjurkan Utsman bin Hunaif, setelah selesai melakukannya lalu dia mendatangi kediaman Utsman bin Affan tiba-tiba datanglah seorang penjaga dan membawanya masuk menghadap Utsman bin Affan menyuruhnya duduk diatas karpet disisi Khalifah Utsman lalu Khalifah Utsman bertanya kepada lelaki itu sebutkanlah apa kebutuhanmu? lalu dia menyebutkannya dan Khalifah Utsman pun langsung mengabulkan hajatnya seraya berkata: Engkau tidak menyebutkan semua keperluanmu sampai detik ini padahal apa saja yang kamu butuhkan mintalah kepadaku; kemudian lelaki itu keluar dari rumah Utsman bin Affan dan pergi menjumpai Utsman bin Hunaif untuk yang kedua kali lalu berkata kepadanya: Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan karena Utsman bin Affan biasanya tidak pernah memperhatikan kebutuhanku bahkan melirikku sampai engkau mengatakan tentangku kepadanya lalu Utsman bin Hunaif berkata: Demi Allah aku tidak berbicara padanya tentangmu, hanya saja aku pernah menyaksikan Rasulullah saw didatangi oleh seorang lelaki buta lalu menyebutkan haditsnya.Al Allamah al Hafidz as Sayyid Abdullah bin ash Shiddiq al Ghimari dalam hal ini berkomentar: Hadits mengenai hal diatas mempunyai sanad yang shahih dan cerita dalam kisah tersebut sangat shahih sekali, komentar beliau dalam penshahihan tersebut disetujui oleh al Hafidz al Mundhiri dalam kitab “at Targhib” dan didukung oleh al Hafidz al Haitsami dalam kitabnya “Majma az Zawaid”. Berarti kisah diatas mengandung pengertian sesuai apa yang telah diisyaratkan oleh hadits yang berkaitan tentang hal itu serta menutup ruang bagi siapa saja yang berupaya menduga bahwa hadits diatas bersifat khusus hanya pada saat Nabi masih hidup akan tetapi justru antara kisah dan hadits tadi memperkuat dan mengokohkan kebenaran,Insyaallahu Ta’ala.

عن أبى سعيد الخضرى ر.ض عن النبى ص.م قال :من قال حين يخرج الى الصلاة : اللهم انى أسألك بحق السائلين عليك , وبحق ممشاى؛ فانى لم اخرج اشرا ولا بطرا ولا رياء ولا سمعة, خرجت اتقاء سخطك وابتغاء مرضاتك, اسألك أن تنقذنى من النار وأن تغفرلى ذنوبى انه لايغفر الذنوب الا أنت, وكل الله له سبعين ألف ملك يستغفرون له وأقبل الله عليه بوجهه حتى يفرغ من صلاته

Diriwayatkan dari Abu Said al Khudri ra dari Nabi saw berkata : (( Barang siapa yang membaca ketika keluar menuju mesjid/shalat : “Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepadaMu dengan haq orang-orang yang memohon kepadaMu dan dengan langkahku ini , sebab sesungguhnya aku tidak pergi (untuk shalat) dengan kejahatan, riya dan sum’ah, tapi aku pergi karena takut akan murkaMu dan mencari keridhoanMu, karenanya aku memohon agar Engkau menyelamatkanku dari api neraka dan mengampuni dosa-dosaku karena sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau “. Maka Allah akan mengutus bagi 70 ribu malaikat yang senantiasa memintakan ampun baginya dan Allah akan menerimanya dengan wajahNya sampai orang tersebut selesai shalatnya)).
(HR. Ahmad,Ibnu Majah,Ibnu Huzaimah.).
Hadits ini shahih menurut al Hafidz al Baghawi, al Hafidz Abu Hasan al Maqdisi/guru al Mundziri, al Hafidz ad Dimyati, al Hafidz al Iraqi dan al Hafidz Ibnu Hajar al Asqalani. Dan hadits ini menjadi dalil dibolehkannya tawassul pada Allah dalam berdoa dengan amal shaleh yaitu berjalannya orang yang berwudhu menuju masjid untuk shalat dan dengan haq orang-orang yang memohon karena Allah

