Lokasi
Pendiri & Penerus
Statistik Web
  • 56052Total visitors:
  • 41Visitors today:
  • 68Visitors yesterday:
  • 526Visitors last week:
  • 1362Visitors per month:
  • 69Visitors per day:
  • 1Visitors currently online:

Singa Tasikmalaya

KH Zainal Mustafa, Singa dari Singaparna

Oleh: Abid Muaffan

Singaparna, mendengar namanya mungkin kita akan terngiang pada suatu daerah yang pernah terjadi peristiwa heroik santri melawan penjajah, terlebih saat kita memasuki sebuah kampung Sukamanah yang cukup melegenda di benak masyarakat Kabupaten Tasikmalaya.

Sukamanah memang tak ubahnya kampung pada umumnya yang berdiri di tengah hamparan pematang sawah, namun dusun yang saat ini masuk wilayah administratif Desa Sukarapih Kecamatan Singaparna Kabupaten Tasikmalaya menyimpan sejarah perlawanan rakyat melawan penjajahan yang dikomandoi oleh ulama yang masyhur, beliaulah Asy-Syahid KH. Zainal Musthafa. Lalu bagaimana kisah inspiratif KH. Zainal Mustofa, dari kelahiran, masa menuntut ilmu, perjuangan heroik sampai kisah pesantren peninggalannya. Simak penelusuran kami langsung dari Kampung Sukamanah, Tasikmalaya sebagai basis perjuangan melawan kolonialisme dengan syiar kalimah Illahi.

*Lahir dan Masa Belajar Sang Ulama Pejuang*

Zainal Musthafa dimasa kecilnya dikenal dengan panggilan Umri. Beliau dilahirkan pada tanggal 1 Januari 1901. Ayahandanya bernama Nawapi, seorang petani muslim di Kampung Bageur-Cimerah, Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat. Sementara ibunya bernama Ratmah, seorang ibu rumah tangga.

Sebagaimana penuturan Ajengan Yusuf Hazim, cucu KHZ disebutkan Umri mulai belajar serius belajar ilmu-ilmu Islam di Pesantren Gunung Pari yang dipimpin oleh KH. Zainal Muttaqien. Terdapat kisah menarik dimana saat itu KH Zainal Muttaqin berkata kepada para santrinya bahwa akan datang ulama besar ke Gunung Pari. Calon ulama tersebut ternyata adalah KHZ yang saat itu masih terhitung belia.

Setelah 7 tahun nyantri di Gunung Pari, KHZ melanjutkan studi ke Pesantren Cilenga, Singaparna. Kecerdasannya yang menonjol membuatnya dipercaya sebagai asisten pengasuh pesantren

“Di pesantren ini jugalah beliau mulai menanamkan keinginan agar suatu saat bisa mendirikan dan mengelola pesantren. Keinginannya itu di kemudian hari akhirnya dapat terwujud” Kata Ajengan Yusuf yang merupakan putra dari Almarhum KH. M. Fuad Muhsin dan Ibu Nyai Hj. Siti Sofiyah, putri Almarhum KH. Zainal Mustofa (KHZ).

Selepas menyantri di Cilenga, Hudaemi melanjutkan ngaji ke Pesantren Jamanis, kemudian ke Pesantren Sukaraja, Garut. Setelah itu KHZ meneruskan belajar ke Pesantren Sukamiskin, Bandung. Di pesantren inilah, Umri mengubah nama menjadi Hudaemi. Setelah puas belajar di pesantren Sukamiskin ini barulah Hudaemi kembali ke Tasikmalaya.

*Mendirikan Pesantren*

Pada tahun 1927 Zainal Musthafa muda mendirikan sebuah pesantren di Kampung Cikembang dengan nama Pesantren Sukamanah. Nama kampung Cikembang berganti Nama menjadi kampung Sukamanah. Pesantren Sukamanah didirikan di atas tanah wakaf untuk rumah dan mesjid dari seorang janda dermawan bernama Hj. Juariyah.