.الله الذي يحيي و يميت,وهو حي لا يموت, اغفر لأمي فاطمة بنت اسد ولقنها حاجتها ووسع عليها مدخلها بحق نبيك والأنبياء الذين من قبلي, فانك ارحم الراحمين

Wahai Allah yang menghidupkan dan mematikan Dzat yang hidup dan tidak akan mati, ampunilah ibuku Fatimah binti Asad dan bimbinglah dia pada hujjahnya dan luaskanlah tempat baginya (kuburan) dengan haq NabiMu dan haq para nabi sebelumku karena sesungguhnya Engkau maha penyayang diantara orang-orang yang menyayangi.(HR. at Tabrani dalam kitab “al Ausath dan al Kabir” dan riwayat Abu Nuaim dalam kitab “al Hilyah”).
Potongan hadits diatas merupakan doa yang dipanjatkan nabi pada saat wafatnya Fatimah binti Asad ibu Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhuma. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Anas ra, dan terdapat perselisihan dalam keshahihannya ditinjau dari segi sanad akan tetapi kandungan makna dalam hadits tersebut mengukuhkan apa yang telah disirahkan dalam hadits-hadits yang shahih.

قال رسول الله صل الله عليه وسلم: لما اقترف ادم الخطيئة قال: يا رب اسالك بحق محمد لما غفرت لي,فقال الله: يا ادم,وكيف عرفت محمدا ولم اخلقه؟قال:يا رب ؛لأنك لما خلقتني بيدك,ونفخت فيّ من روحك,رفعت رأسي فرأيت على قوائم العرش مكتوبا (لا اله الا الله محمد رسول الله) فعلمت أنك لم تضف الى اسمك الا أحب الخلق اليك,فقال الله:صدقت يا أدم؛انه لأحب الخلق اليّ أدعني بحقه فقد غفرت لك ولو لا محمد ما خلقتك

Rasulullah saw bersabda : Tatkala Adam alaihissalam menyesali kesalahannya dia berdoa : Wahai Tuhanku aku memohon padaMu dengan haq Muhammad agar Engkau dapat mengampuniku, lalu Allah bertanya : Wahai Adam bagaimana engkau tahu kepada Muhammad padahal Aku belum menciptakannya? Adam menjawab : Oh Tuhanku sebab ketika Engkau menciptakanku dengan kekuasaanMu dan Kau tiupkan padaku ruhMu, aku menegadahkan kepalaku (ke atas) lalu aku melihat tulisan di atas tiang-tiang arasy (Tiada Tuhan selain Allah Muhammad Utusan Allah), sehingga aku tahu bahwa sesungguhnya Engkau tidak menyertakan namaMu kecuali dengan makhluk yang paling Engkau cintai. Lalu Allah Berfirman: Wahai Adam engkau benar, sesungguhnya Dia (Muhammad) benar-benar makhluk yang paling Aku cintai, maka mintalah kepadaKu dengan haqnya sungguh Aku telah mengampunimu, dan seandainya tidak ada Muhammad tentu Aku tidak akan menciptakanmu (HR.at Tabrani dalam kitab “al Ausath” dan al Hakim dalam kitab “al Mustadrak”).
Hadits ini dishahihkan oleh al Hakim atas komentarnya : Hadits ini shahih sanadnya dan adalah hadits pertama kali yang saya utarakan kepada Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dalam kitab ini (al Mustadrak), sementara al Hafidz adz Dzahabi sungguh sangat berlebihan ketika memvonis hadits tersebut sebagai hadits Maudhu’, dengan alasan didalam sanadnya terdapat nama Abdurrahman, sedangkan Abdurrahman bukanlah seorang pembohong maupun yang dianggap tukang bohong sehingga paling tidak hadits ini cukup dianggap Dha’if saja karena yang demikian itu tidak dapat menyebabkan hadits menjadi Maudhu’, tapi yang paling rendah derajatnya adalah Dhai’f, sedangkan hadits Dha’if itu sendiri boleh diamalkan dalam Fadhail al A’mal, dan dalam hadits tersebut terdapat petunjuk yang jelas mengenai dibolehkannya tawassul melalui Nabi saw dalam berdoa.

عن ابن عباس رضي الله عنه أن رسول الله صل الله عليه وسلم قال: ان لله ملائكة في الأرض سوى الحفظة يكتبون ما يسقط من نوى الشجر,فاذا أصاب أحدكم عرجة بأرض فلاة فاليناد:أعينوا عباد الله

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra bahwa sesungguhnya Rasulullah saw bersabda : Sesungguhnya Allah memiliki para malaikat di bumi selain malaikat Al Hafadhah yang bertugas mencatat setiap daun yang jatuh dari pepohonan, maka bilamana salah seorang dari kalian tersesat ketika berjalan di padang pasir (gurun)  maka hendaklah berseru : Wahai hamba-hamba Allah tolonglah. (HR. Ibnu Syaibah dalam Mushannafnya, ath Thabrani dan al Baihaqi dalam kitab “Syu’ub al Iman”). Sedangkan al Hafidz al Haitsami mengenai sanad hadits tersebut beliau berkata : Hadits riwayat Thabrani dan rijalnya Tsiqot.
Riwayat diatas menjadi dalil dibolehkannya meminta pertolongan kepada makhluk-makhluk yang tidak terlihat oleh kita karena Allah azza wa jalla menjadikan mereka sebagai sebab dalam pertolonganNya kepada kita sehingga kita dapat bertawassul kepada Allah melalui mereka demi tercapainya maksud seperti melalui para malaikat, sementara mengqiyaskan para malaikat dengan arwah orang-orang shaleh tidak terlalu jauh karena mereka tergolong “Ajsam Nuroniyyah” (Jisim-jisim yang bersifat cahaya) yang kekal di alamnya.

عن مالك الدار-وكان خازن عمر-قال: أصاب الناس قحط في زمن عمر,فجاء رجل الى قبر النبي صل الله عليه وسلم فقال: يارسول الله استسق لأمتك فانهم قد هلكوا, فأتاه رسول الله ص.م في المنام فقال:ائت عمر فأقرئه مني السلام, وأخبره أنهم يسقون, وقل له: عليك بالكيس الكيس, فأتى الرجل عمر فأخبرعمر فقال: يا رب ما ءالوا الا ما عجزت

Diriwayatkan dari Malik ad Dar-Seorang bendahara di zaman khalifah Umar-beliau berkata : Pada masa pemerintahan Umar masyarakat dilanda kekeringan lalu seseorang datang ke makam Nabi Saw dan berkata : Wahai Rasulullah pintakanlah hujan bagi umatmu sebab mereka sungguh telah binasa,tak lama kemudian Rasulullah saw mendatangi orang tersebut didalam mimpinya dan berkata : “Datangi olehmu Umar sampaikan dariku salam untuknya,dan kabarkanlah padanya sesunggunya mereka (orang-orang) akan diturunkan hujan bagi mereka, dan katakan padanya : Hendaklah engkau bersikap cerdas dan cerdas”.Kemudian orang itu menghadap Umar  RA dan memberitahukan kepadanya lalu Umar berkata : Wahai Tuhanku mereka tidak mengadu kecuali pada sesuatu yang diluar kemampuan.(HR.Ibnu Abi Syaibah dalam Mushanaf nya).
Hadits tersebut shahih, dan dishahihkan pula oleh al Hafidz Ibnu Hajar al Asqalani atas komentarnya dalam Fathul Bari sebagai berikut : Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari riwayatnya Abi Shalih as Sammani dari Malik ad Dar, dan hadits tersebut diriwayatkan juga oleh Saif dalam kitab “Fii Al Futuh” dan mengatakan bahwa seseorang yang bermimpi dalam hadits itu adalah salah seorang sahabat yang bernama Bilal bin al Harits al Muzni. Riwayat ini keshahihan sanadnyadiakui oleh Al Hafidz Ibnu Katsir dalam kitab “al Bidayah wa an Nihayah”,begitu pula parasenior dari kalangan huffadz ikut menshahihkan riwayat tersebut sehingga dianggap sah untuk dijadikan dalil bolehnya meminta sesuatu/berdoa melalui Nabi saw agar Allah menurunkan hujan,sementara doa orang tersebut dipanjatkan pada saat Nabi sudah wafat.