Dalam usia 26 tahun, usia yang sangat muda Zainal Musthafa telah mendirikan pesantren dan menunaikan ibadah haji pada tahun 1928 yang dibiayai pula oleh Hj. Juariyah. Pada momentum ini ia mengubah namanya menjadi Zainal Mustafa yang bermakna orang terbaik dari orang yang terpilih.

Sekembali dari Mekkah, KH Zainal Musthafa melakukan aktivitas keilmuan, di antaranya, menerjemahkan Al-Qur’an dan kitab-kitab lain ke dalam bahasa Sunda. Bahkan beliau dikenal pelopor pengalih bahasaan naskah-naskah berbahasa Arab ke dalam bahasa Sunda. Meski begitu kepada para santrinya, KH Zainal Musthafa tetap mewajibkan bahasa Arab sebagai bahasa utama yang dipelajari dalam belajar ilmu-ilmu Islam.

Di pesantrennya juga diajarkan Sejarah Indonesia dengan materi kecintaan dan pembelaan Tanah Air. Karena langkahnya ini KH Zainal Mustafa diawasi polisi intelijen kolonial (Politieke Inlichtingen Dienst). Prinsip yang dipegangnya adalah hubbul wathon minal iman; cinta tanah air adalah bagian dari iman.

Selama 17 tahun mengasuh pesantren, beliau mampu mencetak beratus-ratus santri yang alim dan banyak berkiprah di masyarakat. Konon saat itu telah bermukim 600-700 santri dari berbagai pelosok yang ditempatkan di 6 asrama. Ada pula santri non-mukim atau dikenal dengan santri kalong yang jumlahnya puluhan kali lipat dari santri mukim.

Zainal Musthafa semasa hidupnya menjalani bahtera rumah tangga bersama tiga perempuan, yakni Nyai Enoh Sukaenah, Nyai Ganda dan Nyai Kuraisin. Dari ketiga istri tersebut beliau dikaruniai tiga putra dan tiga putri.

*Dipenjara Belanda dan Menolak Seikerei*

Zainal Musthafa adalah anggota organisasi Islam tradisional Nahdlatul Ulama (NU). Jabatan yang dipercayakan sebagai Wakil Syuriah NU Tasikmalaya. Di masa itu, NU merupakan organisasi Islam yang berani bersikap kritis dan mengecam beberapa kebijakan pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Demikian halnya dengan KH Zainal Musthafa. Beliau pernah melontarkan kritik terhadap Ordonansi Guru tahun1925. Peraturan pemerintah kolonial lain seperti wewenang pencatatan nikah dan waris oleh Landraad (Pengadilan Kolonial), program Milisi Bumiputera (Indische Werbaar), dan Artikelen 177 dan Artikelen 178 Indische Staatreegeling tentang hak istimewa yang diberikan kepada kaum Kristen, juga tidak luput dari kritik dan kecamannya.

Pemerintah kolonial jelas terganggu dengan kritik-kritik itu. Pada 17 November 1941 KH. Zainal Musthafa bersama KH. Ruchiyat (Pendiri Pondok Pesantren Cipasung, Singaparna Tasikmalaya) KH. Sirodj, Hambali, dan Syafii ditangkap dan dimasukkan ke penjara Tasikmalaya, kemudian dipindah ke penjara Sukamiskin, Bandung dan baru bebas pada 10 Januari 1942.

Meski kemudian dibebaskan, tapi kecamannya terhadap pemerintah kolonial tetap saja dilontarkan. Akibatnya, bersama KH. Ruhiyat, beliau kembali ditangkap pada Februari 1942, dan ditahan di penjara Ciamis.

Situasi politik berubah cepat. Pada 8 Maret 1942 pemerintah kolonial Hindia Belanda menyerah tanpa syarat kepada balat tentara Jepang di Kalijati, Subang, Jawa Barat. Selanjutnya yang mejadi penguasa di Indonesia adalah Jepang.

Pada 31 Maret 1942 Jepang membebaskan semua tahanan politik yang sebelumnya ditahan Belanda, termasuk KH. Zainal Musthafa. Jepang nampaknya ingin bekerja sama dengan beliau dan para kiai lain di Tasikmalaya dan wilayah Priangan Timur. Tapi KH Zainal Musthafa tidak berkenan dengan ajakan tersebut dan lebih memilih mengurusi pesantren.

Beliau menolak bekerja sama karena salah satu alasannya adanya ketentuan Seikerei, yaitu sikap membungkuk ke arah timur di pagi hari sebagai penghormatan terhadap Kaisar Jepang (Tenno Haika). Gerakan Seikerei ini mirip gerakan ruku’ dalam shalat. Tidak hanya sebagai penghormatan, Seikerei juga sebagai pengakuan bahwa Kaisar Jepang adalah keturunan “Dewa Matahari” (Ameterasu). Dalam ajaran Islam tindakan itu berarti syirik (menyekutukan Allah SWT).

Suatu pagi, para ulama se-Tasikmalaya dikumpulkan oleh Jepang di Lapangan Kawedanan Singaparna. Disana mereka dipaksa untuk melakukan seikerei dengan todongan senjata. Seluruh kyai akhirnya terpaksa melakukan perbuatan tersebut , terkecuali KH. Zainal Musthafa yang masih kukuh berdiri seraya berkata pada kyai lainnya. “Ulah Jang!!! Nukitu teh musyrik” (Jangan dilakukan!!! perbuatan yang begitu itu musyrik) Dan sejak itulah beliau menjadi incaran Jepang. Begitulah penuturan Ajengan Yusuf yang mengenang keberanian kakeknya tersebut.

Sejak kejadian tersebut, Pihak Jepang selalu memperhatikan gerak-gerik KH. Zainal Musthafa. Suatu ketika Jepang sempat mencoba merayu KH Zainal Musthafa dengan jabatan anggota Sandenbu (Badan Propaganda) di Priangan Timur. Namun tawaran ini kembali ditolaknya. Karena disamping jauh berbeda idiologinya, kiyai lebih memilih rakyat dibanding jabatan atau memperkaya diri. Dan Karena kekukuhan itu, Jepang menempatkan polisi rahasia (Kenpeitai) untuk mengawasi kegiatan Pesantren Sukamanah dan KH Zainal Musthafa.

Suatu hari Pesantren Sukamanah didatangi 3 kompetei (tentara) bersama warga pribumi sebagai penerjemah. Disana mereka langsung merangsek masuk pesantren dan meminta bertemu KH. Zainal Musthafa. Di hadapan kiyai, mereka meminta tunduk ke permintah jepang.

Melihat hal itu dengan lantang beliau justru berkata “Bukan saya yang harus tunduk, kami ini adalah asli penduduk indonesia sedangkan kalian hanyalah pendatang yang menyengsarakan bangsa ini”

Sontak penolakan itu dibalas dengan tembakan jarak dekat oleh perwira Jepang. Namun dengan ke Agungan Alloh semata, serangan tersebut tak melukai sedikitpun tubuh beliau. Justru dengan lantang seraya mengatakan ” Hancur siah jepang ” (Hancurlah Jepang) yang diucapkannya dalam bahasa Sunda. Doa ini ternyata terkabul di tahun selanjutnya setelah Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu setelah dibom atomnya dua kota utama Jepang, yakni Kota Hiroshima (6 Agustus 1945) dan Kota Nagasaki (9 Agustus 1945).

Selanjutnya  tentara jepang tadi malah menjadi bulanan-bulanan para santri yang menyebabkan nyawa ketiganya melayang. Sementara sang penerjemah yang tadi dilepaskan dan segera melarikan diri.