ان مالكا ض.ع لمل سأل ابو جعفر المنصور العباسي-ثاني خلفاء بني العباس-:يا ابا عبد الله”أأستقبل رسول الله ص.م وأدعو أم أستقبل القبلة وأدعو؟فقال له مالك:ولم تصرف وجهك عنه وهو وسيلتك و وسيلة أبيك أدم الى الله عز وجل؟بل استقبله واستشفع به فيشفعه الله

Sesungguhnya Imam Malik ra ketika ditanya oleh Abu Ja’far al Mansur al Abbas-Khalifah kedua dinasti Abbas : Wahai Abu Abdillah (Imam Malik) “Apakah saya harus menghadap Rasulullah saw dan berdoa atau menghadap kiblat dan berdoa? Lalu Imam Malik menjawabnya : Mengapa engkau memalingkan wajahmu dari Rasul saw padahal dia adalah perantaramu dan perantara bapakmu Adam as kepada Allah pada hari kiamat? Justru engkau harus menghadapnya dan memohon syafaat melaluinya kelak Allah akan memberikannya syafaat.
Dalam kisah ini ada isyarat bahwa hadits mengenai tawassulnya nabi Adam as diterima dan dianggap oleh Imam Malik, sehingga ia berpendapat bahwa menghadap makam Nabi saw dan meminta syafaat melaluinya merupakan suatu kebaikan. Dalam kitab “Fadhail Malik” Abu al Hasan Ali bin Fahar memuat kisah ini dan dalam kitab “asy Syifa” al Qadhi ‘Iyadh meriwayatkan kisah itu dari guru-gurunya yang tsiqot, begitu pula Imam as Subki mengisahkan dalam kitab “Syifa as Saqom”, as Samhudi dalam kitab “Wafa al Wafa” dan al Qasthalani dalam kitab “al Mawahib alLaduniyyah”.Ibnu Hajar al Haitsami memberikan komentar tentang  kisah ini dalam kitab “al Jauhar al Munadhdham” : Sungguh kisah ini diriwayatkan dengan sanad yang shahih, sebagaimana al Allamah az Zarqani pun telah memberikan komentar dalam kitab “Syarhul Mawahib” : Sesungguhnya Ibnu Fahar menyebutkan kisah tersebut dalam sanad yang hasan,sementara al Qadhi ‘Iyadh mengisahkan dengan sanad yang shahih. Al Allamah Asy Syaukani mempunyai pendapat tersendiri yang berbeda dalam masalah ini melalui penjelasannya yang sangat panjang di dalam kitab “al Fawaid”,secara ringkas penjelasan beliau dalam kitabnya “ad Dur an Nadhid fi Ikhlasi Kalimati at Tauhid” sebagai berikut : Bertawassul kepada Allah swt bukan melalui salah seorang makhlukNya dalam memanjatkan doa seorang hamba pada tuhannya sesuai perkataan asy Syaikh Izzuddin bin Abdi Salam : Bahwasannya tidak boleh bertawassul kepada Allah swt kecuali melalui Nabi saw dengan catatan jika ternyata hadits mengenai (tawassul kepada nabi saw) terbukti keshahihannya. Barangkali hadits yang beliau maksud adalah hadits yang dimuat an Nasai dalam kitab “as Sunan”nya dan dishahihkan oleh at Tirmidzi,Ibnu Majah dan yang lainnya.