Hal lain yang membuat beliau benci pada Jepang adalah tindakan kejam terhadap rakyat Indonesia. Seperti pembunuhan, pemerkosaan dan banyak lagi perlakuan penjajah jepang yang menyengsarakan Rakyat Indonesia. Terlebih saat Badan Pangan Jepang yang bernama Kumiai, bertindak melampaui batas dengan merampas hampir semua hasil panen dan pangan pangan milik rakyat. Akibatnya bencana kelaparan terburuk sepanjang sejarah terjadi di hampir masyarakat pedesaan.

Para santri juga terkena dampak karena mereka tidak bisa lagi membawa bekal sebab persediaan beras di rumah orang tua habis dijarah Jepang, atau bekal dirampas di pos pemeriksaan Jepang di Kudang, Singaparna. Agar beras mereka aman dari penjarahan Jepang, maka rakyat Tasikmalaya banyak yang diam-diam menitipkan berasnya di Sukamanah.

Kegeraman KH Zainal Musthafa terhadap Jepang mulai muncul tidak lama setelah Tentara ke-16 Kekaisaran Jepang menduduki wilayah Jawa dan membentuk pemerintahan militer. Disebutkan pada tahun 1943 KH Zainal Musthafa diam-diam melakukan persiapan perlawanan. Untuk tujuan ini, telah dilakukan kontak dengan beberapa pesantren di Tasikmalaya.

Selain itu juga dilakukan hubungan dengan kesatuan batalyon PETA (Pembela Tanah Air) yang dipimpin Daidancho Maskun. Nama terakhir ini disebut memiliki hubungan yang erat dengan Pesantren Sukamanah yang dipimpin KH Zainal Musthafa. Daidanco Maskun berjanji bahwa ia dan anak buahnya akan datang ke Sukamanah untuk memberi pelatihan militer untuk para santri. Rupanya hubungan dan rencana itu tercium pihak Jepang. Tidak lama kemudian kesatuan tentara PETA dipindahkan ke bagian selatan wilayah Tasikmalaya.

KH Zainal Musthafa pun tahu persis pihak Jepang telah dan selalu mengawasinya bahkan mengancamnya. Meski begitu suara-suara keras tetap saja ditujukan kepada Jepang. Beliau dan para santri siap dengan semua kemungkinan. Persiapan yang dilakukan adalah membentuk barisan santri dan rakyat untuk melindungi area pesantren. Jumlahnya sebanyak 509 orang.

*Perlawanan di Hari Jum’at*

Bagi KH Zainal Musthafa dan para santrinya, mereka bersikap akan melawan jika Jepang menyerang meski sadar bahwa Jepang sangat kuat dan kejam. Namun dengan keyaqinan penuh kepada Alloh yang tidak akan pernah dikalahkan oleh makhluk. Kiyai bersama para santrinya berharap akibat perlawanannya ini adalah mudah mudahan Alloh memberikan yang terbaik bagi agama dan bangsa di negeri ini.

Rabu, 23 Februari 1944 Jepang mengirim utusan ke pesantren. Mereka mengancam KH Zainal Musthafa dan para santrinya. Jika sampai Hari Senin (28/2) beliau tidak menyerah maka Jepang akan meluluh lantahkan Pesantren Sukamanah.

Tak sampai senin, ternyata esoknya (24/2), Jepang mengerahkan pasukan Kempetai yang dipimpin pejabat lokal yang memihak Jepang seperti Camat Cakra wilaksana, Sastramaun (Lurah Cimerah), Suhandi (juru tulis), dan Muhri (Kepala Kampung Punduh). Tujuan mereka satu yakni ingin meringkus KH. Zainal Musthafa. Maka bentrok fisik dengan para santri pun tak terelakkan. Bahkan dalam pertempuran tersebut beberapa butir sempat mengenai KH. Zainal Musthafa namun ke Agungan Alloh tetap terjadi, peluru-peluru itu tidak mampu menembus kiyai, bajunya sekalipun. Salah satu santri KH. Zainal Musthafa  bernama Mang Ipok bahkan sempat dibombardir jarak 3 meter oleh Senapan Mesin tentara Jepang. Namun aneh yang hancur hanya bajunya saja meski diberondong tak kurang 50 peluru.

Santri lain, yakni Ajengan Makmur dikisahkan mampu membunuh dengan pedang bambunya,3 truk pasukan jepang dari 31 truk yang dikirim pemerintah jepang ke Sukamanah. Walaupun akhirnya ajengan wafat karena kehabisan nafas setelah membantai tentara Jepang.

Begitulah memang KH. Zainal Musthafa menanamkan ketauhidan pada santrinya bahwa tidak ada kekuatan selain daripada Allah SWT Yang Maha Tak Terkalahkan. Dalam sebuah kesempatan Kiyai berkata: Yakinkanlah Alloh adalah Maha Besar  Gagah dan Perkasa dari pada musuh yang kita hadapi. Tanamkanlah dengan sekuat-kuatnya dihati bahwa Alloh adalah dekat dan akan selalu memberikan pertolangn untuk hambaNYA yang mempertahankan dan menolong agamaNYA. Alloh pasti memberikan yang terbaik untuk kita semua. Begitulah Kiyai selalu menanamkan totalitas akan keyakinan dan kepasrahan kepada Allah SWT semata.
Setelah beberapa saat, Jepang pun mundur dan senjata-senjata mereka berhasil direbut yaitu 12 senapan, 3 pucuk pistol, dan 25 senjata tajam. Namun senjata-senjata itu disimpan dan tidak digunakan. Salah satunya rampasan tersebut adalah Bayonet yang sampai sekarang masih tersimpan di rumah pengasuh pesantren. Peninggalan perang lainnya adalah pedang bambu. peninggalan perang yang begitu tajam yang juga ditempatkan di kediaman KH. A Thohir Fuad, cucunya (Sekarang Pimpinan Pesantren). Pedang bambu yang itulah yang menjadi senjata utama pasukan Santri Sukamanah.

*Serangan Puncak*

Dan ternyata benar, esok harinya 25 Februari 1944 bertepatan dengan 1 Rabiul Awwal 1363 H sebelum pelaksanaan Shalat Jum’at, KH Zainal Mustafa menyampaikan bahwa balatentara Jepang sedang dalam perjalanan ke Sukamanah. Hal itu terekam dari mata batinnya yang cukup tajam. Saat itu beliau dengan lantang mengatakan

“Siap barudak!!! musuh geus di kudang” (Semua santri siap!!! musuh sudah di Kudang, Singaparna)

Kemudian Kiyai memberi kebebasan pilihan jika ada santri memilih mengundurkan diri atau pulang ke kampung masing-masing. Namun justru semua santri ternyata lebih memilih ikut melawan. Kecuali beberapa orang santrinya yang lebih dipilih kiyai untuk tidak ikut perang. Seperti KH. A Wahab Muchsin (Penerus Pesantren Sukahideung), KH. Fuad Muchsin (Penerus Pesantren Sukamanah) dan yang lainnya, dengan harapan santri-santri yang terpilih itu mampuh meneruskan perjuangannya dengan sarana pendidikan islam yang dirintis dan dibangunnya serta ilmu-ilmu yang telah diwariskannya.
Setelah Sholat Jum’at, Jepang mengepung rapat pesantren dan masjid. KH Zainal Musthafa meminta jamaah tenang dan mengambil senjata pedang dari bambu yang telah disiapkan.

Setelah itu pasukan kecil Kempeitai turun dari Gunung Bentang untuk menuju areal pesantren. Disana seorang perwira Jepang memaksa agar berbicara di masjid. Namun saat di atas mimbar justru nada bicaranya begitu congkak sambil mengancam KH Zainal Mustafa akan dihukum berat.

Perwira Jepang itu membujuk lagi; KH Zainal Musthafa agar tunduk ke Jepang dan beliau tidak akan dihukum. Jamaah pun semakin tersulut saat perwira Jepang tersebut mengatakan bahwa jika ada satu orang Jepang mati maka harus ditebus seribu nyawa orang Indonesia.