أن أعمى أتى الى النبى ص.م فقال:يارسول الله انى أصبت فى بصرى فادع الله لي,فقال له النبى ص.م : توضأوصل ركعتين ثم قل : اللهم انى أسألك وأتوجه اليك بنبيك محمد,يا محمد اني أستشفع بك فى رد بصرى,اللهم شفع النبي في.وقال فان كان لك حاجة فمثل ذلك, فرد الله بصره

Sungguh seorang buta telah datang kepada Nabi saw dan berkata : Ya Rasulallah sesungguhnya aku mengalami gangguan dalam penglihatanku maka berdoalah untukku pada Allah,lalu Nabi berkata kepadanya : Berwudhulah engkau dan shalatlah dua rakaat lalu bacalah : Ya Allah aku memohon dan menghadap melalui NabiMu Muhammad,Wahai Muhammad sesungguhnya aku meminta syafaat melaluimu untuk mengembalikan penglihatanku,Ya Allah limpahkanlah syafaat Nabi untukku.Dan Nabi berkata : Bilamana engkau mempunyai suatu kebutuhan maka lakukanlah ini.Kemudian Allah mengembalikan penglihatan orang tersebut.
Dalam memahami makna tawassul melalui Nabi saw, ada dua pendapat:
1.Bahwa sesungguhnya tawassul itu adalah sebagaimana yang diungkapkan Umar bin Khattab dalam perkataannya : Sesunggunya kami disaat kekeringan menimpa,kami bertawassul kepadaMu ya Allah melalui Nabi kami lalu engkau menurunkan hujan bagi kami,dan sekarang sesungguhya kami bertawassul kepadamu melalui paman nabi.Hadits tersebut tercantum dalam shahih Bukhari dalam kitab yang lainnya,didalamnya terdapat perkataan Umar bin Khattab yang menjelaskan bahwa disaat nabi masih hidup,orang-orang bertawassul kepada Allah melalui Nabi disaat meminta hujan,kemudian setelah Nabi wafat,Umar sendiri bertawassul kepada Allah melalui paman Nabi yaitu al Abbas dimana pada saat itu khalifah Umar dan penduduk madinah meminta hujan dengan bertawassul kepada Allah swt melalui paman Nabi saw.
2.Sesungguhnya tawassul melalui Nabi saw boleh dilakukan baik pada waktu Nabi masih ada maupun setelah wafat,sedangkan bertawassul melalui orang selain Nabi setelah Nabi wafat telah ditetapkan oleh Ijma Sahabat secara Suquti (Tidak ada seorangpun dari para sahabat yang mengingkari cara Umar ra dalam hal bertawassul melalui al Abbas ra).
Menurut Prof.DR.Syekh Ali Jumah (Mufti Republik Arab Mesir) : Bahwa sesungguhnya tidak ada satupun dalil untuk mentakhsis (mengkhususkan) bolehnya bertawassul melalui Nabi saw seperti yang dipaparkan oleh Syekh Izzuddin bin Abdi Salam karena dua alasan berikut ini :
Pertama : Sebagaimana yang kita ketahui dari Ijma Sahabat raKedua : Bahwa bertawassul kepada Allah melalui orang yang memiliki keutamaan dan ilmu pada hakikatnya adalah bertawassul melalui amal-amal shalih mereka dan melalui keistimewaan-keistimewaan yang mereka miliki,sebab orang yang memiliki keistimewaan tidak mempunyai keutamaan kecuali karena amal-amalnya,oleh sebab itu apabila seseorang berdoa dengan doa : “Ya Allah sesungguhnya aku bertawassul kepadaMu melalui si Fulan yang alim”, maka orang alim yang dijadikan perantara tersebut disebabkan oleh keutamaan ilmunya.Karena dalam kitab “Shahih Bukhari Muslim” dan dalam kitab yang lainnya telah ditetapkan keshahihan sebuah kisah mengenai tiga orang yang terperangkap dalam gua yang mana masing-masing dari ketiga orang tersebut bertawassul kepada Allah melalui amalan yang istimewa yang pernah mereka lakukan sehingga mereka dapat keluar dari perangkap itu dengan selamat; oleh karena itu jika memang bertawassul melalui amal-amal yang utama tidak diperbolehkan atau berarti syirik seperti dalam pandangan orang-orang yang Mutasyaddid (keras) dalam masalah ini seperti Izzuddin bin Abdi Salam dan orang-orang yang sependapat dengannya dari kalangan para pengikutnya maka untuk mengingkari yang terjadi dalam hikayat tiga orang yang terperangkap dalam gua tersebut mereka tidak mempunyai dalil untuk menjawabnya. Dengan demikian ketahuilah bahwa dalil yang dilontarkan oleh orang-orang yang menolak tawassul melalui para nabi dan orang-orang shaleh seperti: Dalil dalam surat az Zumar ayat 3:

 مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىِ

“Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya”
Surat al Jin ayat 18 :

 فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدا

Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.
Surat ar Ra’du ayat 14 :

لَهُ دَعْوَةُ الْحَقِّ وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِهِ لاَ يَسْتَجِيبُونَ لَهُم بِشَيْءٍ

Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka.
Ayat yang pertama yaitu ayat 3 dalam surat az Zumar menjelaskan kesesetan perilaku musyrikin arab karena mereka menyembah berhala untuk mendekatkan diri kepada Allah,sedangkan orang yang bertawassul melalui orang alim misalnya,dia tidak bermaksud menyembahnya tapi dia mengetahui bahwa orang alim tersebut memiliki keistimewaan disisi Allah karena keluhuran ilmunya maka dia bertawassul melaluinya. Dan pada ayat yang kedua yaitu surat al Jin ayat 18 terdapat  larangan berdoa kepada selain Allah disamping berdoa kepadanya seperti ucapan seseorang : Aku memohon kepadaMu ya Allah dan memohon kepadamu wahai Fulan, sedangkan orang yang bertawassul semisal melalui orang alim, dia tidak memohon kecuali pada Allah sedangkan yang dijadikan perantara olehnya adalah amal soleh yang telah dilakukan oleh sebagian hamba-hambaNya sebagaimana telah bertawassul ketiga orang yang terperangkap dalam gua melalui amal-amalnya yang baik.
Dan ayat 14 dari surat ar Ra’du berkenaan dengan orang-orang yang meminta kepada makhluk yang tidak memiliki kemampuan untuk mengabulkan sedangkan tuhan mereka yang dapat mengabulkan permintaan, sama sekali tidak mereka sembah. Sedangkan orang yang bertawassul melalui orang alim tidak menyembah kecuali Allah tidak pula menyertakan yang lain dalam berdoa kepada Allah; dan apabila kita memahami hal ini maka dalil-dalil yang diutarakan oleh orang-orang yang melarang bertawassul dapat kita bantah dengan mudah karena mereka yang melarang tawassul sering menggunakan dalil-dalil yang keluar dari permasalahan ini contohnya larangan mereka berdalil ayat 17

وَمَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ

Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?
18

ثُمَّ مَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ

Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?
19

يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِّنَفْسٍ شَيْئاً وَالْأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لِلَّهِ

(Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah.
Padahal ayat yang diatas hanya menerangkan bahwa Allah swt sajalah yang mempunyai/menguasai urusan di hari kiamat tidak ada yang lainNya; sedangkan yang bertawassul melalui salah satu dari para nabi atau melalui salah seorang dari para ulama dia tidak meyakini bahwa orang yang dijadikan perantaranya itu bekerja sama dengan Allah dalam menentukan suatu urusan di hari kiamat dan barangsiapa yang meyakini hal itu terhadap salah seorang hamba baik kepada Nabi atau kepada yang lainnya maka dia dalam keadaan sesat yang nyata.
Begitu pula berdalil untuk melarang tawassul dengan firman Allah surat Ali Imran ayat 128 :

لَيْسَ لَكَ مِنَ الأَمْرِ شَيْء

Tidak ada sekikitpun campur tanganmu (muhammad).
Surat al A’raf ayat 188 :

قُل لاَّ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعاً وَلاَ ضَرّا

Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan.
Karena sesungguhnya kedua ayat diatas menerangkan secara jelas bahwa Rasul saw tidak dapat menentukan urusan Allah sedikitpun dan dia tidak dapat mendatangkan manfaat ataupun madharat untuk beliau sendiri dan bagaimana mungkin untuk orang lain,akan tetapi dalam kedua ayat diatas tidak terdapat larangan bertawassul melalui nabi atau melalui yang lain dari kalangan para nabi,para wali atau para ulama;Bagi Rasulullah saw sendiri Allah telah memberikan “al Maqom al Mahmud” yaitu maqam syafaat yang ‘udzma (agung) dan Allah telah memerintahkan umat manusia untuk meminta syafaat pada hari kiamat dari Nabi saw.Dalam potongan hadits Anas bin Malik yang diriwayatkan Imam Muslim,Allah berkata kepada Nabi saw : “Wahai Muhammad mintalah tentu engkau akan diberi dan mintalah syafaat tentu engkau akan mendapatkannya…..”.
Dan didalam al Quran dikatakan bahwasannya syafaat tidak terjadi kecuali atas izin Allah dan tidak dimiliki kecuali bagi orang yang diridhoi Allah swt.Begitu pula menjadikan dalil larangan bertawassul dengan firman Allah dalam surat asy Syu’ara ayat 214 :

وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ

Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat,
Ayat ini tidak bisa dijadikan dalil untuk melarang tawassul,menurut Imam asy Syaukani ayat ini menyatakan dengan jelas bahwa Nabi saw tidak mampu memberi manfaat kepada orang yang Allah kehendaki untuk mendapat madharat dan Nabi tidak mampu memberikan madharat bagi seseorang apabila Allah memberikan manfaat untuknya,dan bahwasannya Nabi saw tidak memiliki keunggulan atas Allah sedikitpun bagi salah seorang kerabatnya dan bagi yang lainnya,hal tersebut sudah lazim dipahami oleh setiap muslim dan tidak berarti dalam pemahaman tersebut terdapat larangan untuk bertawassul kepada Allah melalui Nabi saw,karena tawassul itu meminta suatu urusan kepada Dzat yang memiliki perintah dan larangan (Allah swt),sehingga dalam prakteknya,orang yang meminta sesuatu menyampaikan permohonannya dihadapan Nabi saw hanya sebatas ingin menjadikannya sebagai penyebab agar permohonannya dikabulkan oleh Dzat yang berkuasa untuk memberi dan menolak Penguasa di hari kiamat yaitu Allah swt.
Semua dalil-dalil dari al Quran dan as Sunnah yang tercantum diatas serta keterangan-keterangan yang lainnya menjadi dasar dan pegangan bagi kesepakatan para ulama madzhab yang empat bahwa bertawassul melalui Nabi saw semasa beliau masih hidup dan sesudah wafat,hukumnya boleh dan dianjurkan,mereka bersepakat bahwa hal tersebut disyariatkan secara Qath’i tidak ada pengharaman baginya karena tawassul itu merupakan suatu cara supaya kita dapat mendekatkan diri kepada Allah swt. Sebagaimana bertawassul melalui Nabi saw hukumnya Mustahab maka memakai salah satu bentuk (shigot) doa bertawassul kepada Allah swt hukumnya Mandub (disunnahkan). Adapun orang Begitu pula halnya dengan masalah hukum bertawassul melalui Ahlu Bait (keluarga rasul) dan melalui para wali Allah yang shaleh tidak diharamkan karena jumhur ulama berpendapat bahwa hal tersebut telah disyariatkan.
Dan Bagaimanakah menurut anda………………..?????

By: Asep Syahrulloh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fifteen − 6 =