Suasana pun berubah gaduh, dan Jepang telah bersiap. Saat itu juga KH Zainal Musthafa mengeluarkan komando perlawanan, terlebih saat Jepang telah melewati garis yang telah dibuat oleh Kiyai sebagai penanda perlawanan. Begitulah Kiyai meski dalam kondisi terdesak beliau masih cukup sportif dalam peperangan.
Dan setelah masuk garis medan perang, pertempuran dahsyat pun tak terelakkan. Prof. Mansyur Suryanegara dalam Api Sejarah 2 memaparkan fakta bahwa saat itu Jepang mengirimkan ratusan tentara baik dari Balatentara mereka maupun Polisi Pribumi. Tank-tank tampak berjajar dari Sukamanah sampai Singaparna. Pesantren pun dikepung dari tiga arah; selatan, timur, dan utara.

Menjelang Ashar, Jepang dengan menggunakan kendaran lapis baja berusaha menerjang pesantren. Mereka juga sengaja memaksa beberapa penduduk desa berdiri di barisan depan.

Cara licik ini membuat para santri menjadi ragu karena berhadapan dengan bangsa sendiri. Melihat hal ini Kiyai memerintahkan untuk tidak melakukan perlawanan dulu.

Tentara Jepang sempat tertahan karena rintangan yang dipasang di jalan. Sementara di pesantren dibuat barikade tumpukan batu. Di tengah riuhnya tembakan, para santri dan penduduk desa menghadapi serangan dengan persenjataan seadanya seperti golok, pedang, parang, bambu runcing, dan batu. Duel jarak pendek pun terjadi.

Dalam perang yang berpusat daerah Cimerah tersebut, korban dari kalangan santri berjumlah 86 orang dan dimakamkan dalam satu liang lahat yang tempatnya tidak jauh dari Pesantren Sukamanah (Sekarang Makam Pahlawan Nasional KH. Zainal Musthafa Sukamanah), sementara lebih 300 orang pasukan jepang yang diangkut oleh 31 truk meregang nyawa. Dikisahkan bahwa sala seorang jasad mereka ada yang sempat dikuburkan di pemakaman Sukamanah sebelum dibongkar untuk kemudian dipindah ke areal makam pahlawan Jepang dalam perang Asia Timur Raya.

Karena ternyata musuh yang mati itu banyak dari bangsa kita, Kiyai dan para santri pun mundur ketika hari menjelang malam. Selain mencari tempat yang aman untuk pertahanan, Kiyai menghentikan perang karena takut para Heiho (tentara Jepang dari kalangan pribumi) masih suka mengerjakan sholat.

Dalam wawancara kami sebelumnya bersama salah seorang cucu KH. Zainal Musthafa lainnya disebutkan bahwa selama penyisiran 26-28 Februari 1944 banyak penduduk desa disekitar pesantren yang ditangkap tentara Jepang. Bahkan terdapat kisah memilukan saat penangkapan tersebut, darah syuhada’ mengalir membanjiri jalanan dekat pesantren sampai terdapat suatu kampung yang dinamakan Taneuh Beureum atau Tanah Merah karena disana berceceran darah para pejuang.

Sebenarnya KH. Zainal Musthafa sempat akan berunding untuk mencari jalan terbaik dengan mereka, namun justru dikhianati oleh Jepang dengan menangkapnya. Hal ini mengingatkan kita pada kisah Raden Mas Ontowiryo yang lebih dikenal dengan Pangeran Diponegoro, Pemimpin Perang Jawa (1825-1830) yang ditangkap Belanda saat menghadiri perundingan damai setelah sebelumnya anak istrinya ditangkap oleh Kompeni.

Selanjutnya pada Malam sabtu setelah penyerbuan beliau dibawa ke Penjara ciamis, kemudian dipindahkan ke Penjara Sukamiskin Bandung sebelum akhirnya mendekam di penjara Ancol, Jakarta
Kedatangan rombongan KH. Zainal Musthafa membuat penjara menjadi penuh, dan Kiyai sendiri menjalani proses interogasi selama 3 bulan. Interogasi itu dilakukan dengan siksaan-siksaan berat. Mulai dari pukulan, ditarik truk bergerak sampai dilintas mesin “slender”. Namun tetap ke Agungan Alloh terjadi, anehnya tak sedikitpun darah mengucur dari tubuh Kiyai. Hal ini menyebabkan Jepang pusing memikirkan cara membunuh Kiyai.

Secara politik, akibat yang ditimbulkan dari meletusnya perlawanan itu membuat pemerintah militer (Gunseikan-bu) Jepang di Jakarta merasa was-was karena khawatir perlawanan seperti itu akan ditiru kyai-kyai lain. Hal ini dikarenakan pada masa itu Gunseikan-bu Jepang sedang aktif melakukan upaya mendekati dan menarik simpati kaum islam Indonesia, khususnya kaum islam tradisional. Maka Jepang kemudian mencopot Kepala Shumubu (Kantor Departemen Agama masa Jepang) yang berlatar belakang priayi yaitu Prof. Dr. Hussein Djajadiningrat. Dalam sebuah versi yang bersangkutan dianggap gagal terkait dengan meletusnya perlawanan KH Zainal Musthafa itu.

Untuk selanjutnya jabatan Kepala Shumubu atau Shumubu-cho dipercayakan kepada KH Hasyim Asy’ari, seorang kyai kharismatik pendiri Nahdlatul Ulama dan pimpinan Pondok Pesantren Tebuireng, Cukir, Jombang, Jawa Timur. Ada penilaian, pengangkatan KH Hasyim Asy’ari sebagai Shumubu-cho, tidak lebih sebagai ketakutan terselubung Jepang yang tidak menginginkan timbulnya kembali perlawanan masif rakyat dan umat Islam Indonesia.

Karena jika hal itu terjadi, semakin berat beban yang ditanggungnya. Di satu sisi, mereka (Jepang) berhadapan dengan perlawanan rakyat dan umat Islam Indonesia, dan di sisi lain mereka juga sedang terdesak oleh gerak maju pasukan Sekutu dalam Perang Dunia II di Asia-Pasifik.

Hingga Indonesia merdeka, keberadaan KH Zainal Musthafa masih kabur. Barulah pada tahun 1970 didapatkan keterangan dari Kolonel Syarif, Petinggi TNI yang pernah menemukan dokumen di perpustakaan negeri Belanda yang mengabarkan perlawanan KH. Zainal Musthafa di Tasikmalaya. Disitu terdapat kabar bahwa KH Zainal Musthafa dan para santri telah dibunuh Jepang pada 25 Oktober 1944. Bersama 16 pejuang lain beliau dihukum mati dengan dikubur hidup-hidup dan kemudian dimakamkan di Ancol, Jakarta Utara.

Pada 23 Maret 1970 keberadaan makam para syuhada bangsa itu ditemukan, yakni di Pemakaman Evengeld, Ancol, Jakarta Utara. Makam yang sempat diatasnya sempat ditancapkan tanda salib untuk kamuflase ini kemudian dipindahkan ke Makam Pahlawan Sukamanah, Tasikmalaya, pada tanggal 25 Agustus 1973. Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa saat dipindahkan ke Tasikmalaya jasad beliau masih utuh meski hampir 30 tahun dikebumikan. Saat diangkat jenazahnya terlihat beliau sedang posisi duduk diatas paku-paku yang dipasang tentara jepang dengan posisi tangan memangku kedua lutut. Bahkan sorban serta baju, dan jubahnya masih tetap utuh. Subhanallah.

Sebagai pengakuan atas perjuangannya, pemerintah Republik Indonesia pada tanggal 6 Nopember 1972 menganugerahi KH Zainal Musthafa sebagai Pahlawan Nasional sesuai Surat Keputusan Presiden No. 64/TK/Tahun 1972 dan setiap tanggal 25 Pebruari diperingati haul beliau yang diisi berbagai kegiatan islam.
*Pesantren KH. Zainal Mustafa Masa Kini*

Sebagaimana disampaikan Ajengan Azi, salah seorang buyut KH. Zainal Musthafa, Sepeninggal buyutnya, pada tahun 1950 kepemimpinan pesantren dilanjutkan oleh putra menantu beliau KH. Muhammad Fuad Muhsin bin KH. Zainal Muhsin dibantu KH. U Abdul Aziz dibawah bimbingan kakakya KH. Wahab Muhsin (Dikisahkan bahwa KH.A Wahab Muhsin adalah keturunan KH. Zainal Muchsin yang dilarang oleh beliau untuk ikut perang agar dapat meneruskan perjuangan pesantren Sukahideung) Perlu diketahui bahwa KH. Zainal Musthafa mempunyai saudara angkat yakni KH. Zainal Muchsin yang mendirikan pesantren Sukahideung, Tasikmalaya.

Buyut KH. Zainal Mustafa ini mengatakan bahwa sejak tahun 2003 tampuk kepangasuhan pesantren diemban oleh KH. Drs. A Thahir Fuad. Dibawah kepemimpinan beliau pesantren yang berada di naungan Yayasan KH. Zainal Mustafa ini selain menyelenggarakan pendidikan islam ala pesantren juga membuka progam pendidikan formal seperti Taman Kanak-Kanak, Madrasah Ibtidaiyyah, SMP, SMA. Selain itu juga berdiri MTsN dan MAN Sukamanah yang didirikan atas kerjasama pesantren dengan Kementrian Agama. Dan saat ini telah bermukim tak kurang 1500 santri dari berbagai daerah yang mana kelak merekalah yang menjadi kader perjuangan KH. Zainal Musthafa untuk mendakwahkan islam ahlus sunnah wal-Jama’ah.
Dan untuk mengenai jasa dan kisah heroik perjuangan KHZ., maka dibuatlah film yang diproduksi oleh Sultan 21 Pictures. Dalam film perjuangan tersebut diramaikan oleh beberapa artis tanah air seperti Ali Zainal, Toro Margens, Krisni Dieta, Tahtania Regina,Annisa Shifa dan Yusuf Hazim (Dari keluarga Pesantren). Drama film berjudul ‘ASY SYAHID KH. ZAINAL MUSTHAFA’ ini disutradarai oleh Bara Bantalaseta yang sekaligus berperan sebagai penulis naskah dalam film tersebut. Sedangkan produser film religi ini adalah Agus Herdi. Film ini telah dirilis di bioskop tanah air sejak 1 Maret 2018 ini.

Begitulah kisah singkat perjuangan KH. Zainal Musthafa yang dapat kita ambil banyak pelajaran. Bahwa ulama di zaman tersebut, tak hanya berdakwah lewat lisan atau tulisan saja tetapi mempertaruhkan nyawapun dilakukan jika bangsanya terancam. Sungguh benar jika cinta tanah air itu bagian dari iman, karena dengan membela tanah air kita juga turut menyelamatkan agama islam itu sendiri. Maka sudah sepantasnya kita harus selalu mengenang perjuangan ulama dan para pejuang yang telah merelakan nyawa serta hartanya untuk merebut serta mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. JAS HIJAU (Jangan Sekali-Sekali Hilangkan Jasa Ulama’)

Semoga Bermanfaat

Website: https://www.pstkhzmusthafa.or.id/

Malang, 12 Agustus 2018

Abid Muaffan

Santri Backpacker Nusantara

Disarikan dari pengamatan langsung, wawancara dengan cucu KHZ dan tambahan dari berbagai literatur

Copyright Pesantren di Tasikmalaya : PESANTREN KHZ MUSTHAFA SUKAMANAH

One Response to Singa Tasikmalaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *